Sisingamangaraja XII, Raja yang Pertahankan Tanah Batak hingga Titik Darah Terakhir

Robert Fernando H Siregar, Okezone · Selasa 20 Agustus 2019 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 19 337 2093896 sisingamangaraja-xii-raja-yang-pertahankan-tanah-batak-hingga-titik-darah-terakhir-bwzhy1mpx8.jpg Kompleks Makam Sisingamangaraja XII di Tapanuli (Foto: Robert/Okezone)

Pada tahun 1939, anak dari Raja Sisingamangaraja XII, yakni Raja Buttal Sinambela menamatkan sekolahnya dari Kota Solo. Ia pun menjadi Hakim di Pengadilan Tinggi Tarutung dan kantor persidangannya terletak di Tarutung dan Balige.

Mungkin karena Raja Buttal sudah dikenal sebagai Hakim di Balige, masyarakat Balige menganjurkan agar Raja Buttal Sinambela membangun rumah di Balige sekaligus kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Balige, apabila Raja Buttal Sinambela seandainya mau untuk memindahkan jasad sang Raja sisingamangaraja XII, untuk dimakamkan di Soposurung Balige.

Namun rencana pemindahan itu belum terlaksana, Raja Buttal Sinambela sudah meninggal sekitar tahun 1941. Kemudian, rencana itu dilanjutkan oleh adiknya Raja Barita. Dan pada tahun 1953, pemindahan makam Raja Sisingamangaraja XII, ke Balige terlaksana dan acara itu dihadiri Ketua DPR-RI mewakili Presiden Soekarno Hatta. Kemudian, Raja Sisingamangaraja XII dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan (SK) Pemerintah Republik Indonesia nomor 590 tertanggal 19 Novemper 1961.

Sisingamangaraja XII

Juru kunci makam Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, Binsar Sinambela (71), ditemui Okezone, dirumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari areal makam, sangat ramah dan bersemangat. Binsar Sinambela menerangkan sejarah singkat Raja Sisingamangaraja XII.

Sebagaimana dengan Raja Sisingamangaraja I sampai XI, juga merupakan karakter pemimpin yang sangat menentang penindasan dan perbudakan yang masih terjadi masa itu. Raja Sisingamangaraja XII adalah seorang pejuang sejati yang anti-penjajah dan perbudakan. Raja Sisingamangaraja XII yang tidak mau berkompromi dengan penjajah, kendati ditawarkan menjadi Sultan Batak. Beliau memilih lebih baik mati daripada tunduk pada penjajah.

Raja Sisingamangaraja XII adalah kesatria yang tidak mau menghianati bangsa sendiri demi kekuasaan. Beliau berjuang sampai akhir hanyat dengan cita-cita perjuangannya untuk memerdekakan bangsanya dari penindasan penjajah Belanda. Dalam perjuangannya melawan Belanda, beliau memiliki panglima-panglima, termasuk panglima yang berasal dari wilayah Aceh.

Sisingamangaraja XII

Saat perang ‘Paderi’ Belanda berhasil dan hal itu melapangkan jalan bagi pemerintahan kolonial di Minakabau, Tapanuli Selatan menyusul daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padang Bolak, Angkola, Sipirok, pantai Barus dan kawasan Sibolga. Sebab itu, tahun 1837, tanah Batak terpecah menjadi dua bagian, yaitu daerah-daerah yang telah dikuasai Belanda menjadi daerah Gubernemen yang disebut ‘Residentie Tapanuli dan Onderhodrigheden’ dengan seorang residen berkedudukan di Sibolga. Dan secara admistratif tunduk kepada Gubernur Belanda di Padang.

Sedangkan bagian tanah Batak lainnya, yaitu daerah Silindung (Tarutung), Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba dan Samosir belum berhasil dikuasai oleh Belanda serta tetap diakui Belanda sebagai tanah Batak yang merdeka (Deonafhankelijke Bataklandan) sampai tahun 1886. Hampir seluruh Sumatera sudah dikuasai Belanda, kecuali Aceh dan tanah Batak yang masih berada dalam situasi merdeka dan damai dibawah kepemimpinan Raja Sisingamangaraja XII.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini