nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sebut Buronan Radikal Arab Lari ke Indonesia, Din Anggap Mahfud Tebar Keresahan

Fahreza Rizky, Jurnalis · Minggu 18 Agustus 2019 10:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 18 337 2093415 sebut-buronan-radikal-arab-lari-ke-indonesia-din-anggap-mahfud-tebar-keresahan-NRxk2gslb6.jpg Din Syamsuddin (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin menganggap pernyataan Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK) Mahfud MD, yang menyebut kaum radikalis Arab Saudi lari ke Indonesia membawa uang jutaan dolar telah menciptakan keresahan.

"Pernyataan Mahfud MD bahwa ada pengusaha Arab membawa uang untuk membantu kelompok radikal di Indonesia bernada tuduhan, dan menciptakan keresahan di kalangan masyarakat," kata Din kepada Okezone, Minggu (18/8/2019).

 Baca juga: Mahfud MD Sebut Buronan Radikalisme dari Arab Akan Kabur ke Indonesia

Menurut Din, sebaiknya Mahfud MD menjelaskan terkait hal itu dan melaporkannya ke kepolisian. "Kalau tidak melaporkan maka itu sama dengan melempar isu atau menyebar fitnah yang berbahaya bagi kerukunan bangsa," jelas Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu.

Diwartakan sebelumnya, Ketua GSK Mahfud MD mendapat informasi bahwa di Arab Saudi banyak dilakukan penangkapan terhadap orang radikal. Sebagian dari mereka yang belum tertangkap disebut akan lari ke Indonesia membawa uang jutaan dollar.

 Radikalisme

Pernyataan itu dikatakan Mahfud dalam Focus Group Discussion Scenario Planning: Indonesia yang digelar GSK di Hotel JS Luwansa, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

 Baca juga: Alwi Shihab: Kelompok Radikal Bikin Propaganda Seolah-olah Pancasila Tak Islami

"Nah sekarang ada info di Saudi Arabia itu terjadi penangkapan-penangkapan terhadap orang radikal. Sudah banyak tertangkap. Tapi yang belum tertangkap itu banyak yang akan lari ke Indonesia dengan bawa jutaan dollar," ucapnya, Jumat 16 Agustus 2018.

Dikatan dia, radikalisme merupakan suatu gerakan mengganti sistem yang sudah mapan dengan cara-cara tidak demokratis. Cara tersebut ditolak ramai-ramai oleh tokoh bangsa. Menurut Mahfud, perubahan sesungguhnya harus dilakukan secara gradual.

"Perubahan radikal itu kita tolak. Apakah kita anti perubahan? Tidak. Kita sadar perubahan itu harus dilakukan tapi perubahan kita adalah perubahan gradual. Sistem sudah mantap diperbaiki, berdasar sistem itu. Yaitu sistem negara kesatuan RI berdasarkan Pancasila," pungkasnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini