Selamat Hari Kemerdekaan Ke-74 Republik Indonesia

Muhamad Rizky, Okezone · Sabtu 17 Agustus 2019 06:16 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 17 337 2093105 selamat-hari-kemerdekaan-ke-74-republik-indonesia-FbEKMMFt5r.jpg Bendera Merah Putih (Foto: Okezone)

Bendera Merah Putih berkibar, mereka yang hadir menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ketika upacara selesai, datanglah sekira 100 anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata. Mereka datang terburu-buru karena tidak tahu adanya perubahan mendadak lokasi pembacaan teks proklamasi dari Lapangan Ikada ke Pegangsaan.

Pemindahan lokasi itu ternyata dilatarbelakangi keamanan. Barisan Pelopor pun menuntut Soekarno mengulang pembacaan proklamasi. Namun ditolak, dan Hatta memberikan amanat kepada mereka.

Pada 18 Agustus PPKI mengambil keputusan untuk mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, dan kini dikenal UUD 45.

Soekarno dan M Hatta kemudian terpilih sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia pertama.

Berikut teks proklamasi yang dibacakan Soekarno:

P R O K L A M A S I

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan

dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta.

Indonesia kini dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pada kesempatan menjelang HUT ke-74 RI, Jokowi mengajak semua rakyat Indonesia untuk bersyukur karena di tengah berbagai tantangan terpaan sejarah, Indonesia masih tetap berdiri kokoh sampai hari ini. 

"Semua itu karena kita memiliki fondasi yang sangat kuat, Pancasila - dasar negara, bintang penjuru, pemersatu kita semua. Di rumah Pancasila ini, kita hidup rukun meski berbeda latar belakang agama, asal usul suku, ras, maupun golongan," ujar Jokowi. 

Rumah besar Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk semua, tempat semua anak bangsa bisa berkarya, bergerak, dan berjuang untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita kita.

Menurutnya, Persatuan Indonesia akan selalu sentosa. Seperti kiambang-kiambang yang bertaut kembali, setelah biduk pembelah berlalu.

"Dengan semangat persatuan Indonesia, rumah besar kita tidak akan runtuh, tidak akan ambruk, dan tidak akan punah, tetapi justru berdiri tegak. Bukan hanya untuk 100 tahun, 500 tahun, tapi untuk selama-lamanya," katanya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini