Share

Menilik Pertengkaran Sjahrir dan Soekarno Jelang Pembacaan Proklamasi

Fathnur Rohman, Okezone · Sabtu 17 Agustus 2019 07:03 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 16 337 2093054 menilik-pertengkaran-sjahrir-dan-soekarno-jelang-pembacaan-proklamasi-qFa8iXD2TU.jpg Monumen Proklamasi di Kota Cirebon (Foto: Fathnur/Okezone)

CIREBON - Pada tanggal 6 Agustus 1945, tentara Sekutu mulai menjatuhkan Bom Atom di kota Hiroshima, Jepang. Kemudian, dilanjutkan tanggal 9 Agustus 1945, kota Nagasaki pun mengalami hal serupa. Seketika kedua kota ini menjadi luluh lantak setelah mendapat serangan dari tentara Sekutu.

Peristiwa pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki tersebut, menyebabkan Jepang bertekuk lutut atau menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945, meskipun sebenarnya Jepang secara resmi menyerah pada tanggal 2 September 1945 di kapal Missouri.

Adanya berita tentang kekalahan Jepang dari Sekutu, seolah memberi angin segar kepada para tokoh pejuang untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Sutan Sjahrir. Ia merupakan tokoh pejuang bawah tanah, yang selalu memantau pergerakan situasi peperangan tentara Jepang melalui siaran radio.

Menurut salah seorang sejarawan asal Kota Cirebon, Jawa Barat, Mustaqim Asteja, setelah Sjahrir mendengar berita tentang kekalahan Jepang melalui siaran radio BBC pada tanggal Pada tanggal 14 Agustus 1945, Sjahrir kemudian segera menemui Soekarno untuk meminta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia saat itu juga. Akan tetapi, permintaan tersebut justru ditolak oleh Soekarno.

Pembacaan Proklamasi

"Sjahrir segera menemui Bung Karno meminta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia saat itu juga. Akan tetapi Soekarno malah menolak permintaan dari Sjahrir. Penolakan dari Soekarno membuat Sjahrir kecewa," ujar Mustaqim saat berbincang dengan Okezone, Kamis (15/8/2019).

Diceritakan Mustaqim, Sjahrir memiliki argumementasi tersendiri terkait janji Jepang yang akan memberi kemerdakaan kepada Indonesia. Menurut Sjahrir, jika Indonesia menyatakan kemerdekaan melalui lembaga bentukkan Jepang, yakni PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), maka pihak sekutu akan menilai bahwa Indonesia merdeka atas buatan Jepang. Sedangkan, Sjahrir ingin agar Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia atas nama rakyat.

"PPKI sebagai badan bentukan Jepang yang bertugas menyiapkan kemerdekaan, tidak menunjukkan aktivitasnya akan berhenti bekerja. Sikap Soekarno dan Mohammad Hatta tersebut mengecewakan para pemuda yang sepakat dengan gagasan Sjahrir," tuturnya.

Pembacaan Proklamasi Pertama Dibacakan di Cirebon

Mustaqim menuturkan, setelah munculnya berita kekalahan Jepang dari pihak Sekutu, Sjahrir sudah berusaha menyiapkan gerakannya untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang. Meskipun saat itu, Soekarno sudah menolak permintaan Sjahrir, yang menginginkan Soekarno agar secepatnya memrpoklamasikan kemerdekaan Indonesia.

"Pada 15 Agustus 1945, setelah jam 5 sore, Sjahrir segera memerintahkan kepada para pemuda agar mempercepat persiapan demonstrasi. Mahasiswa dan pemuda yang bekerja di kantor berita Domei (kantor berita Jepang) secepatnya melaksanakan instruksi tersebut. Namun, Sjahrir memahami gelagat Bung Karno yang tidak sepenuh hati menyiapkan Proklamasi," kata Mustaqim.

Lebih lanjut Mustaqim menjelaskan, Sjahrir yang kecewa kepada Soekarno, akhirnya meminta dokter Soedarsono yang saat itu menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Kesambi (sekarang menjadi RSUD Gunung Jati), agar memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Kota Cirebon.

Monumen Proklamasi di Cirebon

"Para pemuda di Cirebon hari itu tanggal 15 Agustus 1945, di bawah pimpinan Dr. Soedarsono, mengumumkan proklamasi versi mereka sendiri, di Alun-Alun Kejaksan," tambahnya.

Hingga saat ini, menurut Mustaqim, tentang bagaimana isi teks proklamasi yang dibacakan di Alun-Alun Kejaksan, Kota Cirebon tersebut masih belum diketehaui bentuk dokumennya. Akan tetapi, peristiwa tersebut berdasarkan beberapa sumber catatan sejarah setempat, serta sumber lisan dari tokoh Cirebon membenarkan, kalau wilayah Cirebon sudah merdeka terlebih dahulu dari daerah lain.

"Kita sepakat secara resmi jiwa dan semangat revolusi berkobar dari semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta," ucap dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini