nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jaksa KPK Sebut Menpora dan Asistennya Lakukan Pemufakatan Jahat

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Kamis 15 Agustus 2019 23:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 15 337 2092499 jaksa-kpk-sebut-menpora-dan-asistennya-lakukan-pemufakatan-jahat-Luxxn6Dz5T.jpg Menpora Imam Nahrawi (Foto: Avirista/Okezone)

JAKARTA - Nama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi kembali disebut terlibat dalam kasus suap dana hibah Kemenpora kepada KONI. Dia diduga terlibat permufakatan jahat bersama dengan asisten pribadinya, Miftahul Ulum dan staf protokoler Kemenpora, Arief Susanto.

Hal itu dikatakan Jaksa KPK dalam saat membacakan surat tuntutan terhadap mantan Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga pada Kemenpora, Mulyana di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusar, Kamis (15/8/2019).

"Adanya keterkaitan antara bukti satu dengan yang lainnya, menunjukkan adanya bukti dan fakta hukum tentang adanya keikutsertaan dari para saksi tersebut, dalam satu kejadian yang termasuk ke dalam kemufakatan jahat yang dilakukan secara diam-diam atau yang dikenal dengan istilah sukzessive mittaterscraft," ujar jaksa KPK saat membacakan surat tuntutan.

Baca Juga: Deputi IV Kemenpora Dituntut 7 Tahun Penjara karena Terima Suap 

Sebelumnya, Imam juga pernah disebut melakukan permufakatan jahat dengan dua anak buahnya itu dalam berkas tuntutan Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara KONI Johny E Awuy, yang saat itu berstatus terdakwa.

 KPK

Jaksa KPK menerangkan hal itu disampaikan tidak terlepas dari adanya fakta yang menyebutkan adanya penerimaan uang kepada Ulum sebesar Rp11,5 miliar. Uang itu diberikan oleh Fuad dan Johny kepada Ulum secara bertahap.

"Maret 2018, Fuad atas sepengetahuan Johny menyerahkan uang Rp2 miliar kepada Ulum di Gedung KONI lantai 12. Februari 2018, Fuad menyerahkan uang Rp500 juta kepada Ulum di Gedung KONI. Juni 2018, Johny menyerahkan uang Rp3 miliar kepada orang suruhan Ulum bernama Arief Mei 2018, Fuad menyerahkan uang Rp3 miliar kepada Ulum di Gedung KONI Pusat," tutur Jaksa.

Sebelum lebaran 2018, Fuad menyerahkan uang dalam bentuk mata uang asing kepada Ulum di lapangan tenis Kemenpora. Jaksa KPK mengatakan ada pemberian kepada Ulum Rp50 juta dari Fuad dan Johny. Pemberian terjadi ketika Ulum dan Imam berada di Jeddah, untuk memenuhi undangan Federasi Paralayang dan umrah.

Baca Juga: Taufik Hidayat Akui Ditelisik KPK Soal Kedekatannya dengan Imam Nahrawi

Selain itu, Jaksa juga menuturkan adanya komunikasi pengakuan dari Mulyana terkait dana hibah dari Kemenpora kepada KONI. Jaksa juga mengatakan, Mulyana pernah dimintai uang honor oleh Imam di kegiatan Satlak Prima tahun 2017.

"Imam Nahrawi mengatakan agar uang honor tersebut kemudian diberikan kepada Miftahul Ulum," tutur jaksa.

Atas perintah Imam tersebut, Mulyana kemudian berencana memberikan uang honor untuk Imam sebesar Rp1 miliar, namun baru teralisasi Rp400 juta. Uang itu diberima mantan Bendahara Pengeluaran Pembantu Kemenpora, Supriyono kepada Imam melalui Ulum di Lapangan Tenis Kemenpora RI.

Diketahui sebelumnya, dalam kasus ini Mulyana dituntut dengan hukuman 7 tahun penjara. Selain itu, Jaksa juga menuntut Mulyana membayar denda senilai Rp200 juta subsidair 3 bulan kurungan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Kemenpora Adhi Purnomo dan staf Kemenpora Eko Triyanto menjalani sidang tuntutan. Keduanya dituntut 5 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 3 bulan kurungan. Ketiganya dinilai terbukti menerima suap dari Ending dan Johnny.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini