nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menjadi Bagian dari Gemuruh Rakyat saat Proklamasi Dibacakan Lewat Catatan Frans Mendur

Subhan Sabu, Jurnalis · Jum'at 16 Agustus 2019 07:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 15 337 2092487 menjadi-bagian-dari-gemuruh-rakyat-saat-proklamasi-dibacakan-lewat-catatan-frans-mendur-4YOlX0zWoZ.jpg Frans Mendur sukses mendokumentasikan momen bersejarah pembacaan Proklamasi Indonesia (Foto: Subhan Sabu/Okezone)

MINAHASA - Penulis dapat membanggakan diri karena secara aktif mengikuti dan mengalami peristiwa peristiwa 17 Agustus selama 17 kali. Tidak saja sebagai pengikut atau penonton tetapi aktif dalam tugas sebagai wartawan.

Dan dari 17 kali kejadian, 17 Agustus adalah peristiwa pertamalah yang tetap menjadi kenangan yang mendalam dan menggembirakan, di samping keharuan atas peristiwa itu.

Mengapa tidak ! Penulis sebagai seorang yang aktif dalam perjuangan politik sejak tahun 1931 sebagai anggota partai politik "Persatuan Bangsa Indonesia" di bawah pimpinan Pak Tom (Dr. Sutomo), peristiwa proklamasi kemerdekaan Bangsa dan Negara pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan peristiwa yang membawa kegembiraan sebesar-besarnya di samping perasaan terharu, sebagai akibat dari pada tekanan perasaan selama penjajahan 3 setengah abad dan penindasan militer Jepang selama 3 setengah tahun.

Dokumentasi Frans Mendur

Sejak Juni 1945 saya sudah mendengar dan mengikuti kegiatan tokoh-tokoh kita terutama kaum mudanya yang secara rahasia dan bergerak di bawah tanah merencanakan melakukan suatu perebutan kekuasaan jika perlu dengan kekerasan untuk mencapai Indonesia Merdeka.

Saya sendiri semula tidak percaya ketika seorang rekan wartawan Jepang dari Djawa Shinbun Sja pada tanggal 16 Agustus malam memberitahukan kepada saya bahwa keesokan hari tanggal 17 Agustus 1945 akan dilakukan "Proklamasi Kemerdekaan Indonesia" bertempat di rumah kediaman Bung Karno.

Dalam keraguan sayapun berangkat jam 5 pagi menuju ke Pegangsaan Timur bersama rekan saya saudara Dai Bassa Pulungan dengan mengendarai mobil yang saya pinjam dari rekan wartawan Jepang tersebut.

Dokumentasi Frans Mendur

Membekal senjata saya berupa 1 Leica kamera dengan beberapa rol film yang saya serebet dari persediaan kantor Djawa Shinbun. Saya dapatkan kesibukan-kesibukan yang tertekan di halaman Pegangsaan Timur 56 dimana terdapat pandu-pandu KBI yang menjaga ketentraman, begitu juga pemuda-pemuda yang telah dikerahkan untuk membantu keamanan.

Menjelang fajar menyingsing, bertambah banyak juga orang-orang memenuhi halaman gedung pegangsaan timur dan nampak juga para pemimpin Indonesia baik yang selalu berada di Jakarta juga beberapa pemimpin yang datang dari daerah.

Sementara itu para pelopor proklamasi dengan para tokoh masyarakat sedang melakukan perundingan dengan Dwitunggal, Bung Karno/Hatta di ruang kerja Bung Karno.

Kesibukan di ruang muka gedung tampak diatur alm Dr. Muwardi dan Kol. Abd. Latief yang sedang menyiapkan upacara pembacaan proklamasi kemerdekaan. Rakyat terutama pemuda-pemuda telah memenuhi Pegangsaan Timur 56 bahkan meluap sampai ke jalanan, tetapi semua berjalan dengan teratur dan rapih. Semua perhatian dicurahkan kepada peristiwa hikmat yang akan menyusul dan dinanti-nantikan dengan penuh berdebar.

Gemuruh sorakan "Hidup" dan "Indonesia Merdeka Sekarang" memecah telinga ketika jam menunjukkan pukul 10.50 pada saat mana Dwitunggal Bung Karno/Hatta dengan diiringi tokoh-tokoh lainnya keluar dari ruangan perundingan menuju keruangan depan tempat upacara dimana telah tersedia alat pengeras suara.

Dokumentasi Frans Mendur

Dr. Muwardi Alm memberi aba-aba "Bersi......ap ! Semua hadirin tegak berdiri dan menanti dengan tenang tapi hati penuh tekad. Tak banyak kata-kata yang dikeluarkan, tapi banyak pidato-pidato. Bung Karno yang didampingi oleh Bung Hatta mengeluarkan secarik kertas dan kemudian membaca :

PROKLAMASI

 

"Kami Bangsa Indonesia Dengan Ini Menyatakan Kemerdekaan Indonesia

Hal-hal Yang Mengenai Pemindahan Kekuasaan dan Lain-lain Diselenggarakan Dengan Cara Saksama Dan Dalam Tempo Yang Sesingkat-singkatnya.

 

Djakarta, 17-8/1945

Wakil-wakil Bangsa Indonesia

Sukarno-Hatta

 

Pecahlah bisul perasaan yang tertekan selama ini, bagai halilintar menderu terdengarlah seruan "MERDEKA.... MERDEKA" terus menerus dan dengan tertib berhenti ketika terdengar aba-aba Dr. Muwardi. Bersi.....ap ! Semua hadirin tegak menanti pengumuman selanjutnya.

Upacara penaikan Sang Saka Merah Putih menyusul pengumuman kemudian dan majulah Ibu Fatmawati dengan mengemban Merah Putih hasil karya Ibu Fatmawati sendiri didampingi oleh S.K Trimurti dan diserahkan kepada Tuan Abd. Latief yang ditugaskan mengerek bendera pada tiang yang menempel di tembok gedung.

Tak ada cerita lagi yang dapat kuceritakan, pada saat itu saya betul tak dapat bercerita karena pada saat itulah semua hadirin diam, hanya tampak tiap pipi dari para hadirin mengucur air mata keharuan termasuk saya sendiri sehingga hampir saja saya lupa bahwa saya harus mengabadikan peristiwa penting itu. Dan kameraku pun hanya berhasil berketik sekali karena bendera telah tiba di ujung tiang yang miring menempel di tembok gedung.

Dokumentasi Frans Mendur

PASUKAN BERANI MATI

 

Upacara penaikan Sang Saka Merah Putih selesai, Dr. Muwardi mengumumkan bahwa proklamasi kita harus dipertahankan dengan jiwa dan raga Bangsa Indonesia sendiri.

 

Siapakah di antara hadirin yang menyanggupkan diri untuk menjadi pasukan berani mati mempertahankan Kemerdekaan Indonesia, berkata Dr. Muwardi. Selanjutnya majulah seorang pria yang tak perlu saya sebutkan namanya sebagai orang pertama menyatakan diri berani mati. Saya katakan tak perlu sebut namanya karena kemudian saya ketahui bahwa orang itupun termasuk salah seorang yang menyerah kepada Belanda pada waktu clash pertama tahun 1947. Kemudian disusul oleh S.K Trimurti dan selanjutnya menyusul sepuluh, seratus, seribu dan semua yang hadir menyatakan bersedia mati untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

 

Dan tekad ini memang dilanjutkan oleh Bangsa Indonesia sehingga Negara kita sekarang dapat tetap berdiri dan akan berdiri untuk selama-lamanya.

Sekian sekelumit dari hasil pengikutan saya pada hari Proklamasi pertama, dan selanjutnya mengikuti hari-hari Proklamasi di Istana Jogja sampai tahun 1949, dan kini di Ibu Kota Negara Indonesia yang kini tampak lebih megah dan indah berkat jiwa membangun yang sekarang kita laksanakan.

Tidak ada keterangan pasti kapan tulisan itu ditulis oleh Frans Mendur. Tulisan tersebut di laminating dan ditempelkan berdekatan dengan beberapa foto hasil karyanya yang dipajang di Monumen dan Museum Alexius Impurung Mendur dan Frans Sumarto Mendur.

Monumen dan Museum tersebut berada di pinggiran jalan Raya Kawangkoan- Manado, Desa Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu, ciri khas rumah adat Minahasa. Bangunan berwarna putih itu di depannya terdapat sebuah tugu berbentuk patung berwarna keemasan.

Patung tersebut merupakan patung dari dua orang pahlawan nasional yang sedang berdiri di atas kamera jenis leica. Keduanya adalah Alexius Impurung Mendur dan Frans Sumarto Mendur.

Saat disambangi Okezone bangunan tua dua lantai itu dalam keadaan tertutup. Lantai satu ditinggali oleh pasangan suami istri Pierre Charles Mendur dan Dina Fitrianti Soerahman yang merupakan cucu keponakan dari Alex dan Frans sedangkan lantai dua merupakan museum yang berisikan foto-foto hasil karya ke duanya.

Di belakang patung terdapat sebuah prasasti yang menunjukkan monumen dan museum Alexius Impurung Mendur dan Frans Sumarto Mendur diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, 11 Februari 2013.

Dokumentasi Frans Mendur

Saat asyik melihat-lihat, seorang wanita tampak berlari tergopoh-gopoh menghampiri. Begitu diberitahukan maksud dan tujuan kedatangan, okezone langsung dipersilahkan naik ke lantai dua oleh sang wanita yang tak lain adalah Dina Fitrianti Soerahman.

Lantai dua bangunan yang dijadikan museum itu terlihat tidak terawat. Sekitar 130 foto hitam putih, berukuran 10R dipajang dalam museum tersebut. Lima foto Frans yang paling dikenal yakni pembacaan teks proklamasi oleh Bung Karno, upacara pengibaran bendera, teks proklamasi tulisan tangan asli, teks proklamasi ketikan, serta suasana upacara terpajang di dinding kayu yang terlihat mulai rapuh itu.

Dokumentasi Frans Mendur

Sementara hasil karya Alex yang paling dikenal yakni penjemputan Jendral Sudirman saat perang gerilya, Bandung lautan api, Konferensi Meja Bundar, Konferensi Asia-Afrika, Perjanjian Lingkar Jati, Supersemar, Bung Tomo saat membakar semangat rakyat pada 10 November 1945 juga dipajang keliling dinding ruangan.

Ada beberapa foto yang sudah rusak, di antaranya foto jenderal Sudirman, ada juga foto Ir. Soekarno saat dilantik sebagai presiden RIS, 17 Desember 1949, tapi sayang sudah tidak kelihatan lagi bentuknya. Bahkan ada juga foto-foto yang berserakan di lantai bangunan yang terbuat dari kayu itu.

Sebenarnya masih banyak lagi karya keduanya yang tidak dipajang bahkan mencapai ribuan foto tentang peristiwa masa-masa perjuangan kemerdekaan, namun karena ruangan yang tidak cukup representatif untuk memajang semua foto tersebut sehingga pihak keluarga lebih memilih untuk menyimpannya.

"film asli foto-foto ini ada di perpustakaan nasional. Tapi lima foto terkenal karya Frans, yakni suasana detik-detik kemerdekaan ada pada keluarga, Kamera Leica mereka juga masih ada," ujar Pierre Mendur.

Sayangnya, museum ini juga seakan luput dari perhatian pemerintah mulai dari pertama kali dibangun sampai dengan sekarang. Rumah panggung ini terlihat mulai rapuh bahkan terlihat sudah mulai miring. Tanpa Mendur bersaudara, kita tidak akan dapat menyaksikan tonggak penting sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

"Kami hanya berharap kiranya ada perhatian dari pemerintah terhadap bangunan bersejarah ini," Kata Pierre.(kha)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini