nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPK Periksa Mantan Menteri PDT Terkait Suap Proyek Jalan KemenPUPR

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Kamis 15 Agustus 2019 11:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 15 337 2092148 kpk-periksa-sekjen-pbnu-terkait-suap-proyek-jalan-kemenpupr-wbB44LPy12.jpg Juru Bicara KPK, Febri (Foto: Okezone)

JAKARTA - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan kepada Mantan Menteri PDT yang juga Sekjen PBNU, A Helmi Faishal Zani sebagai saksi terkait kasus dugaan korupsi proyek pembangunan jalan milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun 2016.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan Helmi bakal diperiksa sebagai saksi untuk tersangka ‚ÄéKomisaris sekaligus Dirut PT Sharleen Raya JECO Group, Hong Artha (HA).

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka HA," kata Febri saat di konfirmasi, Kamis (15/8/2019).

Sebelumnya, KPK juga telah melakukan pemeriksaan terhadap anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jazilul Fawaid hari Rabu 15 Agustus kemarin.

Diketahui KPK telah menetapkan Komisaris sekaligus Dirut PT Sharleen Raya JECO Group, Hong Artha John Alfred sebagai tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan jalan milik Kementeriaan PUPR.

Korupsi

Baca Juga: KPK Panggil Politikus PKB Jazilul Fawaid Terkait Suap Proyek Jalan KemenPUPR

Hong Artha ditetapkan sebagai tersangka pada 2 Juli 2019, silam. Namun, sejak ditetapkan sebagai tersangka setahun silam, KPK belum melakukan penahanan terhadap Hong Artha.

Hong Artha diduga secara bersama-sama memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara. Janji atau uang yang diberikan tersebut diduga untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan jabatannya.

Salah satu penyelenggara yang diduga menerima suap dari Hong Artha yakni, Kepala Badan Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku dan Maluku Utara, Amran HI Mustary. Amran diduga menerima uang sebesar Rp8 miliar dan Rp2,6 miliar dari Hong Artha. (edi)

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini