nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pujaan Hati Soekarno dalam Pengasingan Itu Bernama Fatmawati

Demon Fajri, Jurnalis · Selasa 13 Agustus 2019 07:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 12 337 2091094 pujaan-hati-soekarno-dalam-pengasingan-itu-bernama-fatmawati-8Xx3KWbQ8h.jpg Lukisan Fatmawati d Bengkulu (Foto: Demon/Okezone)

BENGKULU - Tahun 2019, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memperingati dirgahayu ke 74, 17 Agustus, tepatnya. Di balik kemerdekaan NKRI yang telah memasuki lebih dari 7 dasawarsa ini terdapat sosok perempuan kelahiran provinsi Bengkulu.

Fatmawati, namanya. Sosok perempuan kelahiran, Bengkulu, 5 Februari 1923 ini merupakan sosok penjahit sang saka merah putih untuk dikibarkan pada 17 Agustus 1945. Pasca-pembacaan proklamasi yang dibacakan, Presiden Soekarno di Jakarta.

Anak tunggal dari pasangan suami istri (Pasutri) H Hasan Din dan Siti Khadijah ini adalah istri presiden pertama, Soekarno. Perempuan yang mendapatkan bintang kehormatan Maha Putra Adi Pradana, 1995 dipersunting Soekarno pada 1943.

''Awal mulanya bertemu dengan Bung Karno, saat Bung Karno diasingkan di Bengkulu. Rumah pengasingan Bung Karno, itu pada tahun 1938 - 1942. Bung Karno juga pernah mengajar di sekolah Muhammadiyah. Dari situ Bung Karno kenal dengan Fatmawati. Mereka menikah di Bengkulu,'' sampai Marwan Amanudin (70), sepupu dari Fatmawati, dari pihak bapak dua beradik, ketika ditemui Okezone.

Fatmawati

Usai menikah, ibu dari lima orang anak itu langsung di boyong ke Jakarta, untuk mendampingi sang suami, Soekarno. Sejak itu perempuan yang sempat menjabat sebagai pelindung/penasehat kowani (Konres Wanita Indonesia) ini aktif dalam perjuangan kemerdekaan RI.

Menjahit bendera pusaka Merah Putih, misalnya. Tidak hanya itu, istri Proklamator Kemerdekaan RI 1945 ini ikut serta dalam menghadiri sidang Dokutsu Zyunbi Tyoosakai. Lalu, dia juga ikut dalam memberikan bantuan berupa beras kepada para istri prajurit.

Sosok perempuan yang sempat menjabat pelindung/penasehat perwari (persatuan wanita Indonesia) ini ikut menderita bersama bayi-nya Guntur Soekarno Putra. Saat itu dia ikut di culik pemuda untuk di bawa ke rengas dengklok, pukul 03.01 WIB dini hari pada 16 Agustus 1945.

Perjalanan hidup sosok Fatmawati cukup banyak aral melintang yang dihadapi. Di mana selama 1945 hingga 1946, dia sering berpindah-pindah tempat. Bahkan, dia sering bersembunyi dan menyamar. Sebab, saat itu di Jakarta sedang tidak aman lantaran telah diduduki pasukan NICA Belanda.

Fatmawati

Perjuangan sosok ibu negara pertama RI ini membuat dia banyak terlibat dalam kemerdekaan. Saat itu, dia juga sempat mengirim perbekalan untuk para pejuang di Front yang sedang grilya. Mulai dari makaaan, pakaian bahkan peluru, (30 tahun indonesia merdeka 1985:139).

''Ibu Fatmawati menjahit sang saka merah putih, ketika malam 17 Agustus 1945, di Jakarta,'' kata Marwan.

Kesetiaan dan ketangguhan sosok Fatmawati dalam perjuangan membela dan meningkatkan derajat wanita pun tak lepas ketika dia menjadi Ibu Negara RI. Menghadiri detik-detik proklamasi 17 Agustus 1945, bersama-sama dengan nyonya S.K Trimurti sebagai unsur wanita.

Fatmawati juga selalu menjadi penasehat dan pelindung setiap organisasi wanita. Mulai dari Kowani, Kowari dan Persit. Bahkan, dia sebagai perempuan yang konsekwen dan konsisten dalam membela hak-hak wanita.

Hal tersebut terlihat dan tercermin dalam sikap-nya antipoligami. Di mana pada masa orde baru sikap ini dapat melindungi para istri pegawai negeri dengan lahirnya PP. 10. Almarhumah juga gigih memperjuangkan berdirinya gedung wanita pertama di Indonesia, yang terletak di jalan Diponegoro, Jakarta.

Fatmawati

''Peran almarhumah sangat menonjol dalam upaya membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pendidikan, kesehatan anak terlantar, penyandang cacat sehingga almarhumah memprakarsai pendirian perguruan cikini, yayasan penderita anak cacat (YPAC), pendiri yayasan rumah sakit ''Fatmawati'','' jelas Marwan.

Peran sosok perempuan kelahiran provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'' juga andil dalam memperjuangkan agar dokumen, barang dan arsip pemerintah RI yang dirampas Belanda, kisaran tahun 1945 hingga 1950 di Jakarta dan di Yogyakarta, dapat dikembalikan ke Indonesia.

Perempuan yang juga sempat menjabat sebagai pelindung/penasehat Nasional Woman's Internasional Club (WICC) ini turut aktif dalam dalam rangka pemberantasan buka aksara, serta sebagai sponsor berdirinya organisasi ''sekato'' di Jakarta.

Bahkan, anak dari tokoh Muhammadiyah ini mengunjungi dan memberikan santunan kepada panti asuhan pada bulan puasa dan pada perayaan hari ibu. Tradisi ini pun hingga saat ini masih tetap berlanjut.

Sebagai Ibu Negara almarhumah, selalu memperkenalkan wajah Indonesia beserta budaya-nya kepada negara-negara sahabat. Caranya, menampilkan hal-hal yang merupakan ciri khas budaya Indonesia. Seperti, makanan, tarian dan penataan ruangan pada saat diadakan jamuan kenegaraan.

Putri teladan dari Bengkulu ini semasa remaja-nya dihabiskan di Bengkulu dalam suasana perjuangan perintis kemerdekaan. Dia pindah ke Jakarta dalam revolusi fisik. Di mana sosok Fatmawati, sebagai perempuan yang teguh iman-nya dan orang yang penyabar dalam menghadapi segala cobaan serta mempunyai prinsip dengan pengabdian yang tulus kepada suami.

''Almarhumah wafat pada 14 mei 1980, di Kuala Lumpur, Malaysia. Jenazahnya dimakamkan di perkuburan Karet Jakarta. Pemerintah RI menganugerahkan Bintang Maha Putra Adi Pradana pada tanggal 10 November 1995,'' kata Marwan.

Peninggalan Fatmawati di Bengkulu

Sebagai Ibu Negara dari tanah ''Bumi Rafflesia'', istri presiden pertama ini telah banyak berbuat untuk NKRI. Menjahit sang saka merah putih, contohnya. Saat menjahit bendera pusaka itu Fatmawati menggunakan mesin jahit tangan.

Mesin jahit tangan bermerek 'Singer' buatan tahun 1941 yang menghasilkan Sang Saka Merah Putih itu masih tersimpan di rumah Fatmawati, di Jalan Fatmawati No 10 kelurahan Penurunan kecamatan Ratu Samban kota Bengkulu provinsi Bengkulu.

Peninggalan berupa mesin jahit tangan itu tersimpan di salah satu ruang berukuran sekira 3x4 meter di rumah Fatmawati. Di ruangan itu juga terdapat kursi untuk duduk Fatmawati saat menjahit bendera pusaka Merah Putih.

Sebelum di boyong ke Jakarta, semasa kecil hingga menikah Fatmawati tinggal bersama orangtuanya, di bangunan rumah panggung. Rumah adat Bengkulu yang ditempati Fatmawati itu berukuran sekira 12x15 meter.

Rumah panggung itu terdapat satu ruang tamu, dua kamar, satu ruang makan, satu kamar mandi. Di mana rumah itu di bangun kisaran tahun 1915. Hingga saat ini bangunan itu masih berdiri kokoh.

Mayoritas seluruh bangunan rumah itu masih asli. Sebab, sejak berdiri rumah Fatmawati hanya direhabilitasi satu kali, sekira tahun 1990. Rehabilitasi bangunan tersebut semasa Gubernur Alm. Adjis Ahmad.

''Ibu Fatmawati tinggal di sini sebelum menikah dengan Bung Karno,'' jelas Marwan.

Dari Mesin Jahit Tangan hingga Lukisan Ada di Rumah Fatmawati

Selain mesin jahit tangan, di kediaman Ibu Negara Fatmawati, terdapat tempat tidur, meja dan kursi tamu, pakaian kebaya, lampu gantung di ruang tamu, lemari pakaian serta lainnya.

Sebelum memasuki rumah panggung yang terbuat dari kayu meranti merah ini di bagian depan pintu masuk terdapat anak tangga untuk menaiki rumah khas Bengkulu ini. Ketika di depan pintu masuk terlihat jelas dua lukisan berukuran 92 cm x 75 cm yang di lukis oleh Garcia LLMAS asal Filipina, yang terdapat di ruang tamu.

Lukisan Presiden Pertama Soekarno di sisi kiri dan lukisan Ibu Negara Fatmawati di sisi kanan, di lukis pada tahun 1951. Di bagian ruang tamu itu juga terpajang satu set meja dan kursi tamu, asli. Dua set pakaian kebaya panjang serta foto-foto Soekarno dan Fatmawati yang terpajang di dinding rumah.

Koleksi lainnya, berupa tulisan lagu ciptaan Fatmawati, tulisan Soekarno serta satu buah tulisan surat. Selain itu, koleksi peninggalan Fatmawati masih tersimpannya satu buah lemari pakaian, lampu gantung.

''Foto ada sekira 36 buah, mesin jahit bendera merah putih, meja dan kursi tamu satu set, pakaian kebaya, lukisan, tulisan tangan Soekarno dan Fatmawati dan lainnya,'' terang Marwan.(kha)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini