Menelusuri Jejak Rohana Kudus, Sang Jurnalis dan Pahlawan untuk Perempuan

Rus Akbar, Okezone · Minggu 11 Agustus 2019 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 11 337 2090439 menelusuri-jejak-rohana-kudus-sang-jurnalis-dan-pahlawan-untuk-perempuan-uXw2I9rlz0.jpg Rohana Kudus (Foto: Ist)

Di usianya yang ke 24, Rohana kembali ke Koto Gadang dan menikah dengan Abdul Kudus. Pernikahan tak membuat semangat belajarnya meredup. Pada tanggal 11 Februari 1911 dan pada 1915 resmi berdiri Yayasan Kerajinan Amai Setia. Rohana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia.

Sebuah sekolah khusus perempuan yang berfokus pada keterampilan. Namun, walau berfokus pada keterampilan, Rohana juga mengajarkan berbagai pelajaran umum, seperti pendidikan baca-tulis, agama, budi pekerti, keuangan, dan juga bahasa Belanda.

“Dulu di Koto Gadang Rohana Kudus bersama Rakina Putih mengajak ibu-ibu jaman dulu dimana pada saat itu ibu-ibu itu tidak boleh keluar rumah tidak boleh kerja diluar, mula-mula diajar tulis baca, habis itu lama-lama diajak menyulam, jadi ibu-ibu sini senang semua jadi anggota Amai Setia hampir semua di kampung ini jadi anggota mereka belajar menyulam, merenda dan menenun,” tutur Yusna Farida (74) Pengurus Yayasan Kejaninan Amai Setia pada Okezone.com.

Perjuangan Rohana dalam memajukan kaum perempuan di Sumatera Barat bukanlah hal yang mudah. Berbagai penentangan didapat dari pemuka adat dan masyarakat lelaki Minangkabau. Mereka beranggapan, untuk apa perempuan harus setara laki-laki.

Di zaman itu, Rohana menjalin hubungan kerja sama dengan pemerintah Belanda. Rohana sering memesan peralatan dan kebutuhan jahit menjahit. Dalam sisi berwirausaha, Rohana menjadi ‘marketing’ bagi murid-muridnya dengan menyalurkan hasil karya murid-muridnya untuk diekspor ke Belanda.

Rohana Kudus

“Pada tahun 1930 yayasan ini dapat bantuan dari Belanda jadi Belanda mendukung kegiatan ibu-ibu, habis itu masuk Jepang tak ada lagi bantuan kita jadi mandiri saat itu,” katanya.

Sampai sekarang usaha kerajinan masih berjalan seperti selendang suji cair, kepala penitik, terawan jenis macam sulaman kita, selain itu usaha itu jual perak-perak itu khas khusus dari Koto Gadang.

“Pengurus kita lima orang dan karyawan kita dua orang, warga disini menjual kesini dan kita menampung, kita juga pemasarannya,” kata Yusna.

Pasaran kerajinan ini sampai ke luar negeri yang paling banyak itu Eropa sampai Australia, banyak yang berkunjung ke tempatnya baik itu dari Malayasia maupun dari singapura.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini