nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menelusuri Jejak Rohana Kudus, Sang Jurnalis dan Pahlawan untuk Perempuan

Rus Akbar, Jurnalis · Minggu 11 Agustus 2019 07:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 11 337 2090439 menelusuri-jejak-rohana-kudus-sang-jurnalis-dan-pahlawan-untuk-perempuan-uXw2I9rlz0.jpg Rohana Kudus (Foto: Ist)

PADANG - Cuaca cukup menusuk tulang ketika laju kendaraan memasuki kawasan kaki Gunung Singgalang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kabut tipis seperti menyelimuti kaki gunung dan bentangan sawah yang luas. Okezone.com terus menelusuri jalan di tengah-tengah bentangan sawah beberapa petani disibukkan dengan panen padi yang sudah menguning.

Jalan yang lurus menuju Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam di pinggir jalan sesampai di daerah itu langsung menemukan simpang empat dengan nama-nama jalan para toko dari daerah itu seperti, Haji Agus Salim, Sutan Syahrir, Datuk Kayo, dan Mr. Moh Nazief.

Tiga pria paru bayah duduk di luar pagar Masjid Nurul Imam sambil mengobrol, Okezone mencoba menghampiri ketiga pria itu sambil memberi salam serta memperkenalkan diri. Suasana Koto Gadang itu tampak sepi hanya beberapa orang yang memakai kendaraan roda dua dan angkot yang bolak-balik mencari penumpang. Banyak rumah bangunan tua seperti jama kolonial dibiarkan kosong tak ada penghuninya.

Rohana Kudus

“Rumah-rumah di sini kosong, rata-rata penduduknya merantau di Jakarta dan Bandung, ada 85 persen rumah disini kosong selebihnya hanya warga penggarap sawah, kadang warga yang ada disini hanya bekerja membersihkan rumah kosong ini ada juga yang tinggal di rumah kosong tapi bagian belakang,” tutur Muslim salah satu tokoh masyarakat yang sedang duduk diluar pagar Masjid Nurul Imam.

Di sini masyarakatnya hampir semuanya merantau, mengejar pendidikan di luar jika disini saja maka tidak ada perkembangan, sambung Muslim. “Masyarakat ini merantau sejak jaman Belanda dulu tapi makin banyak yang merantau itu memasuki tahun 70 an sehingga banyak kosong,” katanya.

Koto Gadang banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional seperti Haji Agus Salim, Sutan Syarir, Emil Salim, Rohana Kudus seorang tokoh wanita dari Minangkabau yang menjadi jurnalis wanita pertama di Indonesia. Telisik tentang Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga bibi dari penyair Chairil Anwar. Dia juga merupakan sepupu dari KH Agus Salim.

Rohana Kudus yang nama aslinya Siti Ruana namanya berubah setelah menikah dengan Abdul Kudus yang juga berasal dari Koto Gadang. Rohana Kudus ini lahir 20 Desember 1884, dalam buku yang ditulis Mestika Zed dan Hasril Chaniago, Riwayat dan Perjuangan Ruhana Kudus, Tokoh Perempuan Yang Mendahului Zaman.

Nama asli Rohana Kudus adalah Siti Roehana kemudian menikah berubah menjadi Roehana Koeddoes. Dia lahir dari keluarga terpandang di daerah tersebut. Rohana berasal dari keluarga terpelajar, ayahnya bernama Mohammad Rasjad dengan gelar Maharadja Soetan, ayahnya ini mendapat pendidikan zalam kolonial Belanda dan meniti karir sebagai pegawai kejaksaan pemerintah Hindia Belanda yang ditugaskan dibanyak tempat di Sumatera Barat. Sementara ibu Rohana adalah Kiam yang berasal dari pesukuan Sikumbang.

Rohana Kudus

Saat kecil Rohana Kudus tidak mendapatkan pendidikan seperti kaum laki-laki, Rohana Kudus, namun sejak kecil Rohana sudah diajarkan ayahnhya membaca huruf latin dan Arab-Melayu saat itu masih berusia lima tahun.

Kehidupanya berpindah-pindah karena mengikuti sang ayah yang dipindahkan ke berbagai daerah, pada saat usia 6 tahun ayahnya dipindahkan ke Alahan Panjang disana bertemu dengan keluarga Lebai Rajo Nan Sutan yang merupakan Jaksa Alahan Panjang yang juga berasal dari Koto Gadang dan istrinya Aidiesa, pasangan ini tidak memiliki anak sehingga mereka menjadikan Rohana menjadi anak angkatnya.

Dari Aidiesa ibu angkat Rohana bisa membaca dan menulis, biasanya dia belajar pada siang hari baru malam hari dia kembali kerumah orang tuanya. Ditempat orang tua angkatnya Rohana juga bebas membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berita politik, gaya hidup, serta pendidikan di Eropa.

Di usianya yang ke 24, Rohana kembali ke Koto Gadang dan menikah dengan Abdul Kudus. Pernikahan tak membuat semangat belajarnya meredup. Pada tanggal 11 Februari 1911 dan pada 1915 resmi berdiri Yayasan Kerajinan Amai Setia. Rohana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia.

Sebuah sekolah khusus perempuan yang berfokus pada keterampilan. Namun, walau berfokus pada keterampilan, Rohana juga mengajarkan berbagai pelajaran umum, seperti pendidikan baca-tulis, agama, budi pekerti, keuangan, dan juga bahasa Belanda.

“Dulu di Koto Gadang Rohana Kudus bersama Rakina Putih mengajak ibu-ibu jaman dulu dimana pada saat itu ibu-ibu itu tidak boleh keluar rumah tidak boleh kerja diluar, mula-mula diajar tulis baca, habis itu lama-lama diajak menyulam, jadi ibu-ibu sini senang semua jadi anggota Amai Setia hampir semua di kampung ini jadi anggota mereka belajar menyulam, merenda dan menenun,” tutur Yusna Farida (74) Pengurus Yayasan Kejaninan Amai Setia pada Okezone.com.

Perjuangan Rohana dalam memajukan kaum perempuan di Sumatera Barat bukanlah hal yang mudah. Berbagai penentangan didapat dari pemuka adat dan masyarakat lelaki Minangkabau. Mereka beranggapan, untuk apa perempuan harus setara laki-laki.

Di zaman itu, Rohana menjalin hubungan kerja sama dengan pemerintah Belanda. Rohana sering memesan peralatan dan kebutuhan jahit menjahit. Dalam sisi berwirausaha, Rohana menjadi ‘marketing’ bagi murid-muridnya dengan menyalurkan hasil karya murid-muridnya untuk diekspor ke Belanda.

Rohana Kudus

“Pada tahun 1930 yayasan ini dapat bantuan dari Belanda jadi Belanda mendukung kegiatan ibu-ibu, habis itu masuk Jepang tak ada lagi bantuan kita jadi mandiri saat itu,” katanya.

Sampai sekarang usaha kerajinan masih berjalan seperti selendang suji cair, kepala penitik, terawan jenis macam sulaman kita, selain itu usaha itu jual perak-perak itu khas khusus dari Koto Gadang.

“Pengurus kita lima orang dan karyawan kita dua orang, warga disini menjual kesini dan kita menampung, kita juga pemasarannya,” kata Yusna.

Pasaran kerajinan ini sampai ke luar negeri yang paling banyak itu Eropa sampai Australia, banyak yang berkunjung ke tempatnya baik itu dari Malayasia maupun dari singapura.

Bangunannya saat ini masih bangunan peninggalan Rohana Kudus, hanya bagian belakang saja ditambah termasuk lantai dua yang dijadikan museum. “Sejak dulu kayak gini hanya renovasi kecil-kecilan tapi kalau untuk seluruh bangunan tidak ada, bocor diperbaiki tidak merubah arsitektur bangunan,” ungkap Yusna.

Suatu gebrakan yang luar biasa bagi perempuan Minangkabau di jaman itu. Tak hanya pintar belajar dan mengajar keterampilan, Rohana juga ahli dalam bidang sastra. Beliau senang menulis puisi, dan keahlian berbahasa Belanda nya pun tak perlu diragukan lagi.

Atas berbagai talenta dan perjuangannya dalam memajukan kaum perempuan, Rohana pun mulai dikenal pada sebuah surat kabar terkemuka dan dikatakan sebagai Perintis Pendidikan Perempuan Pertama di Sumatera Barat.

Pada tanggal 10 Juli 1912, Rohana membuat sebuah gebrakan baru dengan mengasuh surat kabar yang ditawarkan Datuk Sutan Maharadja bernama Soenting Melajoe atau dibaca Sunting Melayu’, dimana mulai dari pemimpin redaksi, redaktur, dan penulisnya seluruhnya perempuan saat itu Rohana bekerja di Koto Gadang dan terbit pada 10 Juli 1912 diterbitkan dekali delapan hari di Padang.

“Dengan membaca tulisan Rohana yang dimuat di Soenting Melajoe kita dapat menangkap bahwa semuanya adalah bertujuan untuk kemajuan kaum perempuan, untuk menambah ilmu dan pengetahuan mereka dan mendorong kaum perempuan supaya mandiri dengan memiliki kepandaian dan keterampilang,” tulis Mestika Zed, Guru Besar Sejarah, Universitas Negeri Padang (UNP).

Pada tahun 1921-1924 Rohana pindah ke Medan dan mengundurkan diri dari Soenting Melajoe, namun sampai di Medan dia mengajar di Sekolah Darma dan menjadi Redaktur surat kabar Perempoen Bergerak.

Lalu empat tahun merantau di Medan dan Lubuk Pakam Rohana ke Koto Gadang dan menjadi redaktur Surat Kabar Radio yang diterbitkan oleh Tionghoa-Melayu di Padang. Selain itu dia juga menjadi redaktur Surat Kabar Cahaya Sumatera.

“Jika dihitung dari awal kariernya sebagai redaktur Soenting Melajoe (1912) sampai akhir kekuasaan Belanda 1942 berarti lebih kurang 30 tahun (1912-1942) ia bertungkus lumus dengan karir jurnalistik. Dengan demikian, jelaslah Ruhana adalah wartawan perempuan yang paling lama menjalni profesi dalam era sebelum kemerdekaan,” tulis Mestika Zed.

Atas jasa-jasanya Rohana Kudus pun mendapat penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia, Perintis Pers Indonesia, dan Bintang Jasa Utama. Rohana Kudus wafat di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1972. Kini di Koto Gadang ada rumah Rohana Kudus yang sudah direhab oleh Pemerintah Kabupaten Agam, rumah itu berupa rumah panggung yang terletak disela-sela rumah yang dijamanya.(kha)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini