nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Potret Kerukunan Antar-Agama Jelang Momen Idul Adha

Avirista Midaada, Jurnalis · Jum'at 09 Agustus 2019 19:24 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 09 337 2089992 potret-kerukunan-antar-agama-jelang-momen-idul-adha-fbYK2qrPX0.jpg Masjid dan gereja berdampingan di Kota Malang (Foto: Avirista/Okezone)

MALANG - Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel dan Masjid Jami Malang yang letaknya bersebelahan di Jalan Merdeka Barat, Malang, mempunyai cerita tersendiri di hari raya idul adha yang jatuh pada Minggu 11 Agustus 2019.

Di mana saat Hari Raya Idul Adha, umat Kristiani juga tengah melakukan ibadah rutin misa pada hari yang sama di gereja.

Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Pendeta Richard Agung Sutjahjono mengungkapkan umat kristiani di gerejanya sudah terbiasa menjalankan ibadah misa saat bersamaan dengan hari raya umat Islam.

"GPIB Malang sudah terbiasa dengan melakukan perjumpaan toleransi dengan Takmir Masjid Jami sejak gereja berusia 158 tahun lamanya. Dan Idul Adha pada Minggu 11 Agustus, di mana takmir masjid menyelenggarakan Salat Idul Adha tepat pukul 06.00 pagi hingga selesai," ungkap Sutjahjono, pada Jumat (9/8/2019).

Ilustrasi

Meski bersamaan dengan ibadah umat Kristiani, pihak gereja tetap menyelenggarakan ibadah misa hari Minggu seperti biasa, pukul 08.00 WIB.

"Kami sebagai GPIB beribadah tepat pukul 08.00 pagi. Jadi bagi masyarakat kami itu tidak menjadi sesuatu yang baru, atau menjadi sesuatu yang asing berbicara toleransi. Toleransi antar GPIB dengan masjid sudah berjalan selama 1,5 abad," tuturnya.

Baca Juga: Kondisi Hewan Kurban di Jakarta: 198 Sakit, 10 Cacat dan 349 Tak Cukup Umur

Baca Juga: Tawuran Pelajar Bukan Tindak Kriminal

Pihaknya juga merasa tak terganggu dan tak akan mengundurkan waktu ibadah meski pelaksanaannya bersamaan dengan jalannya ibadah misa rutin.

"Dan karena selisihnya hanya 2 jam, saya rasa tidak akan mengganggu, kecuali selisihnya kurang dari 2 jam bisa mengganggu gereja kami. Kami tidak mundur, tetap beribadah pada pukul 08.00 WIB pagi. Seandainya Salat Idul Adha belum selesai, kami tetap masuk ke dalam gereja namun ibadah itu yang akan diundurkan," kata dia.

"Sampai Salat Idul Adha selesai, jadi kami tidak melakukan ibadah serentak yang mengeluarkan suara tapi kami cukup berada di dalam gereja sambil menunggu salat ied selesai," tambah Pendeta Sutjahjono.

Selama ratusan abad kedua umat ini tak mengalami ketegangan yang berarti, meski kedua umat ini menjalankan ibadah di hari yang sama dan letak tempat ibadah yang bersebelahan.

"Bukan sesuatu yang baru dan unik atau dahsyat. Ini sesuatu yang kami warisi dari pluralisme asing dari orang-orang Belanda, sudah lebih awal menciptakan toleransi beragama ini. Kita harus menjaga ini," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini