KPK Sebut Kuota Impor Selalu Jadi Bahan Suap

Muhamad Rizky, Okezone · Jum'at 09 Agustus 2019 15:04 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 09 337 2089855 kpk-sebut-kuota-impor-selalu-jadi-bahan-suap-flzYB2bSG0.jpg Wakil Ketua KPK, Laode (foto: Sindo)

JAKARTA - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode M. Syarif menyebutkan bahwa praktik suap dalam impor komoditi terus berulang. Seperti yang baru ini terjadi dimana pihaknya mengungkap dugaan suap pengurusan izin impor bawang putih yang dilakukan sejumlah pihak.

Dalam kasus tersebut, KPK menetapkan enam orang tersangka, salah satunyaa Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDIP I Nyoman Dhamantra. Menurut Syarif pemerintah dalam hal ini harus tegas menghentikan praktik tersebut sebab penentuan kuota impor komoditi selalu menjadi bahan bancakan para koruptor.

"Ini harus di setop, pemerintah ini harus tegas menurut saya. Penentuan kuota-kuota ini selalu menjadi lahan untuk suap menyuap. Karena hampir semua komoditi," kata Syarif, di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Jakarta, Jumat (9/8/2019).

 Korupsi

Syarif mencontohkan kasus yang terjadi sebelumnya seperti kasus suap impor daging sapi. Menurutnya kasus itu modus yang dilakukan hampir sama dengan kasus yang saat ini terjadi, namun cara pemberian suap saja yang berbeda.

 Baca juga: KPK Tahan Anggota DPR & 5 Orang Lainnya Terkait Suap Impor Bawang Putih

Menurut dia, ada titik lemah sehingga kasus suap tersebut kerap terjadi, salah satunya menyoal koordinasi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.

"Ini kelihatannya antara kementerian Perdagangan dan Pertanian enggak selalu sinkron," ungkapnya.

Seperti lanjut dia, polemik impor beras yang terjadi beberapa waktu lalu. saat itu Kementerian Pertanian menyebut stok beras di dalam negeri masih aman, sementara Direktur Umum Perum Bulog Budi Waseso mengeluh soal impor beras tersebut lantara kondisi gudang Bulog penuh.

"Itu aneh sebenarnya, masa pemerintah enggak bisa berkoordinasi dengan baik," tambah dia.

 Korupsi

Baca juga: I Nyoman Dhamantra Resmi Ditahan KPK Terkait Kasus Impor Bawang Putih

Disamping itu, tambah Syarif, keuntungan ekonomi yang didapat dalam praktik korupsi di impor komoditi cukup menggiurkan, mengingat selisih harga di luar negeri dan dalam negeri yang cukup tinggi.

"Kaya bawang putih harganya satu kilo di sini berapa? Kalau di China murah sekali, beras juga begitu," ujarnya.

Kendati demikian, saat disinggung mengenai apakah Nyoman Dhamantra dalam kasus dugaan suap impor bawang putih ini bermain dengan pejabat di Kementerian Pertanian atau Kementerian Perdagangan ia tidak tahu.

"Saya belum tau persis tentang peristiwa ini," katanya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini