Share

Istana Sudah Terima Laporan Kisruh Pelabuhan Marunda

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Kamis 08 Agustus 2019 20:55 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 08 337 2089566 istana-sudah-terima-laporan-kisruh-pelabuhan-marunda-zUaZe14TCl.jpg KSP Moeldoko (foto: Okezone)

JAKARTA - Perselisihan proyek pembangunan Pelabuhan Marunda, Jakarta Utara masih terus bergulir antara PT Karya Citra Nusantara (KCN) dan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN). Dalam kasus tersebut, Mahkamah Agung (MA) pun akan memproses berkas permohonan kasasi yang diajukan PT Karya Citra Nusantara (KCN). Selain itu, pihak Istana pun sudah menerima surat tersebut.

“Pembangunan pelabuhan (Marunda) ya? Oh itu pernah melapor ke saya juga. Yang saya terima itu berikat (KBN), sudah lama belum ada tindaklanjut,” kata Kepala Staf Presiden (KSP), Moeldoko kepada wartawan, Kamis (8/8/2019).

Namun, Moeldoko tidak begitu memahami konflik antara KBN dengan KCN dalam mengerjakan proyek Pelabuhan Marunda. Karena menurut dia, saat ini kedua pihak tersebut sedang menempuh jalur hukum.

“Saya kurang mendalami cuma sudah laporan, karena itu masuk ranah hukum saya tidak ikut campur. Itu terlalu teknis, teknis hukum banget. Saya tidak mengikuti,” sambungnya.

 Pelabuhan

Berdasarkan informasi dari situs Mahkamah Agung, permohonan kasasi ini teregistrasi Nomor Perkara: 2226 K/PDT/2019, tanggal masuk 1 Juli 2019 dan asal Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Kemudian, permohonan kasasi diajukan oleh PT Karya Citra Nusantara (KCN) dengan termohon PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN).

Untuk diketahui, KCN merupakan anak perusahaan dari PT Karya Tekhnik Utama (KTU) dan KBN yang dibentuk untuk mengelola Pelabuhan Marunda. KCN dibentuk setelah KTU menang tender kerja sama sebagai mitra bisnis pada tahun 2004, pembangunan pelabuhan dari Muara Cakung Drain sampai Sungai Blencong dengan pembagian saham 15 persen KBN (tidak terdelusi) dan 85 persen dimiliki KTU.

Masalah muncul pada akhir 2012, KBN meminta revisi komposisi saham yang akhirnya disepakati menjadi 50:50. Namun, KBN tak mampu menyetor modal hingga batas waktu yang ditentukan karena ternyata tidak diizinkan oleh Kementerian BUMN dan Pemda DKI Jakarta sebagai pemilik saham KBN.

Kejadian setelahnya, KBN malah tetap menganggap memiliki saham 50 persen di KCN. Tak hanya itu, KBN mengirimkan surat penghentian pembangunan Pelabuhan Marunda kepada KCN dan berlanjut pada gugatan perdata ke pengadilan untuk membatalkan konsesi.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini