nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polri Beberkan Kasus Kekerasan Seksual terhadap Anak oleh Napi di Penjara

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Sabtu 03 Agustus 2019 13:58 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 03 337 2087264 polri-beberkan-kasus-kekerasan-seksual-terhadap-anak-oleh-napi-di-penjara-uiVEMyaMWC.jpg Diskusi Polemik MNC Trijaya Network tentang kekerasan anak. (Foto: Sarah Hutagaol/Okezone)

JAKARTA – Kekerasan seksual terhadap anak atau child grooming tidak hanya dilakukan oleh pelakunya secara langsung, melainkan juga melalui media sosial. Hal itu sebagaimana disampaikan Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra.

Ia mengungkapkan, bahkan kekerasan seksual kepada anak pernah dilakukan salah satu narapidana berinisial TR di Lapas Surabaya yang melakukan aksinya melalui media sosial dari dalam tahanan.

Baca juga: Polri Masih Kesulitan Ungkap Kasus Kekerasan pada Anak 

"Yang bersangkutan didakwa dengan kasus pelecehan seksual terhadap anak, atau yang sebenarnya sedang menjalani hukuman pidana penjara 7 tahun 6 bulan, dan sekarang menjalani 2 tahun," ucap Asep dalam Diskusi Polemik MNC Trijaya bertema 'Child Grooming dan Darurat LGBT' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (3/8/2019).

Ilustrasi kekerasan anak. (Foto: Asiaone)

Dia juga mengatakan pihaknya merasa bingung lantaran telepon genggam bisa dimiliki dan digunakan oleh napi di dalam penjara. Ketika ditelusuri, ditemukan 1.300 foto dan video yang tidak senonoh.

Baca juga: Kekerasan Seksual di Sekolah Masih Marak, Ancaman Nilai Jelek Jadi Andalan "Predator" 

"Dari catatan yang ada 1.300 foto dan video yang kita dapat sita dari alat komunikasi dan laptop," ungkap Asep.

Korban dari napi tersebut sudah sebanyak 50 anak yang usianya berkisar 9 hingga 14 tahun. Asep menjelaskan bahwa TR melakukan aksinya dengan menggunakan akun palsu dan menggaet anak-anak di bawah umur.

"Dia menggunakan akun fake, palsu, dan menyamar sebagai guru di dunia maya, dan kemudian dia mengundang follower murid tadi, klaim sebagai gurunya," papar Asep.

Baca juga: Sebut Kekerasan terhadap Anak Kejahatan Luar Biasa, Menteri Yohana: Harus Jadi Perhatian Bersama 

Melalui akun itu, TR meminta kepada anak-anak yang mengikuti media sosialnya untuk mengirim foto atau video tidak senonoh. Jika tidak mengirim, TR melakukan ancaman yang membuat anak-anak tersebut ketakutan.

"Nah dari kegiatan itu, kenapa anak-anak ini terbawa ke sana? karena ada sebuah ancaman kalau dia tidak mengirimkan itu akan diberi jelek, jadi anak-anak tersiasati seolah dia adalah gurunya di sekolah, dan ketakutan itu dia akhirnya mengirim foto," tutup Asep.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini