nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Belajar dari Bung Karno, Jabatan Menteri Bukan untuk Gagah-gagahan

Fahreza Rizky, Jurnalis · Sabtu 03 Agustus 2019 12:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 03 337 2087195 belajar-dari-bung-karno-jabatan-menteri-bukan-untuk-gagah-gagahan-DiUIiBpDQG.jpg Presiden RI pertama, Soekarno (foto: istimewa)

JAKARTA - Kontestasi Pemilu 2019 telah usai. Joko Widodo-Ma’ruf Amin selaku Presiden dan Wakil Presiden Terpilih periode 2019-2024 tengah menyusun kabinet untuk mengefektifkan jalannya roda pemerintahan di periode kedua. Para calon menteri di era Jokowi hendaknya memiliki sifat jujur, sederhana dan siap menderita. Sifat seperti itu sudah mulai jarang ditemui dari figur pejabat negara.

Jika menilik jauh ke belakang, ketika era Presiden RI pertama Soekarno, sejumlah menteri kerap menjadi sorotan karena memiliki sifat terpuji. Mereka antara lain Ir Sutami, Oei Tjoe Tat, Hoegeng Iman Santoso, Adam Malik dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Sutami dikenal sebagai menteri termiskin karena kesederhanaannya. Sedangkan Oei Tjoe Tat menjunjung tinggi kemanusiaan karena sikapnya yang tidak ingin membeda-bedakan suku, agama, rasial, dan lainnya. Sementara itu, Hoegeng dikenal sebagai pribadi jujur, anti-korupsi serta beritegritas. Tak ayal hidupnya pas-pasan demi menjaga integritasnya.

Baca juga: Jadi Menteri untuk Melayani, Bukan Mengeruk Kekayaan & Bermewah-mewahan

Di sisi lain, Adam Malik terbilang menteri yang cukup sukses di era Orde Lama dan Orde Baru kendati hanya lulusan sekolah dasar (SD). Rendahnya tingkat Pendidikan tak membuatnya berhenti menorehkan prestasi. Lalu Sultan Hamengkubuwono IX yang sudah melalang buana menduduki jabatan politik dikenal dengan keteladanannya.

Lipsus Menteri

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, mengatakan figur menteri seperti di era Presiden Soekarno sangat dibutuhkan pada era Jokowi. Pasalnya saat ini sulit ditemui pejabat publik yang berkarakter sederhana, jujur dan siap menderita. Kalau pun ada jumlahnya hanya sedikit.

“Ya sangat-sangat diperlukan. Hari ini kan kita sulit menemukan menteri yang jujur dan sederhana. Sifat jujur itu harus dimiliki oleh menteri di era Jokowi. Karena jika menterinya tidak jujur, maka akan hancurlah kementerian yang akan dipimpinnya,” kata Ujang kepada Okezone, belum lama ini.

Baca juga: Pengamat: Gerindra Alami "Turbulensi" Politik & Rugi Besar jika Masuk Kabinet

Menurut Ujang, menjadi menteri bukanlah ajang untuk gagah-gagahan alias menampilkan kesombongan. Pembantu Presiden sesungguhnya bertugas sebagai pelayan masyarakat yang senantiasa mengedepankan kepentingan publik. Sebagai abdi negara, menteri harus siap menderita dan tidak ‘mereguk’ kekayaan dari jabatannya.

“Menteri juga harus sederhana. Harus siap menderita. Karena jadi menteri bukan untuk gagah-gagahan. Bukan untuk mengeruk kekayaan. Dan bukan pula untuk bermewah-mewahan. Menjadi menteri itu untuk melayani. Melayani kepentingan dan aspirasi rakyat Indonesia,” terangnya.

Meski demikian, Ujang mengakui sulit menemukan figur menteri seperti di era Soekarno pada zaman kekinian. Ia mengaku belum menemukan figur pembantu presiden ataupun tokoh yang betul-betul jujur dan bersih.

Presiden Soekarno/foto: Getty Images

Hampir semua pejabat yang menjadi menteri diduga banyak memiliki kasus. Semestinya, lanjut Ujang, kisah inspiratif para menteri di era Soekarno ini dapat menjadi motivasi agar menteri era Jokowi selanjutnya tidak mementingkan harta dan jabatannya semata.

“Tentu harus jadi inspirasi dan motivasi agar menteri-menteri era Jokowi tidak mementingkan harta dan jabatan semata. Tapi harus siap menderita dalam melayani masyarakat. Karena pada hakikatnya, pemimpin itu pelayan masyarakat,” jelas Ujang.

“Cari menteri yang bisa melayani. Bukan ingin dilayani. Jika sikap melayani itu ada pada menteri-menteri Jokowi, maka persoalan-persoalan yang ada akan bisa dituntaskan,” pungkas dia.

(wal)

Berita Terkait

Liputan Khusus

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini