nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dear Jokowi, Pilihlah Menteri Sederhana dan Berintegritas seperti Era Soekarno

Fahreza Rizky, Jurnalis · Sabtu 03 Agustus 2019 12:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 03 337 2087193 dear-jokowi-pilihlah-menteri-sederhana-dan-berintegritas-seperti-era-soekarno-EE4JQVVX5f.jpg Foto Istimewa

 JAKARTA - PDI Perjuangan (PDIP) menganggap aspek integritas menjadi kunci yang harus dimiliki calon menteri di pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Keberadaan figur berintegritas amat dibutuhkan demi terselenggaranya roda pemerintahan yang baik dan bersih.

Dalam sejarah perpolitikan nasional, keberadaan orang-orang yang memegang teguh integritas selalu dikenang khalayak luas. Misalkan saja deretan menteri Presiden RI pertama Soekarno. Dalam kabinet Dwikora II, pembantu Bung Karno ini istiqamah menjadi pelayan rakyat.

Mereka yang dielu-elukan antara lain, Ir Sutami, Oei Tjoe Tat, Hoegeng Iman Santoso, Adam Malik dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sutami dikenal sebagai menteri termiskin karena kesederhanaannya.

Sedangkan Oei Tjoe Tat menjunjung tinggi kemanusiaan karena sikapnya yang tidak ingin membeda-bedakan suku, agama, rasial, dan lainnya. Sementara itu, Hoegeng dikenal sebagai pribadi jujur, anti-korupsi serta beritegritas. Tak ayal hidupnya pas-pasan demi menjaga integritasnya.

 Presiden Jokowi

Di sisi lain, Adam Malik terbilang menteri yang cukup sukses di era Orde Lama dan Orde Baru kendati hanya lulusan sekolah dasar (SD). Rendahnya tingkat Pendidikan tak membuatnya berhenti menorehkan prestasi. Lalu Sultan Hamengkubuwono IX yang sudah melalang buana menduduki jabatan politik dikenal dengan keteladanannya.

Baca juga: Sutami, Sosok Menteri Sederhana dengan "Sejuta" Karya Monumental

Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, mengatakan hikmah yang bisa dipetik dari menteri Bung Karno ialah integritas. Menurut dia hal ini sudah dipraktikan sendiri oleh Bung Karno dan Jokowi selaku Kepala Negara. Gaya hidup kedua kepala negara itu sangat sederhana.

“Zaman Soekarno dari contoh-contoh tadi sebetulnya yang paling penting itu integritas. Coba kalau integritasnya rendah, sepintar apapun tentu tidak akan dikenang. Pak Soekarno sendiri sudah memberikan contoh seperti juga Pak Jokowi yang hidupnya sederhana,” ucap Eva kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Adam Malik, Jurnalis yang Sukses Jadi Menteri Meski Tak Lulus Sekolah Dasar

Eva berujar, baik Soekarno maupun Jokowi sudah mewakafkan dirinya untuk kepentingan bangsa dan negara. Karena itu, ia berharap calon menteri Jokowi di Kabinet Kerja jilid II dapat memegang teguh integritas sebagaimana dicontohkan menteri di era Bung Karno dan Presiden Jokowi sendiri.

“Jadi sampai sekarang makin dibutuhkan saat ini integritas dari para pembantu tersebut,” imbuh dia.

 Lipsus Menteri

Eva melihat kesederhanaan Jokowi seperti yang ditampilkan para menteri di era Bung Karno. Gaya hidup yang bersahaja, kerja keras, jujur dari Kepala Negara ini dinilai bisa menginspirasi para pembantunya untuk bersikap serupa. Ia pun yakin menteri yang akan direkrut Jokowi pasti mempertimbangkan aspek integritasnya.

Baca juga: Dialah Hoegoeng, sang Jenderal Polisi Paling Sederhana dan Jujur

“Semua menteri yang menjadi model di zaman Soekarno itu adalah gaya hidup yang sederhana. Itu sama seperti Pak Jokowi. Jadi nanti pasti yang direkrut mengikuti gaya bekerja, berpakaian dan gaya hidup sama sederhananya dengan Pak Jokowi,” ujar Eva.

Selain mampu bekerja keras dan memegang teguh integritas, para calon menteri Jokowi juga dituntut untuk kukuh menjaga ideologi Pancasila dari kelompok-kelompok yang mengusung ideologi impor sehingga menimbulkan radikalisme. Apalagi radikalisme disinyalir mulai menjangkiti beberapa kementerian.

“Tantangan saat ini yaitu radikalisme yang makin menguat. Jadi (menteri) tak hanya lakukan upaya eksekusi (program), tapi juga menjaga agar radikalisme bisa dibersihkan di kementerian-kementerian,” tutur Eva.

“Jadi para menteri punya beban tambahan. Selain eksekusi program, tapi juga mampu untuk melakukan deradikalisasi sehingga di birokrasi yang dipimpinnya bisa fokus pada output dari kerja-kerja tersebut,” pungkasnya. (wal)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini