nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hamengkubuwono IX, Sultan Dibalik Kata "Istimewa" Yogyakarta

Adi Rianghepat, Jurnalis · Sabtu 03 Agustus 2019 11:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 03 337 2087190 hamengkubuwono-ix-sultan-dibalik-kata-istimewa-yogyakarta-EIxu2B1k6Y.jpg Sri Sultan Hamengkubowono IX (foto: Gahetna.nl)

Siapa pernah mengira, Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah seorang tentara yang berdinas sebagai prajurit TNI AD dan berpangkat Letnan Jenderal.

Hal ini tentu beralasan, karena seorang Sultan Yogyakarta sejatinya hanya bertugas memimpin kerajaan atau kesultanan daerah itu dan menjadi pimpinan (gubernur) wilayahnya. Namun itu berbeda dengan Sultan Yogyakarta IX putera dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan permaisuri Kangjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara ini.

Sebagai prajurit TNI, jenderal bernama lengkap Gusti Raden Mas Dorodjatun Hamengkubuwono IX yang terlahir pada 12 April 1912 itu pernah berjibaku berjuang mempertahankan kemerdekaan di masa-masa sulit setelah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

Sejumlah pertempuran yang pernah dilakoni sang tentara yang berdinas pada 1945-1953 itu antara lain, memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949, Revolusi Nasional Indonesia, Agresi Militer Belanda II serta Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil. Kesemuanya dihadapi dengan kemenangan dan tercatat dalam catatan sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

 Sultan

Tak berhenti di situ, Sultan Yogyakarta yang dinobatkan pada 18 Maret 1940 dengan gelar "Ngarsa Dalem Sampéyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwono Sénapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningrat" itu juga adalah yang pertama kali memilih berseberangan dengan Penjajah Belanda dan kuat memperjuangkan dan mempertahankan kemeredekaan Indonesia.

Sebagai Sultan yang sejak usia 4 tahun hidup terpisah dengan orang tuanya, Hamengkubuwono IX punya semangat juang yang tak kenal pudar.

Kemandiriannya yang tertanam dalam kehidupannya sejak balita itulah telah mendorongya untuk menjadikan negeri ini merdeka bebas dari intervensi penjajah. Bahkan berbekal pendidikannya yang dimiliki, jebolan di Europeesche Lagere School Yogyakarta, Hoogere Burgerschool Semarang, Hoogere Burgerschool te Bandoeng serta menamatkan kuliah di Rijkuniversiteit yang sekarang dikenal sebagai Universitas Leiden Belanda itu, sudah memperjuangkan status Yogyakarta sebagai daerah istimewa.

Permintaan status khusus ‘Istimewa” bagi Yogyakarta itu tidak hanya dimintakan dari pemerintah RI, namun juga dari pemerintah Belanda yang kala itu masih menduduki Indonesia. Bersama diplomat senior asal Belanda Dr Lucien Adam, Sultan bernegosiasi untuk mendapatkan hak otonomi itu.

Usai mendapatkan status khusus ‘istimewa’ itu, Sultan lalu mulai menata wilayah istimewa itu. Dia pun lalu diangkat menjadi Gubernur DIY sejak 1945.

Di masa pemerintahan itulah, sejumlah kebijakan dikeluarkan Sultan. Bersama Paku Alam IX, Sultan lalu memilih menggabungkan wilayah kekuasaannya Yogyakarta ke pangkuan RI.

Pasca-bergabung dengan RI, Sultan lalu mulai melakukan sejumlah gerakan gerilya dengan membantu para pejuang termasuk berdonasi untuk mendukung perjalanan pemerintahan Indonesia setelah proklamasi.

Di tengah kesulitan ekonomi yang menjerat perjalanan pemerintahan Indonesia saat itulah, bekas Menteri Utama Bidang Ekuin di era Presiden Soekarno itu lalu menghibahkan anggaran 6.000.000 Golden.

Dana sumbangan dari kekayaan Bapak Pramuka Indonesia itu dipakai oleh pemerintah Indonesia untuk membiayai jalannya roda pemerintahan, kebutuhan hidup para pemimpin dan para pegawai pemerintah lainnya.

Posisi Sultan Hamengkubuwono saat itu sangat kuat, maka Belanda tak pernah mengutak-atik dan mengganggu sultan. Bahkan pasca-perundingan Renville dan Agresi Militer ke-2, saat Belanda mengasingkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir ke Pulau Bangka, Sultan tetap berada di Yogyakarta. Pemerintah Belanda saat itu sangat menghormati kekuatan dan pengaruh Sultan.

Perjalanan perjuangan mempertahankan kemerdekaan 19 Agustus 1945 terus dilakukan. Secara diam-diam, istana tempat kediamannya lalu dipakai sebagai tempat persembunyian para prajurit dan pejuang rakyat. Bantuan logistik juga diberikan demi memperlancar pergerakan perjuangan tersebut.

Sultan pun pernah ditunjuk Presiden Soekarno saat itu untuk menjadi penjaminb keamanan bagi tentara Belanda yang sedang memindahkan pasukannya dari Yogyakarta atas kesepakatan yang diperoleh dari Perjanjian Roem Royen.

Kian terdesak pada 27 Desember 1949 Belanda lalu menyerahkan kedaulatan di Istana Merdeka Jakarta yang saat itu adalah Istana Rijkswik. Pada saat sama, juga dilakukan penyerahan kedaulatan dari Wakil Tinggi Mahkota Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) dan diterima Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai wakil Pemerintahan RIS kala itu.

Karier dan perjuangannya yang dilakukan pada masa-masa perjuangan sebelum dan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 telah memberikannya jalan baginya mendapatkan sejumlah jabatan.

Sebelum diangkat menjadi Wakil Presiden ke 2 di era Presiden Soeharto pada 23 Maret 1973–23 Maret 1978, Bapak Pramuka Indonesia peraih penghargaan Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) pada tahun 1973 itu juga pernah berkiprah sebagai menteri.

Sejumlah kementerian yang pernah dijejakinya sejak era Soekarno hingga Soeharto yaitu, Menteri Koordinator Ekonomi Keuangan dan Industri Indonesia (Menko Ekuin) Kabinet Pembangunan I sejak 25 Juli 1966–29 Maret 1973 pada masa Pemerintahan Presiden Soeharto.

Menteri Negara Indonesia era Presiden Soekarno 2 Oktober 1946 – 20 Desember 1949. Menteri Pertahanan Indonesia 15 Juli 1948 – 20 Desember 1949 dan Wakil Perdana Menteri ke-5 pada 6 September 1950 – 27 April 1951 di zaman Pemerintahan Presiden Soekarno.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta terlama sejak 4 Maret 1950 hingga 2 Oktober 1988 itu akhirnya menutup usianya pada Minggu malam 2 Oktober 1988 di George Washington University Medical Center, Amerika Serikat karena serangan jantung.

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia periode 14 Agustus 1961 sampai 27 November 1974 itu akhirnya dikebumikan di pemakaman para Sultan Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini