nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Adam Malik, Jurnalis yang Sukses Jadi Menteri Meski Tak Lulus Sekolah Dasar

Adi Rianghepat, Jurnalis · Sabtu 03 Agustus 2019 10:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 03 337 2087189 adam-malik-jurnalis-yang-sukses-jadi-menteri-meski-tak-lulus-sekolah-dasar-Sw5ICUfVWV.jpg Adam Malik (foto: Wikipidea)

SIAPA yang tak kenal Adam Malik, Pemilik nama lengkap Adam Malik Batubara. Banyak kalangan lebih mengenal sosok kelahiran Pematangsiantar, Sumatera Utara 22 Juli 1917 sebagai Wakil Presiden RI ketiga.

Ternyata putra ketiga dari sepuluh anak pasangan Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis itu juga memiliki sederet pengalaman berkarier sepanjang hidupnya baik di dunia bisnis (sebagai pedagang), jurnalis, politisi dan juga dunia pergerakan.

Tentunya sejumlah karier yang digelutinya hingga di ujung usianya itu terlahir dari situasi dan dorongan semangatnya memperjuangkan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 silam.

Sejak kecil semangat nasionalisme dan patriotisme menggelora dalam sanubarinya. Api semangat itulah yang terus mendorong si penikmat film koboi, pembaca buku dan fotografer ini mengasah segala kemampuan dan talentanya. Dunia perkumpulan dan pergerakan menjadi basis perjuangannya sejak akil balik bersama sejumlah rekannya.

Memiliki kemampuan kepemimpinan dan intelektual, meskipun diperoleh dari belajar mandiri alias swasiswa atau autodidak, Adam Malik terus berjuang dalam dunia pergerakan dan perkumpulan. Bahkan dia pernah dikurung selama dua bulan karena melanggar aturan larangan berkumpul oleh pemerintah di masa itu.

 Adam Malik

Hukuman yang dialami Adam Malik kala itu ternyata tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang. Meskipun tak menyelesaikan studinya di Sekolah Agama Madrasah Sumatera Thawalib Parabek di Bukittinggi pascamenuntut ilmu pada pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Pematangsiantar, namun Adam Malik tetaplah cerdas.

Hal itulah membuat dia selalu menjadi pilihan dan panutan dunia pergerakan kala itu. Bahkan sangking pandainya, pada usianya yang ke-17 tahun, Adam Malik sudah dipercayakan memimpin Partai Indonesia (Partindo) Pematang Siantar dan Medan di posisi ketua sejak 1934 hingga 1935. Di titik inilah Adam Malik merasa memiliki tanggung jawab untuk terus berjuang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah saat itu.

Hijrah ke Jakarta

Tak puas bila pergerakannya hanya meliputi wilayah kelahirannya di Pematang Siantar dan sekitarnya, tepat berusia 20 tahun, Adam Malik memilih pindah ke Jakarta untuk melanjutkan perjuangan dan pergerakannya.

Berbekal kepandaiannya menulis yang kala itu sempat menulis untuk Koran Pelita Andalas dan Majalah Partindo serta fotografinya, bersama sejumlah rekan, Adam Malik lalu mendirikan sebuah lembaga (perusahaan) pers bernama Antara yang menjadi cikal bakal Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara saat ini.

Adam Malik memilih awal berkantor di Buiten Tijgerstraat 38 Noord Batavia (Jalan Pinangsia II Jakarta Utara) kemudian pindah Jalan Pos Utara 53 Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Mangambil posisi sebagai redaktur dan wakil direktur, Adam Malik lalu menunjuk Mr. Soemanang sebagai direktur. Bermodal sejumlah peralatan tua, berupa satu meja tulis, satu mesin tulis satu mesin roneo, mereka menyuplai berita ke berbagai surat kabar nasional.

Perjalanan pergerakan dan perjuangannya terus berlanjut di dunia kewartawanan. Pada 1941 Mr. Soemanang dan Djohan Sjahroezah diutus Adam Malik bertemu Sugondo Djojopuspito untuk menjadikannya sebagai direktur utama Antara. Adam Malik terus berada pada posisi redaktur dan wakil direktur.

Di tengah kerja-kerjanya sebagai seorang jurnalis, Adam Malik juga membagikan jiwa dan semangat pergerakannya untuk terus berjuang membebaskan bangsa dan negara dari tangan penjajah.

Adam Malik pun lalu bergabung ke dalam sebuah organisasi pergerakan rakyat bernama Dewan Pimpinan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) di Jakarta pada era 1940 hingga 1941. Dan pada 1945 dia lalu menjadi anggota Pimpinan Gerakan Pemuda untuk persiapan Kemerdekaan Indonesia di Jakarta.

Perjuangan pun terus berlanjut pada masa penjajahan Jepang pasca-Belanda tekuk lutut. Di masa Nipon inilah, Adam Malik memilih untuk turun ke jalan dan melakukan gerilya bersama sejumlah gerakan pemuda untu kemerdekaan Indonesia.

Bersama Sukarni, Chaerul Saleh dan Wikana, Adam Malik ‘menculik’ Bung Karno dan Bung Hatta dan dilarikan ke Rengasdengklok untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Tak hanya itu, Adam Malik bahkan menggerakan rakyat kala itu untuk ikut berkumpul di Lapangan Ikada seputaran Monas dan Gambir Jakarta untuk menyaksikan proklamasi kemerdekaan Indonesia itu.

Pasca-kemerdekaan

 

Usai kemerdekaan, semangat pergerakan dan perjuangan Adam Malik terus berkobar. Lagi-lagi karena kecerdasan dan jiwa kepemimpinannya, Adam Malik lalu ditunjuk para pemuda kala itu untuk memimpin Komite Van Aksi. Saat itu Adam Malik menjabat sebagai Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) untuk periode 1945-1947.

Tak hanya bertindak sebagai ketua, Adam Malik di posisi itu lalu diberi kewenangan untuk menyusun pemerintahan. Dia pun lalu ditunjuk sebagai Ketua II Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), sekaligus merangkap jabatan sebagai anggota Badan Pekerja KNIP.

Adam Malik lalu dilirik banyak mata. Dia pun mendirikan Partai Rakyat serta Partai Murba. Partai itulah yang menghantarnya menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) hasil pemilu 1956.

Tak berhenti di situ, karier Adam Malik terus bersinar. Tidak terbatas di legislatif, namun mulai merangkak ke dunia eksekutif.

Berbekal komunikasi dan diplomasinya yang baik, Adam Malik lalu dipercayakan menjadi Duta Besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Uni Soviet dan Polandia. Inilah awal Adam Malik memulai kiprahnya di dunia internasional dan menjadi seorang diplomat ulung.

Pasca-menjadi duta besar, pada 1962, Adam Malik lalu ditunjuk menjadi Ketua Delegasi Republik Indonesia untuk perundingan Indonesia dengan Belanda terkait Irian Barat yang dilaksanakan di Washington DC Amerika Serikat.

Meniti Karier sebagai Menteri

Kecerdasan, kemampuan memipin dan diplomasi yang dimiliki Adam Malik lalu membawanya menjadi seorang menteri. Dia lalu dipercaya sebagai Menteri Perdagangan sekaligus menjabat sebagai Wakil Panglima Operasi ke-I Komando Tertinggi Operasi Ekonomi (KOTOE) pada Kabinet Kerja IV 1963.

Karier ini pun terus melaju seiring dengan kemampuan yang dimilikinya. Bahkan meskipun rezim berganti, Adam Malik masih tetap ‘dipakai’ dan tetap menjadi pioner pembangunan di negeri ini.

Pada 1964, Adam Malik yang kala itu telah masuk menjadi anggota Partai Golkar setelah mundur dari Partai Murba, mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Delegasi untuk Komisi Perdagangan dan Pembangunan di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Dan pada 1966 Adam Malik lalu diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri II (Waperdam II) sekaligus Menteri Luar Negeri RI di Kabinet Dwikora II.

Berlanjut sebagai menteri sama di Kabinet Ampera I 1966 dan Kabinet Ampera II, berlanjut ke Kabinet Pembangunan I dan Kabinet Pembangunan II.

Kariernya sebagai menteri luar negeri lalu menghantarnya menjadi Ketua Majelis Umum PBB. Dia adalah satu-satunya sosok orang Indonesia saat itu yang bisa mencapai puncak posisi sebagai ketua di Majelis Umum PBB. Adam Malik jugalah sebagai pelopor terbentuknya ASEAN pada 1967 silam.

Pada 1978, Adam Malik Batubara lalu diangkat sebagai Wakil Presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Kiprah seorang Adam Malik sepanjang usianya itulah akhirnya dia dianugerahi berbagai penghargaan antara lain Bintang Mahaputera Kelas IV dan Bintang Adhi Perdana kelas II serta sebagai Pahlawan Nasional, usai Adam Malik menutup mata pada usia ke-67 di Bandung, Jawa Barat pada 5 September 1984 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Setidaknya kiprah dan sepak terjang serta gelora semangat Adam Malik terus tertanam di setiap jiwa generasi anak bangsa ini untuk membangun Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini