nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Oei Tjoe Tat, Loyalis Soekarno Pembela Hak Etnis Tionghoa

Wijayakusuma, Jurnalis · Sabtu 03 Agustus 2019 10:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 03 337 2087188 oei-tjoe-tat-loyalis-soekarno-pembela-hak-etnis-tionghoa-3HfGjhlyJV.jpg Oei Tjoe Tat (foto: wikipedia)

INDONESIA di masa kepemimpinan Soekarno, mencatat banyak sejarah. Salah satunya adalah kehadiran sosok Oei Tjoe Tat, tokoh etnis Tionghoa pertama yang diangkat menjadi menteri pada era orde lama. Oei Tjoe Tat menjadi pembantu sekaligus orang kepercayaan Bung Karno di masa Demokrasi Terpimpin sampai masa surutnya kekuasaan Presiden RI pertama itu.

Lahir di Solo pada 26 April 1922, Oei Tjoe Tat merupakan seorang politikus yang terkenal dengan pemikirannya yang luas serta memiliki banyak gagasan. Sebagai seorang minoritas pun, Oei memiliki jiwa nasionalisme dan pluralisme yang tinggi. Spirit inilah yang akhirnya menghantarkan dia menuju puncak karir sebagai Menteri Negara yang ditunjuk langsung oleh Bung Karno.

Sebagai lulusan Universiteit van Indonesie (sekarang Universitas Indonesia) pada tahun 1948, Oei Tjoe Tat tampil sebagai figur yang cakap dalam berorganisasi maupun di kancah perpolitikan nasional. Di masa mudanya, Oei dikenal aktif di berbagai organisasi politik. Pengalaman organisasinya dimulai saat bergabung di Serikat Rakyat dan Buruh Surakarta pada masa revolusi kemerdekaan.

Tahun 1953 Oei terpilih menjadi wakil presiden Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI). Dan bersama rekannya, Oei kemudian mendirikan Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) pada tahun 1954. Baperki sendiri disebutkan memiliki kedekatan dengan PKI karena punya kesamaan dalam gagasan.

Selama menjadi petinggi Baperki, Oei Tjoe Tat bersama beberapa rekannya, seperti Siauw Giok Tjhan dan Yap Tiam Hien, sangat menentang konsep asimilasi sebagai solusi permasalahan minoritas Tionghoa di Indonesia. Mereka menolak bila etnis Tionghoa harus menghilangkan seluruh identitas asli untuk menjadi warga negara Indonesia seutuhnya. Asimilasi menurut Oei cs tak ubahnya diskriminasi dan tidak sesuai dengan motto Bhineka Tunggal Ika yang mengakui keberagaman berbagai etnis dan budaya.

Konsep asimilasi ini bahkan menjadi pro dan kontra yang menyebabkan konflik di antara kaum etnis Tionghoa sendiri. Mereka yang mendukung konsep ini diantaranya Harry Tjan Silalahi, Kristoforus Sindunata, Ong Hok Ham, serta H Junus Jahja. Sebagai bentuk penolakan, Oei bersama rekannya kemudian mengajukan konsep integrasi yang diyakini dapat menciptakan harmonisasi seluruh etnis di Indonesia, tanpa menghilangkan kebudayaan masing-masing etnis.

Kegigihan Oei dalam memperjuangkan konsep integrasi, nampaknya sepaham dengan pemikiran pluralisme Bung Karno. Hal ini tersirat dalam pidato Bung Karno saat pembukaan Kongres Nasional ke-8 Baperki, yang menyinggung soal asal daerah dalam penggunaan nama seseorang. Bung Karno menekankan, bahwa untuk menjadi orang Indonesia, etnis apapun tidak perlu mengganti nama.

Buah pemikiran Bung Karno itulah yang kemudian membuat Oei Tjoe Tat bergabung bersama Partai Indonesia (Partindo) sebagai wadah politiknya di tahun 1960. Hingga akhirnya ia pun diangkat menjadi Menteri Negara Diperbantukan Presidium Kabinet Kerja periode 1963–1966, karena dinilai memiliki kecakapan dalam berorganisasi dan mempunyai pikiran yang lurus.

Dalam buku yang berjudul "Memoar Oei Tjoe Tat, Pembantu Presiden Soekarno" yang ditulisnya sendiri, Oei membeberkan bagaimana proses dirinya bisa menjadi menteri. Saat itu diceritakan pasukan Cakrabirawa meneleponnya untuk datang ke Istana Bogor menemui Presiden, tanpa diberitahu duduk perkaranya. Dengan dipenuhi rasa cemas dan penasaran, Oei kemudian mendatangi istana dan mendapat "wawancara khusus" dengan Presiden.

Dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan Bung Karno saat itu, Oei mengaku seperti sedang diuji. Dan saat ia diminta untuk menjadi Menteri Negara membantu presiden dan presidium (Dr. Subandrio, Dr. Leimena, dan Chaerul Saleh), Oei yang terkejut spontan menjawab dengan kata-kata polos, "mengagetkan, tak perah saya impikan dan inginkan".

Rupanya jawaban Oei tersebut tak berkenan bagi Bung Karno, yang kemudian memberondongnya lagi dengan beberapa pertanyaan untuk menguji loyalitasnya sebagai kader Partindo dan lainnya. Hingga akhirnya Oei pun menerima amanat Presiden dan menjadi etnis Tionghoa pertama yang menduduki posisi menteri.

Tak lama setelahnya, Oei kembali membuat Bung Karno geram dengan pertanyaan, apakah dirinya perlu mengganti nama usai menjabat sebagai menteri. Lalu dengan nada berapi-api Bung Karno menjawab, "Wat? Je bent toch een Oosterling? Heb je gen respect meer voor je vader, die je die naam heft gegeven?" (Apa? Kamu kan orang Timur? Apa kamu sudah kehilangan hormat pada ayahmu, yang memberi kamu nama itu?).

Jawaban Presiden membuat Oei menangkap, bahwa Bung Karno bukanlah seorang rasialis atau asimilasionis. Hal inilah yang membuatnya semakin mengagumi sosok Bung Karno.

Seiring waktu, Oei Tjoe Tat pun menjadi orang kepercayaan Presiden. Di tahun 1964 ia mendapat tugas khusus untuk melobi berbagai pihak, saat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia. Oei lalu melakukan penyelidikan secara rahasia dan sangat berbahaya.

Saat konfrontasi masih berlangsung, Indonesia mengalami peristiwa Gerakan Satu Oktober (Gestok) 1965, yang berujung pada pembantaian massal para simpatisan PKI dan Bung Karno. Berbagai analisis terkait pembantaian terlontar pada saat Sidang Kabinet 6 Oktober di Bogor. Tanggal 11 November mulai ada aksi demonstrasi untuk mengadili mereka yang terlibat dalam peristiwa G 30 S. Nama Oei Tjoe Tat menjadi salah satu yang dicatat demonstran.

Sampai akhirnya keluarlah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tanggal 11 Maret 1966. Keesokan harinya, Oei Tjoe Tat bersama 14 orang menteri Kabinet Dwikora, ditahan oleh Soeharto. Penahanan ini sebagai aksi bersih-bersih (de-Soekarnoisasi) oleh rezim orde baru. Tanpa melalui proses peradilan, Oei ditahan selama satu dekade hingga 1976 dengan tuduhan terlibat makar. Setahun kemudian Oei pun dibebaskan setelah muncul desakan dari berbagai pihak termasuk petinggi orde baru, Adam Malik.

Usai menghirup udara bebas, Oei melakoni profesi sebagai pengacara yang mendapat pengawasan ketat rezim orde baru, sebagaimana mantan tahanan politik yang lain. Saat diwawancarai oleh Mayjen EJ Kanter perihal pilihan politiknya, Oei menyatakan akan terus berada di belakang Soekarno. Sedikit pun tak terbersit rasa penyesalan di benaknya. Ia akan tetap berpegang teguh pada kebenaran dan kejujuran.

Tahun 1992, Oei harus menjalani serangkaian operasi akibat gangguan prostat dan saluran kemih yang dideritanya. Lalu di tahun 1995, Oei menerbitkan memoar yang berisi kiprah politiknya selama era Bung Karno, serta tragedi yang menimpanya. Tulisan Oei tersebut dianggap mengusik rezim orde baru sehingga dilarang peredarannya.

Setelah berjuang melawan prostat selama kurang lebih 4 tahun, Oei Tjoe Tat akhirnya wafat pada 26 Mei 1996. Soekarnois itu tetap konsisten berpegang pada pendirian dan keteguhan hati hingga akhir hayatnya. Tak hanya loyalitas kepada Bung Karno, tapi juga kesetiaannya untuk membela hak-hak kaum Tionghoa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini