nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penegak Hukum Paling Jujur Itu Benar-Benar Ada, Ia Bernama Hoegeng Imam Santoso

Wijayakusuma, Jurnalis · Sabtu 03 Agustus 2019 09:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 02 337 2087105 penegak-hukum-paling-jujur-itu-benar-benar-ada-ia-bernama-hoegeng-imam-santoso-V6Dhnpilde.jpg Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso (Foto: Ist)

MEMASUKI usia kemerdekaan ke-74, Indonesia di berbagai wilayah masih terus dijajah dengan praktik-praktik korupsi. Ibarat penyakit, korupsi telah menjalar di setiap sendi kehidupan dan seolah menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah kalangan bahkan menyebutkan bahwa Indonesia dalam kondisi darurat korupsi.

Kehadiran KPK sebagai lembaga antirasuah pun, dikatakan tak memberi efek kuat. Meski telah banyak yang menjadi pesakitan akibat terjaring OTT, tak lantas mengurungkan niat mereka yang senang berbuat korup. Karenanya yang menjadi persoalan utama budaya korupsi sejatinya berhubungan dengan akhlak dan moralitas yang dibangun dalam diri sebuah bangsa.

Menemukan sosok yang jujur dan bersih, ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, sangat sulit dan langka. Namun di era kepemimpinan Soekarno, sosok tersebut ada dan bahkan menjadi legenda di tanah air khususnya di kepolisian.

Adalah Jenderal Polisi (Purn) Drs Hoegeng Imam Santoso, seorang yang dikenal dengan integritasnya dalam memberantas korupsi yang merajalela pada masa itu. Sosok Hoegeng seperti oase di tengah kerinduan publik terhadap penegak hukum yang jujur, bersih, bersahaja dan berkomitmen tinggi terhadap sumpahnya. Pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921 itu, memiliki dedikasi tinggi terhadap amanat yang diembannya selama menjabat.

Lipsus Menteri Soekarno

Terlahir dari keluarga jaksa, sifat jujur Hoegeng sudah ditanamkan orangtuanya sejak ia kecil. Ayahnya yang pernah menjabat sebagai kepala kejaksaan di Pekalongan sering berpesan kepada Hoegeng, "yang penting dalam kehidupan manusia adalah kehormatan. Jangan merusak nama baik dengan perbuatan yang mencemarkan". Amanat sang ayah inilah yang kemudian menjadikan sosok Hoegeng memiliki teladan bersih dan jujur, serta menginspirasi banyak orang.

Lulus dari sekolah kepolisian tahun 1952, Hoegeng ditempatkan sebagai polisi di Jawa Timur. Beberapa tahun setelahnya, Hoegeng dipindahtugaskan ke Sumatera Utara sebagai Kepala Direktorat Reskrim. Saat itu Sumatera Utara terkenal sebagai daerah penyelundupan barang-barang ilegal dan perjudian. Banyak polisi, tentara bahkan jaksa yang telah disuap oleh para bandar judi.

Ketika baru mendarat di Pelabuhan Belawan, Hoegeng didekati oleh seorang utusan bandar judi yang menyampaikan selamat datang sambil memberitahukan bahwa sudah ada mobil dan rumah yang dihadiahkan untuknya dari para pengusaha. Namun Hoegeng menolak secara halus dan memilih tinggal di hotel sampai rumah dinasnya tersedia. Selang dua bulan, Hoegeng kembali menolak barang-barang mewah pemberian bandar judi yang dikirim ke rumah dinasnya.

Setelah di Medan, Hoegeng pun ditugaskan ke Jakarta sebagai Kepala Jawatan Imigrasi. Sebelum bertugas, Hoegeng menutup usaha toko bunga yang dijalankan istrinya.

"Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya," jelas Hoegeng kala itu kepada sang istri.

Kemudian pada tahun 1965, atas usulan Sultan Hamengkubuwono IX, Hoegeng diangkat menjadi Menteri Iuran Negara kabinet 100 Menteri era Bung Karno. Presiden dikabarkan menyukai sifat Hoegeng yang jujur dan tidak neko-neko.

Suatu ketika Hoegeng diceritakan bersama menteri lainnya, dipanggil oleh Presiden ke istana. Bung Karno ingin memperkenalkan kawan lamanya saat kuliah di Technische Hoogeschool bernama Ir Konijnenberg seorang warga Belanda. Dikarenakan Konijnenberg akan bertolak ke negaranya melalui Amerika, Presiden lalu menanyakan oleh-oleh apa yang diinginkan para menterinya. Disaat banyak menteri yang meminta ini-itu, Hoegeng malah melontarkan keinginan sederhana.

"Di New York saya punya teman, baru saja saya terima suratnya. Jadi kalau Anda sampai di New York, tolong hubungi teman saya lewat telefon dan bilang suratnya sudah saya terima," ujar Hoegeng kepada Konijnenberg.

Hoegeng

Untuk sejenak Konijnenberg terdiam. Ia merasa heran atas permintaan sederhana Hoegeng. Presiden yang sangat paham dengan karakter Hoegeng, hanya tertawa dan bergumam, "ya begitu, sudah. Dari Hoegeng itu saja".

Kisah inspiratif Hoegeng Imam Santoso berlanjut saat dirinya menjabat sebagai Kapolri (9 Mei 1968- 2 Oktober 1971). Kala itu Hoegeng pernah dirayu oleh seorang pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan. Wanita itu meminta Hoegeng agar tak melanjutkan kasusnya ke pengadilan dengan imbalan suap. Hoegeng yang tak punya waktu berkomitmen dengan suap menyuap, lantas menolak mentah-mentah seluruh hadiah yang ditawarkan si wanita.

Hoegeng sempat terheran lantaran ada beberapa koleganya di kepolisian dan kejaksaan yang memintanya untuk melepaskan wanita tersebut. Belakangan Hoegeng mendapat kabar, wanita itu tidak segan-segan tidur dengan pejabat demi memuluskan aksi penyelundupannya.

Hoegeng juga menaruh perhatian pada kasus perkosaan Sum Kuning yang kala itu diduga melibatkan anak-anak pejabat. Hoegeng bahkan membentuk tim khusus yang diberi nama Tim Pemeriksa Sum Kuning, pada Januari 1971.

"Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak," tegas Hoegeng.

Namun pada tanggal 2 Oktober 1971, Hoegeng diberhentikan sebagai Kapolri oleh Presiden Soeharto, yang mana oleh sejumlah pihak dinilai sengaja untuk menutup kasus ini. Ia sempat ditawari menjadi duta besar di Belgia, namun ditolak karena merasa tidak cocok.

Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004 di usinya ke-82 tahun. Kisah inspiratifnya dituangkan dalam sebuah buku autobiografi "Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan" yang ditulis oleh Ramadhan KH dan Abrar Yuska. Kata-kata mutiara yang terkenal dari seorang Hoegeng, yakni "baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik", sempat dikemukakan kembali oleh mantan Kapolri Jenderal Polisi Widodo Budidarmo.

Sosok Hoegeng yang jujur dan bersih selama mengabdi kepada negara, bahkan sampai dibuat anekdot oleh Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Bahwa hanya ada tiga polisi di Indonesia yang tidak bisa disuap, patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

1
2

Berita Terkait

Liputan Khusus

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini