nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polisi Bongkar 6 Modus Kejahatan Fintech

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Jum'at 02 Agustus 2019 17:54 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 02 337 2086966

JAKARTA - Masyarakat kembali diresahkan dengan finansial technologi (fintech). Pasalnya, dari pinjaman online itu terkadang banyak tindak pidana yang kerap terjadi.

Kasubdit II Dit Tipid Siber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo menjelaskan, fintech merupakan salah satu digital ekonomi. Masyarakat diminta untuk lebih bijaksana dalam menyikapi perkembangan digital ekonomi agar tak menjadi korban.

"Transaksi fintech itu tidak harus bertatap muka, skemanya antara peminjam dengan pemodal ini ditemukan dalam satu aplikasi. Aplikasi yang ada di marketplace itu menjadi sarana prasarananya untuk proses pinjem meminjam di dunia fintech," kata Rickynaldo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (2/8/2019).

Rickynaldo menyebut beberapa tindak pidana yang sering terjadi di fintech terdapat enam kategori. Antara lain, pertama terkait dengan penyadapan data. Kedua yakni penyimpanan data pribadi.

Baca Juga: "Terminator" Kongo Dinyatakan Bersalah Atas Kejahatan Perang dan Kemanusiaan

Fintech

Ketiga yaitu pengiriman gambar porno dan pencemaran nama baik. Selanjutnya pengancaman dan manipulasi data. Terakhir yakni ilegal akses.

"Hal itulah yang bisa kita jerat dalam pasal-pasal yang sudah terangkum dalam UU ITE. Lebih daripada itu belum ada kami temukan pasal-pasal lain yang bisa menjerat para fintech ilegal ini," tuturnya.

Menurutnya, kasus fintech ilegal tak bisa diantisipasi dengan maksimal. Hal ini dikarenakan sebagian besar server berada di luar negeri. Ia menyebut hanya sekitar 20 persen saja server fintech berada di Indonesia.

"Hampir sebagian besar fintech ilegal servernya di luar negeri," ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat tak melakukan pinjaman di fintech ilegal. Sebab, fintech ilegal rata-rata meminta syarat mencantumkan data pribadi.

Saat ini, kata dia, pihaknya tengah menangani tujuh kasus yang berkaitan dengan fintech. Ia pun mengungkapkan kendala penanganan kasus fintech dimana korban enggan melaporkan secara langsung.

"Para peminjam ini tidak mau melaporkan scara langsung atau menunjuk kuasanya untuk membuat LP (Laporan Polisi). Sehingga kami berusaha menjemput bola dengan cari para korban untuk kita bantu buat LP," tutup dia.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini