nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Petinggi PT Rohde & Schwarz Didakwa Suap Fayakhun Sebesar USD911 Ribu

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Senin 29 Juli 2019 15:18 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 29 337 2084987 petinggi-pt-rohde-schwarz-didakwa-suap-fayakhun-sebesar-usd911-ribu-wRthmDJflf.jpg Managing Director PT Rohde and Schwarz, Erwin Sya'af Arief, didakwa suap Fayakhun Andriadi saat sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (29/7/2019). (Foto : Arie Dwi Satrio/Okezone)

JAKARTA – Managing Director (MD) PT Rohde and Schwarz, Erwin Sya'af Arief didakwa telah menyuap anggota Komisi I DPR RI Fraksi Golkar, Fayakhun Andriadi, sebesar 911.480 Dollar Amerika Serikat oleh tim ‎jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Erwin Arief didakwa menyuap Fayakhun bersama-sama dengan pemilik PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah serta korporasinya. Uang suap tersebut disinyalir agar Fayakhun mengupayakan penambahan anggaran Badan Keamanan Laut (Bakamla) terkait pengadaan proyek satelit monitoring dan drone tahun 2016.

"Terdakwa telah memberi atau menjanjikan sesuatu berupa uang dengan jumlah seluruhnya sebesar USD911.480 dari PT Merial Esa kepada Fayakhun Andriadi," kata Jaksa KPK, M Takdir Suhan, saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (29/7/2019).

Awalnya, staf khusus bidang perencanaan anggaran di Bakamla, Ali Fahmi Habsyi menemui dua petinggi PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah dan Muhammad Adami Okta pada Maret 2016. ‎Saat itu, Ali Fahmi menawarkan kepada Fahmi Darmawansyah untuk ikut proyek Bakamla dengan syarat.

Ekspresi Wajah Datar Fayakhun Andriadi Usai Sidang Vonis

Syaratnya ialah harus mengikuti arahan dan menyediakan commitment fee. Kemudian, Fahmi Darmawansyah dan Adami Okta menghubungi Erwin Arief untuk bekerjasama dalam proyek pengadaan satelit monitoring dan drone di Bakamla. Erwin Arief sepakat dan akan menyuplai barang-barang yang dibutuhkan.

Selanjutnya, pada April 2016, Erwin meminta Fayakhun selaku Komisi I DPR agar mengupayakan proyek satelit monitoring di Bakamla dianggarkan dalam APBN-P tahun 2016. Erwin juga menjanjikan adanya commitment fee untuk pengurusan anggaran tersebut.

Permintaan penambahan anggaran diperkuat oleh Ali Fahmi saat Fayakhun berkunjung ke kantor Bakamla pada April 2016. ‎Pada pertemuan selanjutnya, Ali Fahmi menyampaikan kepada Fayakhun bahwa akan disiapkan commitment fee sebesar 6 persen dari pagu anggaran proyek tersebut.

Pada saat proses penganggaran di DPR, Erwin aktif sebagai perantara komunikasi antara Fayakhun dengan Fahmi Darmawansyah. Fayakhun memberikan sinyal positif atas pengajuan tambahan anggaran dari Bakaml‎a sebesar Rp3 triliun dalam usulan APBN-P 2016 yang di dalamnya masuk proyek satelit monitoring dan drone.

Managing Director (MD) PT Rohde and Schwarz, Erwin Sya'af Arief, diduga suap Fayakhun Andriadi saat persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (29/7/2019). (Foto : Arie Dwi Satrio/Okezone)

Fayakhun lantas meminta kepada Erwin untuk menyampaikan kepada Fahmi Darmawansyah soal adanya penambahan commitment fee 1 persen untuk dirinya. Total commitment fee yang semula 6 persen menjadi 7 persen. ‎Fahmi pun kemudian melalui Erwin menyanggupi permintaan Fayakhun.


Baca Juga : Artis Lawas Inneke Koesherawati & Bos PT Merial Esa Dipanggil KPK

Fahmi Darmawansyah selanjutnya mentransfer uang sebesar USD911.480 kepada Fayakhun lewat sejumlah rekening luar negeri. Uang tersebut lantas diambil Fayakhun melalui stafnya, Agus Gunawan secara tunai. Uang tersebut pun digunakan Fayakhun untuk kepentingan politiknya.

Atas perbuatannya, Erwin Arief didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a Juncto Pasal 15 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999‎ tentang pemberantasan korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 56 ke-2 KUHP.


Baca Juga : Periksa Inneke Koesherawati, KPK Selisik Aktivitas PT Merial Esa

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini