nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jamaah Haji Milenial, Naik Haji di Usia Belia!

Widi Agustian, Okezone · Sabtu 20 Juli 2019 09:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 20 337 2081270 jamaah-haji-milenial-naik-haji-di-usia-belia-4ogNGduskR.jpg Singgit, jamaah haji milenial (Foto: Widi Agustian/Okezone)

MADINAH - Sebanyak 63 persen jamaah haji Indonesia merupakan lanjut usia atau lansia. Hal ini pun menjadi hal yang harus diwaspadai oleh semua pihak.

Sebenarnya, jika jamaah haji semakin muda, maka tantangan pemerintah pun akan semakin mudah. Tapi sayangnya, jamaah haji yang masih muda, atau katakanlah milenial ternyata masih sangat minim.

Data jamaah lunas berdasarkan usia yang dikutip dari Kementerian Agama (Kemenag), Selasa (16/7/2019), menunjukan, jumlah jamaah haji milenial, atau yang merupakan kelahiran era 1980-an, dan kini berusia 30 tahun ke bawah masih sangat minim.

Haji 2019

Jamaah yang berusia di bawah 20 tahun tercatat sebanyak 435 orang, sementara jamaah dengan rentang usia 21-30 tahun sebanyak 4.303 orang.

Total jamaah dengan usia di bawah 30 tahun tercatat 4.738 jamaah. Jumlah ini setara dengan 3,2 persen dibandingkan dengan total jamaah lunas.

Selanjutnya, rentang usia 31-40 tahun tercatat sebanyak 19.526 jamaah, dan tidak ada jamaah pada rentang usia 41-50 tahun. Jamaah pada rentang usia 51-60 tahun ada 77.384 jamaah, kelompok usia 61-70 tahun mencapai 46.915 jamaah.

Jamaah Milenial

Moh Al Jufri Ahyi atau Singgit merupakan salah satu jamaah haji yang bisa berangkat ke Tanah Suci di usia belia, 17 tahun. Dia pun menunggu berangkat haji cukup lama, sekira 8 tahun. "Usia 9 tahun didaftarkan haji. Mau kelas 3 SD," kata dia di Madinah.

Saat ini Singgit masih bersekolah di Pesantren Gontor. Demi menunaikan ibadah haji ini, Singgit telah meminta izin ke sekolahnya selama dua bulan. Singgit merupakan jamaah haji asal Pamekasan Madura, kloter SUB 11, yang baru tiba di Madinah pada Rabu 10 Juli 2019 sekitar pukul 08.00 waktu Arab Saudi. Dia berangkat haji bersama kedua orang tuanya.

Visi dan misinya berhaji pun memang agak berbeda dengan jamaah yang sudah berumur, yang umumnya ingin mendoakan anak dan cucunya. Dia malah mengingatkan generasi muda untuk menjadi orang yang selalu mencari ridho Allah, dan berbakti kepada orang tua.

"Jadilah orang yang selalu mencari ridho Allah membahagiakan orang tua, dan yang bisa meluruskan umat," pesan Singgit.

Berbeda dengan Singgit, tujuh bersaudara asal Pamekasan Madura ini juga memiliki cerita yang menarik. Salah satu dari tujuh bersaudara tersebut, Adibah yang berusia 24 tahun bercerita, mereka sebenarnya 13 bersaudara, dia sendiri anak keenam. Mereka semua telah mendaftar haji sejak 2010. Empat kakak mereka telah lebih dulu berhaji. Semantara dua adiknya tidak ikut. "usianya 12 dan 16 tahun," kata Adibah.

Ayah mereka telah meninggal dunia dan meninggalkan warisan kepada anak-anaknya tersebut. Lalu, dia melanjutkan, anak-anaknya sepakat menggunakan uang warisan itu untuk mendaftar haji.

Hal ini merupakan pesan dari almarhumah ibu mereka. "Waktu masih hidup, umi meminta anak-anak disetorkan haji. Biar nanti dilunasi sendiri jika mampu," jelas dia.

Ibadah haji yang mereka lakukan ini merupakan bentuk bakti mereka kepada ayah atau sang abah. Mereka berharap, uang yang digunakan untuk kebaikan menjadi pahala tersendiri bagi abah. "Kami anak-anak kompak untuk menggunakan berhaji, biar jadi pahala untuk abah," lanjut Adibah.

Adibah berpesan kepada anak-anak muda Indonesia untuk memulai ibadah haji sedini mungkin, agar dalam usia muda sudah bisa berhaji. "Kalau sudah tua, ibadah susah. Kasihan kami melihat orang-orang tua di kloter kami yang kesulitan. Jadi kalau punya rezeki segera sisihkan untuk haji," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini