nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lapor Bareskrim, Warga Jerman Mengaku Diperas saat Urus Sertifikasi Halal MUI

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Kamis 18 Juli 2019 15:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 18 337 2080590 lapor-bareskrim-warga-jerman-mengaku-diperas-saat-urus-sertifikasi-halal-mui-Uxh2eMhmDC.jpg Bareskrim Polri (Foto: Okezone)

JAKARTA - Mabes Polri terus melakukan pendalaman kasus dugaan pemerasan dan pungutan liar perpanjangan akreditasi sertifikasi halal Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam kasus ini, warga Jerman Mahmoud Tatari mengaku diperas oknum MUI dan warga Selandia Baru, Mahmoud Abo Annaser. 

Kuasa hukum Tatari, Ahmad Ramzy menjelaskan, pemerasan itu diduga dilakukan di bawah kendali Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Lukmanul Hakim.

"Modusnya adalah pungli. Ketika akreditasi tersebut habis masa waktunya, sudah dilakukan pemenuhan syarat-syarat, korespondensi dengan pihak MUI sudah dilakukan. Tetapi tidak ada tindak lanjut, tahu-tahu ada pihak ketiga (Annaser) yang menelepon klien kami untuk memintakan uang terkait perpanjangan akreditasi sertifikasi tersebut," katanya di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (18/7/2019).

Baca Juga: Bareskrim Bongkar Kasus Pemerasan Bermodus Layanan Video Call Sex

Menurut Ramzy, pelaku Mahmoud Abo Annaser melakukan pemerasan terhadap kliennya sebesar 50 Euro atau setara Rp780 juta per tahun. Aawalnya korban tidak ingin membayar, namun setelah dipertemukan dengan pihak LPPOM MUI, korban akhirnya percaya.

"Setelah bertemu dengan oknum LPPOM. Klien kami baru percaya, kemudian melakukan pembayaran tersebut," tuturnya.

Setelah melakukan pertemuan dan pembayaran, korban mengonfirmasi ke pihak MUI, dan baru menyadari bahwa Mahmoud Abo Annaser itu bukan konsultan di MUI. "Setelah dilakukan cek ternyata semua ini adalah kosong tidak ada permintaan (uang)," ucapnya.

Sadar dirinya merasa diperas, korban langsung melaporkan ke Polres Bogor pada November 2017. Namun, laporan tersebut mandek hingga saat ini.

"Tapi tidak ada kemajuan sama sekali terlihat seperti dilindungi oknum New Zealand dan MUI ini. Karena kita membongkar sesuatu yang besar terkait MUI," ujarnya.

Ilustrasi

Lantaran kasusnya jalan di tempat, korban melaporkan kembali ke Mabes Polri pada hari ini, dan pihak penyidik langsung melakukan gelar perkara kasus tersebut.

"Hari ini, kita gelar perkara di Mabes Polri karena saya melihat sudah ada intervensi di Polres Bogor," ungkapnya.

Baca Juga: Peras Orang Pakai Foto Selingkuhan, Pemuda Bertato Diciduk Polisi

Sementara kuasa hukum MUI, Iksan Abdullah membantah adanya aliran dana masuk ke pihak MUI. "MUI tak ada keterlibatan dan menerima sepeser pun. Ini murni perbuatan warga negara asing yaitu Mahmoud Abo Annaser," ujar Iksan.

Menurut Iksan, proses perpanjangan sertifikasi halal tidak ada pungutan biaya sepeser pun. Untuk memperpanjang sertifikasi halal, MUI hanya mengirimkan auditor ke pihak terkait.

Iksan merasa heran kepada pelapor yang mempercayai konsultan dari pihak luar dalam proses perpanjangan sertifikat halal. Padahal, pelapor mengaku sudah menjadi mitra MUI selama 20 tahun.

"Sudah 20 tahun lebih mitra MUI. Kenapa dia gunakan jasa konsultan," ujarnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini