nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

TGPF: Serangan ke Novel Baswedan untuk Membuat Korban Menderita

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 18 Juli 2019 08:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 18 337 2080382 tgpf-serangan-ke-novel-baswedan-untuk-membuat-korban-menderita-OcpyAfOwz0.jpg Novel Baswedan kembali bekerja di KPK. (Foto: Okezone)

TIM Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian menemukan fakta bahwa ada enam kasus yang berpotensi menimbulkan serangan air keras ke wajah penyidik KPK, Novel Baswedan.

Juru Bicara TGPF, Nur Kholis, mengatakan serangan tidak terkait masalah pribadi, tapi diyakini karena pekerjaan Novel sebagai penyidik KPK.

"Serangan wajah korban bukan untuk membunuh, tapi membuat korban menderita. Motifnya sakit hati atau balasan," kata Nur Kholis dalam keterangan pers di Mabes Polri, Rabu 17 Juli 2019, sebagaimana dikutip dari BBC News Indonesia.

Baca juga:  Wadah Pegawai KPK Sebut Hasil Investigasi TGPF Kasus Novel Mengecewakan 

Kronologi kasus Novel Baswedan. (Foto: BBC News Indonesia)

Enam kasus tersebut, menurut Nur Kholis, mencakup:

1. Kasus korupsi e-KTP.

2. Kasus korupsi mantan ketua MK, Akil Mochtar.

3. Kasus korupsi Sekjen Mahkamah Agung.

4. Kasus korupsi Bupati Buol.

5. Kasus korupsi wisma atlet.

6. Kasus kriminal sarang burung walet di Bengkulu.

"Kasus yang ditangani ini melibatkan high profile. Kami menduga orang-orang yang dimaksud tidak melakukan sendiri, tapi menyuruh orang lain," ucap Nur Kholis.

Baca juga: TGPF Menduga Kasus Novel Baswedan Berkaitan dengan Pekerjaannya di KPK 

Ia menambahkan, TGPF merekomendasikan Kapolri untuk mendalami fakta keberadaan satu orang tidak dikenal yang mendatangi rumah Novel Baswedan pada 5 April 2017 dan dua orang tidak dikenal yang berada di tepat wudu Masjid Al Ihsan menjelang subuh pada 10 April 2017 dengan membentuk tim teknis dengan kemampuan spesifik.

Menanggapi rekomendasi tersebut, Kadiv Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal mengatakan institusinya akan membentuk tim teknis lapangan.

"Tim teknis lapangan akan segera dibentuk. Dipimpin oleh Bapak Kabareskrim akan segera menunjuk seluruh personel dalam tim dengan kapasitas terbaik, yang dididik untuk melakukan scientific investigasi," kata Iqbal.

Baca juga: Kuasa Hukum Novel Baswedan Sejak Awal Pesimis Dibentuknya TGPF 

TGPF Kasus Novel Baswedan. (Foto: Okezone)

Kenapa Pelaku Tidak Diungkap?

Iqbal mengatakan hal yang sulit dari kasus Novel Baswedan adalah keterbatasan alat bukti. Dalam pengusutan kasus ini, kepolisian telah memeriksa 74 saksi dan memeriksa 114 toko kimia.

Selain itu, sebanyak 38 CCTV telah diperiksa serta melibatkan kepolisian dari Australia. "Bahkan juga melibatkan tim eksternal asistensi dari KPK," ungkapnya.

Ia mencontohkan sejumlah kasus di mana kepolisian membutuhkan waktu lama dalam mengungkap pelakunya. Salah satunya adalah kasus bom Kedubes Filipina pada 2000.

Baca juga: Polri Siap Bentuk Tim Teknis Kasus Novel Dipimpin Kabareskrim 

Kepolisian baru bisa mengungkap eksekutornya pada 2003. Kemudian pada 2008 baru bisa mengungkap tokoh intelektualnya.

"Sabarlah, ini masalah waktu. Jangan membawa kasus ini kepada asumsi opini dan lain-lain," kata Iqbal.

Hal serupa diungkapkan anggota TGPF, Hendardi. Ia mengatakan, selama enam bulan mengusut kasus ini, timnya belum bisa mengungkap pelakunya.

"Ini bukan pembenaran atau apa. Memang setiap kasus memiliki karakter dan tingkat kesulitan masing-masing," katanya.

Baca juga: TGPF Rekomendasikan Kapolri Bentuk Tim Teknis Ungkap Kasus Novel 

Novel Baswedan. (Foto: Okezone)

Hendardi mengatakan, proses pencarian fakta oleh TGPF berangkat dari hasil penyelidikan polisi. TGPF, kata dia, mengurai kembali alibi para saksi dalam kasus ini.

"Kami mulai dari prinsip tidak memercayai alibi yang ada, dan kami melakukan penyelidikan ulang, interviu ulang, reka ulang TKP, kemudian pengembangan saksi-saksi," paparnya.

Dalam wawancara khusus dengan BBC News Indonesia saat TGPF mulai dibentuk, Novel Baswedan mengutarakan keraguan kebenaran kasusnya akan terungkap.

"Yang pertama, saya melihat bahwa (tim gabungan ini) tidak ada sesuatu hal yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Sehingga, saya masih tidak percaya bahwa (kasus) ini akan diungkap dengan benar," ucap Novel.

Baca juga: Tim Gabungan Pakar Juga Pelajari Sketsa Wajah Pelaku Penyiraman Novel Baswedan 

Ia melanjutkan, "Belakangan setelah proses ini, saya memahaminya bahwa ini adalah sesuatu yang tidak ingin diungkap dengan tuntas. Saya melihat seperti tidak serius menangkap pelakunya. Itu yang saya tanyakan."

Novel Baswedan. (Foto: Okezone)

TGPF sendiri terdiri 65 orang yang antara lain terdiri dari mantan wakil pimpinan KPK dan guru besar hukum pidana Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji; peneliti dari LIPI, Hermawan Sulistyo; Ketua Setara Institut, Hendardi; Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti; mantan Komisioner Komnas HAM, Nur Kholis dan Ifdhal Kasim.

Baca juga: Polri Pastikan Komjen Iriawan Tak Terkait Kasus Novel Baswedan 

Novel Baswedan disiram air keras oleh beberapa orang tidak dikenal pada 11 April 2017 dan sampai sekarang tidak terungkap siapa pelaku penyerangan maupun aktor di belakangnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini