nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahfudz Siddiq Ungkap Ada Relawan yang Tak Setuju Garbi Jadi Parpol

Fadel Prayoga, Jurnalis · Rabu 17 Juli 2019 07:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 17 337 2079884 mahfudz-siddiq-ungkap-ada-relawan-yang-tak-setuju-garbi-jadi-parpol-0Law8jtjul.jpg Mahfudz Siddiq.

JAKARTA – Rencana Organisasi Kemasyarakatan (ormas) Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) jadi partai politik diprediksi akan melewati jalan terjal. Pasalnya, di internal Garbi masih ada yang tidak setuju dengan agenda perubahan tersebut. Hal itu diungkap Politisi PKS Mahfudz Siddiq yang juga tergabung dalam ormas bentukan Fahri Hamzah tersebut.

“Ada yang setuju Garbi jadi parpol dan ada juga yang ingin Garbi tetap menjadi ormas kebangsaan,” kata Mahfudz kepada Okezone, Rabu (17/7/2019).

Seperti diketahui, rencana Garbi akan bertransformasi menjadi parpol dilontarkan oleh Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dan mantan Presiden PKS Anis Matta. Anis Matta saat ini masih terdata sebagai Majelis Syuro PKS, menyatakan siap keluar dari partai itu setelah Garbi jadi parpol.

Garbi

“Kalau nanti (Garbi) menjadi parpol, otomatis saya keluar (dari PKS),” kata Anis Matta di sela sebuah diskusi di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu 14 Juli 2019.

Baca juga: Garbi Mau Jadi Parpol, PKS Bakal Tergerus?

Mahfudz menyebut pernyataan dari kedua tokoh itu langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan sahabat Garbi. Sehingga, dalam waktu dekat seluruh pengurus Garbi di tingkat provinsi akan duduk bersama untuk memutuskan langkah ke depan.

“Ya tentu saja para pengurs Garbi yang sudah terbentuk perlu duduk bersama. Karena perlu keputusan bulat dan kuat soal ini,” ujarnya.

Menurut dia, jika seluruh relawan dan aktivis memutuskan Garbi menjadi sebuah parpol, maka mereka berpeluang menjadi partai pembeda dari yang lainnya pasca-Pilpres 2019.

“Tapi saya pribadi berpendapat bahwa pasca-Pilpres 2019 ini, Indonesia memerlukan energi politik baru dengan ide baru dan cara baru. Karena banyak terjadi perubahan radikal di masyarakat, di negara dan juga di dunia. Energi politik baru ini sangat mungkin membutuhkan parpol genre baru,” katanya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini