Ketokohan Fahri Hamzah & Anis Matta Kurang Signifikan, Garbi Tak Bisa Gembosi PKS

Fadel Prayoga, Okezone · Rabu 17 Juli 2019 06:12 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 17 337 2079871 ketokohan-fahri-hamzah-anis-matta-kurang-signifikan-garbi-tak-bisa-gembosi-pks-raekOQqRjO.jpg Garbi.

JAKARTA - Organisasi masyarakat (ormas) Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) yang muncul jelang Pemilu 2019 dipastikan akan jadi partai politik. Namun, keberadaan Garbi yang digagas oleh mantan kader PKS Fahri Hamzah dinilai tak akan mampu menggembosi barisan pemilih PKS.

Pengamat politik Ubedilah Badrun mengatakan, ketokohan Fahri Hamzah dan eks Presiden PKS Anis Matta yang merupakan punggawa Garbi dinilai gagal menggerus barisan massa yang memilih PKS di Pileg 2019.

Saat Pileg 2014, kata dia, ketika kepemimpinan PKS di bawah Anis Matta, partai berlambang bulan sabit kembar itu hanya mendapat suara sekira 8 juta suata. Sementara, saat Sohibul Iman memimpin partai, perolehan suara PKS justru bertambah menjadi 11,5 juta suara di Pileg 2019.

Fahri Hamzah

"Ini artinya ketokohan Anis Matta dan Fahri Hamzah tidak terlalu signifikan," kata pria yang karib disapa Ubed kepada Okezone, Rabu (17/7/2019).

Baca juga: Garbi Mau Jadi Parpol, PKS Bakal Tergerus?

Ubed menjelaskan, berdasarkan penelitiannya, setiap ormas yang berubah menjadi parpol tentu harus disokong dana yang cukup besar. Salah satu contohnya, Partai Gerindra, NasDem, Hanura dan Perindo yang dahulunya sebuah ormas dan sukses menjadi partai karena didukung dengan kekuatan finansial yang besar.

Menurut dia, tokoh-tokoh yang tergabung di dalam Garbi seperti Fahri Hamzah, Anis Matta dan Mahfudz Sidik bukan merupakan politisi yang memiliki keuangan yang cukup besar.

Anis Matta

"Mereka akan tertatih-tatih, kecuali ada pemodal besar yang membiayai mereka. Jadi, Garbi menjadi partai itu dimungkinkan ditafsirkan ada pemodal besar di belakangnya," kata dia.

Ubed menyebut, bila Garbi hanya mengandalkan basis massa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), faksi Fahri Hamzah tak akan mampu meraih basis massa yang banyak. Sebab, di dalam KAMMI juga ada faksi lain yang memilih jalan akademik.

"Dipimpin oleh Fitra Asril, Muhammad Najib dan Briyan Yuliarto. Mereka lebih mengakar di KAMMI faksi intelektual," katanya.

Selain itu, kata dia, di dalam tubuh PKS itu tidak mengenal loyalitas pada bekas ketua umum atau bekas presiden partai, tetapi kesetiaan kader terjadi pada kebenaran dan keadilan yang dibingkai oleh pemimpin mereka yang legal atau saat sah mendapatkan amanah.

"Anis Matta itu sudah jadi mantan, jadi tidak berlaku padanya loyalitas personal. Jadi berdirinya Garbi menjadi partai tidak akan menjadi ancaman PKS," ujar dia.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini