nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Walimatus Safar, Corak Keragaman Jelang Keberangkatan Haji di Indonesia

Fahreza Rizky, Jurnalis · Sabtu 13 Juli 2019 10:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 12 337 2078233 walimatus-safar-corak-keragaman-jelang-keberangkatan-haji-di-indonesia-y9hM4evZBF.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilakukan oleh umat Muslim jika mampu. Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, Indonesia selalu mengirimkan jamaah haji ke Tanah Suci dengan jumlah besar tiap tahunnya.

Corak keragaman Indonesia yang ditandai dengan banyaknya budaya, adat istiadat, kepulauan, perbedaan historis, dan lain-lain, mempengaruhi praktik ritus keagamaan di kalangan kaum Muslim Tanah Air itu sendiri, tidak terkecuali soal haji.

Misalnya saja soal tradisi walimatus safar yang kerap dilakukan masyarakat di beberapa daerah. Ritus ini tidak dikenal dalam manasik haji karena memang tak berhubungan dengan tata cara ibadah sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Namun oleh sebagian kalangan pelaksanaan ritus ini diyakini tak masalah untuk dilakukan, sepanjang niatnya tidak untuk riya' dan tak dianggap sebagai bagian dari ibadah haji.

Lipsus Haji

Tradisi walimatus safar dilakukan dalam bentuk mengaji, berdoa serta kumpul bersama sanak saudara, tetangga, anak yatim maupun fakir miskin sebelum seseorang berangkat haji ke Tanah Suci. Harapannya semata untuk meraih ridho Allah SWT.

Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Kementerian Agama (Kemenag), Muhajirin Yanis, mengatakan tradisi masyarakat sebelum pergi haji tersebut tak masalah untuk dilakukan sepanjang tidak menyalahi syariat agama.

"Sepanjang tidak menyalahi syariat, tidak masalah. Kita kan ada kearifan lokal, (misalnya saja) walimatus safar," kata Muhajirin saat berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.

Menurut Muhajirin, tradisi berdoa dan mengaji bersama sebelum berangkat haji adalah hal yang baik untuk dilakukan. Pasalnya, berhaji adalah tugas suci dalam rangka melaksanakan rukun Islam kelima. Sudah pasti melantunkan ayat Alquran disertai doa bersama merupakan hal yang positif untuk memulai perjalanan suci.

"Jadi bikin acara doa (bersama), kumpulin keluarga sebelum berangkat tentu harapannya agar mereka didoakan. Saya kira tidak bertentangan (dengan syariat). Sejauh ini tidak ada (tradisi yang bertentangan dengan syariat)," terang Muhajirin.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini