nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berantas Terorisme, Menhan Minta Intensifkan Fungsi Intelijen

Fahreza Rizky, Jurnalis · Selasa 09 Juli 2019 10:49 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 09 337 2076447 berantas-terorisme-menhan-minta-intensifkan-fungsi-intelijen-veVEz3qhzD.jpg Menhan Ryamizard Ryacudu (Foto: Ist)

JAKARTA - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu membuka simposium bertajuk 'Penataan Wilayah Pertahanan dalam Rangka Mewujudkan Pertahanan Negara yang Tangguh.' Acara tersebut digelar di Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Acara ini dihadiri mantan Wapres RI Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Pakar Planologi Universitas Trisakti Yayat Supriatna, Dirjen Tata Ruang Kementerian ATR/BPN Abdul Kamarzuki, dan Dirjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri Muhammad Hudori.

Baca Juga: Pemerintah Didesak Segera Terbitkan PP Kompensasi Korban Terorisme 

Ryamizard mengatakan, setiap ancaman terhadap sebagian wilayah Indonesia merupakan ancaman terhadap kedaulatan nasional secara keseluruhan. Karena itu, ancaman tersebut harus dihadapi dengan mengerahkan seluruh komponen bangsa.

"Dalam hal ini, komando kewilayahan berkewajiban menyusun tata ruang wilayah pertahanan," katanya di lokasi, Selasa (9/7/2019).

 Simposim

Kemenhan, kata Ryamizard, telah mendesain strategi pertahanan negara 'smart power' yang berbasis perang semesta atau total warfare. Konsep pertahanan ini merupakan kombinasi antara pembangunan kekuatan hard power dan kekuatan soft power.

Kekuatan hard power terdiri dari kekuatan rakyat plus kesiapan ops TNI atau alat utama sistem persenjetaan (alutsista). Sedangkan kekuatan soft power terdiri dari mindset dan diplomasi pertahanan kawasan.

"(Ini disiapkan) guna mengantisipasi tiga dimensi ancaman, yaitu ancaman fisik yang nyata dan belum nyata, serta ancaman non fisik yang dapat mengancam ideologi negara," ujarnya.

Ryamizard melanjutkan, penanganan aksi kejahatan terorisme melalui pendekatan pertahanan semesta adalah bagian dari fungsi pertahanan negara untuk melindungi keselamatan bangsa. Penanganan ancaman terorisme dilaksanakan dengan pendekatan preventif, koersif, preemptive atau represif, yang disesuaikan dengan perkembangan situasi yang dihadapi serta berdasarkan keputusan politik.

"Karena itu aparat teritorial perlu turut berperan dalam penanganan dengan pola preventif lebih diutamakan dengan mengintensifkan fungsi intelijen, komando kewilayahan, serta unsur-unsur militer lainnya," tutur Ryamizard.

Baca Juga: Terduga Teroris di Magetan Punya Peran Penting di JI 

Fungsi intelijen di setiap kesatuan dan strata, baik dalam wujud manusia maupun teknik, mesti diberdayakan baik untuk mengungkap jaringan dan aktivitas di seluruh wilayah Indonesia maupun anasir-anasir di luar wilayah Indonesia.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini