Gelombang Panas di Timur Tengah dan Eropa Tak Berimbas ke Indonesia

Muhamad Rizky, Okezone · Selasa 02 Juli 2019 13:44 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 02 337 2073598 gelombang-panas-timur-tengah-dan-eropa-tak-berimbas-ke-indonesia-5DQZlVPUtJ.jpg Cuaca panas (Foto AP)

JAKARTA – Negara-negara di Timur Tengah dan Eropa sedang mengalami suhu udara yang panas atau gelombang panas (heatwave) yang menimbulkan korban jiwa maupun kebakaran. Namun, Badan Meteorologi Klamatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, fenomena suhu tinggi di sana diperkirakan tidak berdampak ke Indonesia.

“Selain karena sistem sirkulasi udara yang menyebabkan gelombang panas di wilayah Timur Tengah dan Eropa berbeda serta tidak mengarah atau menuju langsung ke wilayah Indonesia, suhu panas yang mencapai lebih dari 50° C juga sangat kecil peluangnya terjadi di wilayah Indonesia,” tulis Kedeputian Bidang Klimatologi BMKG dalam keterangannya, Selasa (2/6/2019).

Gelombang panas di Eropa dipicu oleh mengalirnya udara panas dari Afrika utara yang mengawali musim panas kali ini. Sedangkan suhu panas yang dirasakan di Timur Tengah merupakan perluasan gelombang panas yang menerjang India dari beberapa minggu lalu.

Gelombang panas menjangkiti mulai dari India, Pakistan, Afghanistan, Turkemistan, Iran dan Saudia Arabia. Suhu permukaan di wilayah-wilayah yang terpapar heatwave tersebut terukur bervariasi antara 34-51° C.

Berdasarkan Data Pengamatan Cuaca Stasiun Al Amara (No WMO 40680), Iraq, kejadian suhu tinggi melebihi 50° C cukup sering terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.Gelombang Panas di India

Fenomena suhu panas di India (BBC)

BMKG menyebutan, berdasarkan catatan historis suhu maksimum di Indonesia belum pernah mencapai 40° C. Suhu tertinggi yang pernah tercatat di Indonesia adalah sebesar 39.5° C pada 27 Oktober 2015 di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Bagaimana Suhu Permukaan Indonesia pada Iklim masa mendatang?

Berdasarkan hasil simulasi proyeksi iklim multi-model menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi dengan penerapan pengendalian emisi dan teknologi hijau (skenario RCP4.5), iklim pada periode 2020-2030 mengindikasikan rata-rata suhu permukaan wilayah daratan di Indonesia akan lebih panas 0,2-0,3° C dibandingkan dengan rata-rata suhu udara pada periode 2005-2015.

Wilayah-wilayah yang diproyeksikan akan mengalami kenaikan suhu tertinggi terjadi di sebagian Sumatera Selatan, bagian tengah Papua dan sebagian Papua Barat.

Untuk mengantisipasi suhu udara permukaan yang semakin panas di masa yang akan datang, yang disebabkan oleh fenomena global warming, perlu adanya upaya adaptasi dan mitigasi.

Upaya ini harus dimulai dari kesadaran kita untuk mengurangi hal-hal yang dapat meningkatkan emisi gas-gas rumah kaca ke atmosfer dan membekali diri dengan pengetahuan tentang dampak negatif dari perubahan iklim.

Fenomena Suhu Dingin Dieng

Kejadian gelombang panas dan suhu tinggi di wilaya Iraq, Kuwait dan Arab tidak adanya kaitannya dengan kejadian embun beku dan suhu dingin di Dieng dan Bromo.

Fenomena embun beku dan suhu dingin di wilayah Dieng dan Bromo lebih disebabkan oleh variasi musiman suhu di periode musim kemarau yang dipengaruhi angin monsun Australia serta topografi wilayah tersebut.

Pada periode musim kemarau, kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi balik gelombang panjang pada saat malam hari semakin kuat dan lebih banyak dilepas langsung ke atmosfer. Akibatnya, permukaan tanah dan atmosfer bagian bawah lebih cepat mendingin, bahkan hingga dibawah titik beku nol derajat yang menciptakan fenomena embun beku.

Selain itu, faktor elevasi/ketinggian tempat menentukan suhu di tempat tersebut, daerah yang memiliki ketinggian lebih tinggi akan memiliki suhu lebih dingin dibandingkan dengan daerah yang memiliki ketinggian rendah.Dieng

Pegunungan Dieng (Utami/Okezone)

Suhu akan menurun sebesar 0.65° C tiap 100 meter seiring dengan bertambahnya ketinggian suatu tempat. Oleh karena itu sejumlah daerah seperti Bromo atau dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah yang terletak pada ketinggian 2093 meter dapat mencapai suhu yang sangat dingin bahkan hingga di bawah 0° C.

Dampak musim kemarau yang menyebabkan suhu relative dingin pada malam hari di wilayah Indonesia bagian selatan juga disebabkan oleh meningkatnya hembusan Angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin.

Berdasarkan pengamatan Suhu Minimum Harian oleh Stasiun Observasi BMKG menunjukkan wilayah Ruteng (Satarcik) dan Malang (Tretes) masih mencatat keadaan suhu paling dingin dalam beberapa hari terakhir. Pencatatan suhu minimum menunjukkan 10,4° C di Tretes dan 13,8° C di Bandara Frans Sales Lega, Ruteng per 27 Juni 2019.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini