Jokowi Angkat Isu Pemberdayaan Perempuan di Hadapan Para Pemimpin G20

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Sabtu 29 Juni 2019 20:45 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 29 337 2072654 jokowi-angkat-isu-pemberdayaan-perempuan-di-hadapan-para-pemimpin-g20-wmSJvDdrs2.jpg Presiden Jokowi di KTT G20, Jepang (Foto: Ist)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengangkat isu terkait akses pendidikan dan pemberdayaan perempuan saat berbicara pada Sesi III KTT G20 Osaka dengan tema Addressing Inequalities & Realizing an Inclusive and Sustainable World, Sabtu (29/6/2019).

"Kita semua paham bahwa akses pendidikan dan pemberdayaan perempuan merupakan elemen penting untuk mencapai target Sustainable Development Goals. Dan itu memerlukan kerja sama kita semua," kata Jokowi di depan para pemimpin negara anggota G20 dari keterangan resmi Plt Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden Sinta Puspitasari.

Terkait pendidikan, Jokowi menegaskan perlunya penyesuaian sistem pendidikan saat ini yang menurutnya masih mengikuti pola pendidikan yang lama. Baca Juga: Pesan Iriana Jokowi di Simposium Ocean: Mari Lestarikan Laut demi Anak Cucu

 Jokowi

Ia pun menyadari di era digital seperti sekarang ini perlu adanya perubahan terkait pola mental dan pola pergaulan anak-anak di abad ke-21.

"Anak kita sekarang hidup di eranya YouTube Video yang rata-rata panjangnya hanya 12 menit, di eranya Instagram Video atau Twitter Video yang rata-rata panjangnya 6 menit atau bahkan sependek 1 menit. Dulu, anak-anak bergaul dengan misalnya naik sepeda bersama, sekarang anak kita bergaul dengan ramai-ramai main video game 'Massive Multi-Player Online Game' seperti Fortnite dan Minecraft," ujarnya.

Baca Juga: Jokowi Dorong Peningkatan Kerja Sama Australia dalam Pendidikan Vokasi 

Kemudian, terkait dengan partisipasi perempuan, Presiden Jokowi mengatakan bahwa peran perempuan di dalam ekonomi, politik dan kehidupan bermasyarakat masih jauh dari potensi yang ada. Padahal, menurut Presiden, di era berbagai tren yang dipicu digitalisasi dan globalisasi, wanita bisa lebih unggul daripada pria.

"Perempuan lebih rajin, lebih tekun, lebih detail, lebih sabar, dan lebih team-work daripada kita. Karena e-Commerce dan teknologi membutuhkan karakter seperti itu, sehingga meningkatkan partisipasi perempuan dalam bisnis, ekonomi dan politik otomatis akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional di era digital," ujarnya.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi mengatakan, ke depan pemerintahannya akan fokus pada pembangunan sumber daya manusia. Indonesia, menurut Presiden, memiliki 68,6 persen atau sekitar 181,3 juta orang berada pada usia produktif.

"Agar penduduk usia produktif tersebut menjadi bonus demografi diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing," ucap Presiden.

Selain itu di tingkat kawasan, Presiden juga menyampaikan bahwa para pemimpin ASEAN baru saja mengadopsi 'ASEAN Outlook on Indo-Pacific' yang berisi sikap, cara pandang dan kesiapan ASEAN untuk bekerjasama dengan pihak manapun, yang merupakan kontribusi ASEAN bagi upaya menjaga stabilitas dan perdamaian serta menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkesinambungan.

"Kerja sama jelas diperlukan, pertama untuk memecahkan masalah sumber pendanaan yang tidak hanya dari pemerintah, tapi dari swasta, melalui inovasi keuangan seperti blended finance. Kedua, kerja sama dalam sertifikasi keahlian atau standar kompetensi. Semakin sertifikasi dapat diterima secara regional, akhirnya secara internasional semakin besar manfaat dari pelatihan vokasi dan keterampilan praktis buat pekerja kita," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini