nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Yenny Wahid Imbau Masyarakat Perbanyak Dialog untuk Perkuat Toleransi

Amril Amarullah, Jurnalis · Rabu 26 Juni 2019 08:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 26 337 2070982 yenny-wahid-imbau-masyarakat-perbanyak-dialog-untuk-perkuat-toleransi-o1k3Z703Ok.jpg Yenny Wahid bersama Dubes RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno menggelar bincang santai di Berlin. (Foto: Ist)

JAKARTA – Direktur Wahid Institute, Yenny Wahid, mengimbau masyarakat Indonesia di Jerman untuk memperbanyak dialog dan komunikasi antarelemen bangsa. Hal itu diperlukan untuk mengantisipasi fenomena "divided nations" yang tengah merebak di berbagai negara.

Yenny menyampaikan hal tersebut pada acara Bincang Santai dengan Masyarakat Indonesia di Berlin. Sekira 70 WNI hadir dalam acara yang berlangsung di KBRI Berlin pada Minggu 23 Juni 2019. Dubes RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, bertindak selaku moderator dalam acara tersebut.

Menurut Yenny, hasil survei Wahid Institute menekankan perlunya membangun pemahaman yang lebih baik melalui dialog yang konstruktif di semua lapisan masyarakat.

"Kita perlu banyak ketemu, banyak dialog. Mengedepankan titik-titik persamaan dan menjembatani perbedaan. Kalau sudah saling mengerti, saling paham, insya Allah saling tuding dan saling curiga akan berkurang," jelas Yenny dalam keterangannya, Rabu (26/6/2019).

Yenny Wahid di Berlin, Jerman. (Foto: Ist)

Ia mengatakan bahwa media sosial juga menjadi alat untuk memperoleh keuntungan finansial dengan cara menyebarkan hoaks untuk menciptakan perpecahan.

"Kita perlu membangun konter narasi terhadap berbagai hoax dan fake news yang berkembang di media sosial. Ini juga salah satu bentuk dialog yang penting kita kembangkan terus-menerus," ujarnya.

Sementara Dubes Oegroseno menyebutkan salah satu aspek penting dalam diskursus kebebasan berpendapat adalah pencapaian titik keseimbangan antara kebebasan pendapat dengan kepentingan umum dan kebebasan pendapat orang lain.

"Hukum internasional tentang keseimbangan kebebasan berpendapat dengan kepentingan umum sudah diatur secara jelas. Selain itu juga terdapat berbagai yurisprudensi tentang hal ini. Di Eropa sendiri terjadi debat yang luas tentang keseimbangan freedom of speech dengan hate speech dan hoax-fake news," ucapnya.

Yenny Wahid di Berlin, Jerman. (Foto: Ist)

Saat ditanya Dubes Oegroseno mengenai peran ulama dan wanita penceramah di Indonesia saat ini, Yenny menjelaskan jumlahnya meningkat. Dalam beberapa hal ulama dan wanita penceramah lebih efektif dalam menyampaikan pesan-pesan agama kepada umat.

Ia mengatakan, wanita juga memegang peran penting dalam memberantas sikap intoleransi di kalangan masyarakat, terutama melalui pendidikan yang bermula dari keluarga.

Beberapa isu lain juga mengemuka selama dialog, antara lain terkait politik identitas, arah demokrasi Indonesia ke depan, serta peran dan sinergitas Wahid Institute menghadapi perkembangan situasi Indonesia saat ini.

Dalam kesempatan kunjungan di Berlin, putri ketiga presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini juga melakukan pertemuan dengan Kepala Departemen Agama dan Kerja Sama Internasional Kemlu Jerman, Duta Besar Volker Berresheim, pada Senin 24 Juni 2019.

Yenny Wahid di Berlin, Jerman. (Foto: Ist)

Pertemuan itu membahas mengenai kontribusi Indonesia untuk memajukan dialog antarumat beragama, khususnya terkait KTT Religion for Peace yang akan diselenggarakan di Jerman pada Agustus mendatang.

Di hari yang sama, Yenny Wahid juga bertemu mitranya dari Robert Bosch Stiftung yakni Sandra Breka. Dalam kesempatan tersebut dibahas mengenai rencana kerja sama Wahid Institute dengan yayasan ini.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini