nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Politikus Demokrat M Nasir Tak Penuhi Panggilan, KPK Jadwalkan Ulang

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Senin 24 Juni 2019 17:07 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 24 337 2070274 politikus-demokrat-m-nasir-tak-penuhi-panggilan-kpk-jadwalkan-ulang-5j7GQYlNiQ.jpg Muhammad Nasir. (Foto: Dede Kurniawan/Okezone)

JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI, Muhammad Nasir, pada hari ini mangkir alias tidak menghadiri panggilan sebagai saksi terkait kasus dugaan penerimaan gratifikasi Bowo Sidik Pangarso. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun menjadwalkan ulang pemeriksaan terhadap politikus Partai Demokrat tersebut pada Senin 1 Juli 2019.

"(Muhammad Nasir) tidak hadir, akan reschedule (dijadwal ulang) tanggal 1 Juli 2019," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Yuyuk Andriati, Senin (24/6/2019).

(Baca juga: KPK Panggil Politikus Demokrat M Nasir Terkait Gratifikasi Bowo Sidik Pangarso)

Belum diketahui alasan ketidakhadiran M Nasir pada panggilan pemeriksaan hari ini. KPK akan terus menggali kesaksian M Nasir terkait dugaan penerimaan gratifikasi Bowo Sidik Pangarso lewat penyidikan Indung.

Sebelumnya pada Sabtu 4 Mei 2019, KPK menggeledah ruang kerja M Nasir. Tidak ada yang disita KPK dari ruang kerja adik dari mantan bendahara umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, tersebut.

Tersangka Bowo Sidik Pangarso. (Foto: Okezone)

Penggeledahan ruang kerja M Nasir sendiri diduga berkaitan dengan pemberian gratifikasi untuk Bowo Sidik Pangarso terkait pengurusan dana alokasi khusus (DAK). KPK diketahui sedang mendalami kasus gratifikasi tersebut.

Sejauh ini KPK sudah menetapkan tiga tersangka kasus dugaan suap terkait kerja sama pengangkutan bidang pelayaran untuk kebutuhan distribusi pupuk menggunakan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

(Baca juga: GM PT Humpuss Didakwa Suap Bowo Sidik USD158 Ribu dan Rp311 Juta)

Ketiganya yakni anggota Komisi VI DPR RI, Bowo Sidik Pangarso; anak buah Bowo dari PT Inersia, Indung; serta Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti.

Dalam perkara ini, Bowo Sidik diduga meminta komisi kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah USD2 per metrik ton. Diduga Bowo Sidik telah menerima tujuh kali hadiah atau suap dari PT Humpuss.

Bowo Sidik diduga tidak hanya menerima suap dari PT Humpuss, tapi juga dari pengusaha lainnya. Total uang suap dan gratifikasi yang diterima Bowo Sidik dari PT Humpuss maupun pihak lainnya sekira Rp8 miliar. Uang tersebut dikumpulkan Bowo untuk melakukan "serangan fajar" di Pemilu 2019.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini