nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Musim Kemarau, Waspadai Kurang Air hingga Kebakaran Hutan

Fadel Prayoga, Jurnalis · Sabtu 22 Juni 2019 13:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 21 337 2069444 musim-kemarau-waspadai-kurang-air-hingga-kebakaran-hutan-QmFIH50UgL.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat tiga dampak terjadinya kekeringan di beberapa wilayah Indonesia. Salah satu dampaknya ialah kurangnya pasokan air bersih, petani yang gagal panen dan kebakaran hutan.

"Kebakaran hutan, kekurangan air, dan gagal panen," kata Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Wisnu Widjaja saat berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.

BMKG mencatat ada delapan provinsi yang bakal mengalami kekeringan saat puncak musim kemarau pada Agustus-September. delapan daerah itu ialah Banten (Kab. Tangerang), Jawa Barat (seluruh wilayah), Yogyakarta (seluruh wilayah), Jawa Timur (Kab. Malang), Bali (Kab. Buleleng), NTB (seluruh wilayah), NTT (Kab. Lembata, Kota Belu, dan Kupang) dan Papua (Kab. Jayapura).

Lipsus Kekeringan

Wisnu menyebut telah melakukan sosialisasi kepada warga di sana agar menghemat penggunaan air, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun bercocok tanam. Dirinya telah mengimbau kepada warga sekitar daerah yang menjadi langganan kekeringan untuk menghemat penggunaan air dari waduk.

"Jadi sebelum semuanya kering kita bantu untuk mengisi waduk. Dikontrol airnya. Jadi kita bantu alam ini," ujarnya.

Kendati begitu, ia mengakui bila cara seperti itu tak mampu menyelesaikan kurangnya air bersih dan pengairan untuk persawahan. Sehingga, pihaknya sudah mempersiapkan ribuan truk tangki untuk mengangkut air ke daerah-daerah yang mengalami krisis air.

"Jadi kekurangan air bersih, akan kita bantu dengan mobil-mobil tangki BNPB untuk menyebarnya," ujarnya.

Sementara untuk masalah kebakaran hutan, kata Wisnu, pihaknya mencatat ada enam daerah yang selalu menjadi langganan setiap tahunnya, yaitu Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Wisnu mengatakan, seluruh kawasan itu memiliki lahan gambut yang cukup tinggi. Sehingga, mudah terbakar ketika Indonesia mulai memasuki musim kemarau. Ada tiga daerah yang menyatakan darurat, yakni Riau, Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat.

"Kami juga bekerja sama dengann Badan Restorasi Gambut untuk memantau tingkat tinggi muka air di lahan gambut. Antisipasinya kita lakukan dengan hujan buatan, itu akan mempertinggi muka air. Kalau ada kekeringan di satu bulan atau dua bulan itu akan bisa tertahan sebentar," katanya.

Ia menjelaskan, berdasarkan penelitian di lapangan penyebab terjadinya kebakaran hutan hampir 90 persen karena dibakar oleh masyarakat sekitar. Sebab itu, pihaknya berkordinasi dengan TNI-Polri untuk melakukan penjagaan di lahan yang rawan terbakar.

"Kita sedang dalam sosialisasi untuk kerahkan 1000 TNI setiap provinsi. Jadi itu untuk menjaga agar tidakk terbakar. Bukan dgn represif dan tidak pakai senjata, tapi itu untuk sosialisasi dan edukasi ke masyarakat," kata dia.

Lebih lanjut ia menambahkan, solusi jangka panjang untuk menyelesaikan masalah kekeringan di Indonesia adalah dengan penghijauan.

Namun, itu membutuhkan waktu yang lama. Saat ini, yang terpenting adalah melakukan penyuluhan dan edukasi yang masif kepada warga di daerah yang selalu dilanda kekeringan setiap tahunnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini