nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Musim Hujan Buang-Buang Air, saat Kemarau Kekeringan

Fadel Prayoga, Jurnalis · Sabtu 22 Juni 2019 13:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 21 337 2069439 musim-hujan-buang-buang-air-saat-kemarau-kekeringan-fWAn460ALe.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Setiap memasuki musim kemarau, beberapa wilayah di Indonesia akan mengalami kekeringan. Salah satu penyebab utama terjadinya fenomena itu adalah penggunaan air tanah secara berlebihan di sejumlah tempat saat musim hujan berlangsung.

"Kalau kita bisa memanfaatkan air dengan bagus, maka tidak akan ada kekeringan," kata Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Wisnu Widjaja saat berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.

Wisnu mengatakan, pemerintah daerah harus membuat sebuah regulasi berupa aturan yang mengatur masyarakat dalam menggunakan air dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya, pembatasan penggunaan air di persawahan dan di perumahan.

Kekeringan

"Indonesia beberapa hal saya kira terlalu boros dengan air. Jadi harus ada penghitungan dalam penggunaan air. Saya lihat di Amerika ada imbauan untuk hemat air di setiap hotel," katanya.

Menurut dia, ketersediaan air di Indonesia itu berlimpah, tapi kini keadaannya sudah banyak yang tercemar akibat pembuangan limbah pabrik yang tidak dikontrol dengan baik. Sehingga, harus ada ketegasan dari pemerintah daerah untuk menindak setiap pabrik yang terlibat dalam penyebaran lingkungan.

"Pertama harus kita cegah dari hulunya. Pabrik-pabrik tidak boleh membuang limbah sembarangan," katanya.

Kekeringan

Ia menuturkan, terjadinya kekeringan karena buruknya tata kota di setiap daerah yang setiap tahunnya berpotensi terjadi kekeringan, seperti di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Sehingga, serapan air hujan dan kandungan air tanah semakin lama kian karena tidak lagi mendapat pasokan.

Ia menjelaskan, pemerintah daerah juga harus menerbitkan peraturan yang mewajibkan setiap pengembang perumahan untuk membuat hunian secara vertikal. Sehingga, lahan yang kini semakin terkikis akibat banyaknya pembangunan bisa dimanfaatkan untuk penanaman pohon.

"Masalah uama adalah daya dukung lahan kita rusak, karena penduduk makin banyak, perlu lahan. Jadi harus ada kebijakan yang ektrem," ujar dia.

Dalam menyelesaikan masalah kekeringan tak cukup hanya sebatas penerbitan regulasi, kata dia, harus ada pengawasan yang ketat dari pelaksaanaan peraturan tersebut. Lalu, mengsosialisasikan kepada masyarakat untuk merubah budaya yang terbiasa merusak lingkungan.

"Permasalahan bencana di Indonesia sebagian besar adalah hidrometereologi. Masalah utama dari hidrometereologi adalah kerusakan lingkungan dan selesaikan masalah itu sampai ke akarnya," kata dia.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini