nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

800 Hari Kasus Novel Baswedan, Komnas HAM Bicara Kendala Pengusutan

Fahreza Rizky, Jurnalis · Jum'at 21 Juni 2019 05:31 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 21 337 2068997 800-hari-kasus-novel-baswedan-komnas-ham-bicara-kendala-pengusutan-g4RYVUa5o3.jpg Novel Baswedan (foto: Okezone)

JAKARTA - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) berbicara soal kendala pengusutan kasus percobaan pembunuhan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, mengatakan ada dua kendala untuk mengusut tuntas kasus Novel. Di antaranya soal adanya keterangan yang terputus pada kasus tersebut, serta political will dari para pihak terkait.

Baca Juga: Penyidik Masih Periksa Novel Baswedan di KPK 

Penyidik KPK Novel Baswedan Kembali Bekerja

"Pertama, soal pengungkapan itu sendiri ada keterangan-keterangan yang terputus sehingga ketika mau disimpulkan jadi enggak maksimal seperti harapan banyak orang," ujar Beka saat berbincang dengan Okezone, Jumat (21/6/2019).

Kendala kedua ialah terkait political will dari pemerintah. Kata Beka, Presiden Joko Widodo sudah memerintahkan "anak buahnya" untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Namun, perintah Presiden belum dijalankan maksimal oleh mereka.

"Kedua, terkait dengan political will dari pemerintah. Presiden sudah memerintahkan dan itu belum dijalankan dengan maksimal oleh bawahannya," terang dia.

Diketahui, Kamis 20 Juni 2019 tepat 800 hari Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal saat pulang salat Subuh. Kendati sudah 800 hari, polisi belum mampu mengungkap aktor lapangan dan dalang dari kasus percobaan pembunuhan tersebut.

Akibat kejadian itu, sebelah mata Novel mengalami kerusakan. Ia bahkan harus menjalani perawatan intensif di Singapura. Aktivis antikorupsi menilai kasus ini sebagai teror dalam pemberantasan korupsi.

Baca Juga: Polda Metro: Jangan Ada Asumsi Polisi Terlibat Teror Air Keras terhadap Novel Bawsedan 

Dalam acara "KPK Harus Mati", Novel menegaskan pengungkapan kasus yang menimpa dirinya harus terus berjalan supaya tidak ada lagi pihak yang berani menyerang petugas pemberantas korupsi di masa mendatang.

"Ketika saya diserang, saya memafkan pelaku dan ikhlas tapi saya berpandangan ke depan dan saya sadar di KPK masih ada kawan-kawan yang berugas untuk memberantas korupsi dan masih ada peluang diserang," kata Novel.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini