nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kronologi Pengungkapan Kasus Hoaks Server KPU yang Di-setting Menangkan Jokowi

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Senin 17 Juni 2019 17:14 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 17 337 2067443 kronologi-pengungkapan-kasus-hoaks-server-kpu-yang-di-setting-menangkan-jokowi-dSvnUlPfmp.jpg Polri merilis hasil penangkapan penyebar hoaks server KPU di-setting menangkan Jokowi (Foto: Puteranegara Batubara)

JAKARTA - Direktorat Tindak Pidana (Dit Tipid) Siber Bareskrim Polri telah mengungkap kasus penyebaran informasi palsu atau hoaks tentang bocornya server KPU dan settingan kemenangan Calon Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan hasil suara 57 persen.

Diketahui, kasus ini merupakan pengembangan dari laporan komisioner KPU ke Bareskrim Polri terkait adanya hoaks settingan lembaga tersebut telah disetting untuk memenangkan Jokowi dalam pesta demokrasi.

Berdasarkan catatan Okezone, komisioner KPU itu melaporkan ke Bareskrim Polri pada 4 April 2019 lalu. Ketika itu, mereka mengadukan adanya tiga akun media sosial (medsos) yang telah menyebarkan infomasi hoaks server KPU memenangkan pasangan calon Jokowi- Ma'ruf Amin.

"Isi konten video itu, di mana menyebut bahwa server KPU diatur agar memenangkan salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden, tidak benar," kata Ketua KPU Arief Budiman di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, kala itu.

(Baca Juga: Polri Tangkap Penyebar Hoaks Server KPU Di-setting Menangkan Jokowi 57%)

Meskipun pada pelaporan itu, KPU dan Siber belum mengantongi identitas pasti dari tiga akun-akun medsos penyebar hoaks tersebut. "Saya tidak tahu itu siapa. Sementara yang kami temukan itu (tiga akun). Yang kami berhasil identifikasi itu," tutur Arief.

Ilustrasi

Dari laporan itu, Dit Tipid Siber Bareskrim Polri menjalankan tugasnya untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. Alhasil, selang dua bulan, pada 11 Juni, Polisi menciduk penyebar hoaks tersebut setelah identitasnya teridentifikasi.

"Melakukan penangkapan terhadap seorang laki-laki yang berinisial WN (54)," kata Kasubdit II Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (17/6/2019).

(Baca Juga: Jelang Sidang Perdana Gugatan Prabowo ke MK, Muncul Hoaks Adu Domba TNI dan Polri)

Rickynaldo menjelaskan, pada 27 Maret 2019 sekira pukul 14,00 WIB di Jalan Jagarahayu Nomor 45, Ciracas, Serang, Banten di tempat mantan Bupati serang berinsial MTN telah dilaksanakan rapat rutin koordinasi kemenangan relawan salah satu paslon wilayah Banten yang dihadiri oleh ketua-ketua korwil wilayah tersebut.

Saat itu, tersangka WN diundang oleh ketua tim pemenangan relawan pasangan calon wilayah Banten tersebut untuk memberikan paparan atau materi terkait bocornya server KPU dan di-setting angka 57 persen untuk salah satu pasangan calon.

"Saat itu, tersangka WN menyampaikan di antaranya bahwa KPU saat ini hanya mengekor banyak duplikasi data, adanya server KPU yang tujuh lapis salah satunya bocor, salah satu paslon sudah membuat angka 57% dan Prabowo sudah menang di angka 68% hal tersebut sudah kami petakan di 33 provinsi," tuturnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, dikatakan Rickynaldo, tersangka mengakui narasi yang disampaikanya di video tersebut tidak didukung bukti, tersangka hanya menemukan informasi tesebut dari media sosial.

"Pada tanggal 3 April 2019 rekaman video paparan tersangka WN tersebar/terdapat di beberapa akun media sosial (akun Facebook, akun Twitter dan akun Youtube) yang masing-masing pemilik akun menambahkan caption pada tiap postinganya," ujar dia.

Atas perbuatan tersebut tersangka dijerat dengan Pasal 14 Ayat (1) dan (2) dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 45 Ayat (3) Jo Pasal 27 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal 310 KUHP dan/atau Pasal 311 KUHP dan/atau Pasal 207 KUHP.

"Dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal sepuluh tahun dengan denda paling banyak Rp750.000.000,00," ujarnya.

Dari tangan tersangka, polisi menyita satu buah handphone merek Blackberry 9850, satu buah handphone merek Nokia, satu buah handphone merek ASUS, satu buah simcard Telkomsel, satu buah simcard XL, satu buah KTP dan dua buah kartu ATM Bank Mandiri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini