nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Survei SMRC: Terjadi Pelemahan Perbaikan Demokrasi Pasca-Kerusuhan 21-22 Mei

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Minggu 16 Juni 2019 18:34 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 16 337 2067102 smrc-terjadi-pelemahan-perbaikan-demokrasi-pasca-kerusuhan-21-22-mei-2OwgHQl31e.jpg Aksi 22 Mei di depan Gedung Bawaslu (foto: Okezone)

JAKARTA - Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyatakan telah terjadi pelemahan perbaikan demokrasi pasca-kerusuhan 21-22 Mei di sekitaran Jakarta. Padahal, menurut survei SMRC, demokrasi di Indonesia telah mengalami perbaikan pasca-reformasi.

Menurut survei SMRC, dua indikator yang terjadi pasca-kerusuhan 21-22 Mei yakni, munculnya ketakutan masyarakat terhadap penangkapan semena-mena oleh penegak hukum. Kedua, muncul rasa takut masyarakat saat berbicara tentang politik.

"Secara umum, rakyat menilai positif kondisi demokrasi Indonesia setelah 20 tahun. Tetapi, Ada indikasi demokrasi mengalami pelemahan pasca peristiwa kerusuhan 21 dan 22 Mei," ujar peneliti SMRC, Sirajuddin Abbas dalam pemaparan survei di Kantor SMRC, Jakarta Pusat, Minggu (16/6/2019).

Berdasarkan hasil survei SMRC, terdapat 8 persen responden yang takut berbicara politik pasca-kerusuhan 21-22 Mei. ‎Kemudian, sebanyak 35 persen responden menyatakan sering merasa takut. Jika ditotal, maka terdapat 43 persen responden yang takut bicara politik pasca kerusuhan.

Aksi 22 Mei

(Baca Juga: Survei SMRC: 69 Persen Publik Anggap Pemilu 2019 Berlangsung Jurdil)

Dari hasil survei, tren ketakutan itu mengalami peningkatan. Pasca Pemilu 2009, yakni sekira 16 persen responden. Kemudian, pasca pemilu 2014, terdapat 17 persen. Sementara, pasca pemilu dan kerusuhan 21-22 Mei 2019, terdapat 43 persen responden yang merasa takut.

Dari 43 persen responden tersebut, 7 persen diantaranya mengaku kepada SMRC takut terhadap penangkapan.‎ Kemudian, 31 persen responden menyatakan sering merasa takut. Jika ditotal, maka terdapat 38 persen responden yang takut ditangkap secara semena-mena pasca kerusuhan.

Berdasarkan survei, pasca pemilu 2009, ada 24 persen responden yang merasa takut. Kemudian, pasca pemilu 2014, terdapat 24 persen. Sementara, pasca pemilu dan kerusuhan 21-22 Mei 2019, angkanya naik menjadi 38 persen responden yang merasa takut.

SMRC melakukan survei tersebut pada 20 Mei hingga 1 Juni 2019 dengan melibatkan 1.078 responden yang dipilih secara acak. Responden tersebut merupakan penduduk Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah mempunyai hak pilih.

Metode survei dilakukan dengan ‎wawacara tatap muka secara langsung oleh pewawancara yang sudah terlatih. Adapun, margin of eror dalam penelitian ini sebesar lebih kurang 3,05 persen.‎ SMRC menegaskan bahwa pendanaan survei tersebut dibiayai oleh sendiri.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini