nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selama Libur Lebaran Pencemaran Udara di Pantura Meningkat

Antara, Jurnalis · Rabu 12 Juni 2019 02:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 12 337 2065489 selama-libur-lebaran-pencemaran-udara-di-pantura-meningkat-VFNY65d8Vu.jpg Ilustrasi polusi udara (Foto: Ist)

JAKARTA - Pencemaran udara di sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa juga meningkat yang terpantau sempat memburuk saat libur Lebaran 2019 karena adanya peningkatan konsentrasi partikulat debu kurang dari 2,5 mikron (PM2,5).

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan, tingginya PM2.5 terjadi hampir di seluruh wilayah pantura Jawa, ini menandakan peningkatan aktivitas kendaraan saat Lebaran di berbagai wilayah di Jawa, pembakaran biomassa pascapanen, debu akibat memasuki kemarau, terjadi hampir di seluruh wilayah pantura Jawa.

Belum lagi PM2.5 dari PLTU batu bara yang banyak dijumpai di pantura Jawa, mulai dari Babelan, Indramayu, Cirebon, Batang, Gresik, hingga Paiton, yang sumbangannya terhadap pencemaran udara tidak sedikit, ujar dia.

“Dari rata-rata konsentrasi PM2.5 pada 15-28 mikrogram per meter kubik menjadi rata-rata 47 mikrogram per meter kubik,” kata Ahmad seperti dikutip Antaranews, Selasa (11/6/2019).

(Baca Juga: Hari Terakhir Libur Lebaran, Pengunjung Monas Antusias Jajal Bus Tingkat)

Jalur Pantura

Ia merinci sumber pencemaran di pantura, Jawa Barat, tidak hanya berasal dari kendaraan bermotor (menyumbang pencemaran 44 persen), tetapi ada juga dari PLTU batu bara (14 persen), pembakaran di proses industri (19 persen), pembakaran biomassa dan sampah (13 persen), debu jalanan (5 persen), proses konstruksi (2 persen), rumah tangga (3 persen).

Lebih lanjut, ia mengatakan kemacetan yang terjadi berjam-jam juga memperberat tingkat pencemaran dari kendaraan bermotor. Namun sekali lagi, dirinya menegaskan bahwa sumber pencemarannya tidak tunggal.

Faktor kemarau memperberat situasi di mana PM2.5 semakin lama tersuspensi di udara sehingga sebelum PM2.5 luruh ke tanah atau badan air justru ditambah lagi oleh pencemaran berikutnya.

“Jika ada hujan maka PM2.5 cenderung luruh ke tanah atau badan air berkat ter-flushing air hujan,” ujar Ahmad.

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dasrul Chaniago sebelumnya mengatakan tipikal kota besar, metropolitan atau megapolitan, 68-70 persen polutan berasal dari sumber bergerak, sedangkan 30 persen tentu dari sumber lain.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini