nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Aksi Teror Bom Bunuh Diri Pospam Kartosuro Dinilai Amatiran

Taufik Budi, Jurnalis · Jum'at 07 Juni 2019 08:14 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 07 337 2064217 aksi-teror-bom-bunuh-diri-pospam-kartosuro-dinilai-amatiran-3joGmzb2UI.jpg Lokasi Bom Kartosuro (Foto: Istimewa)

SEMARANG - Aksi teror bom bunuh diri yang menyasar menyasar Pos Pengamanan (Pospam) Lebaran di Tugu Kartosuro, Sukoharjo, pada Senin 3 Juni malam, dilakukan secara profesional. Mesko menyasar aparat kepolisian, tak ada anggota polisi yang terluka. Bahkan, korban satu-satunya adalah terduga pelaku sendiri.

"Saya tidak tahu persis tentang material dan komposisi bomnya seperti apa. Tapi menurut Mabes Polri itu low explosive, ini mencirikan bahwa (teror) ini amatir," terang peneliti terorisme, Najahan Musyafak, kepada Okezone, Kamis (6/6/2019).

"Kemudian dari segi menjadi alat bukti yang ditemukan di rumah orang tuanya, itu kan bahan-bahan yang bisa dibeli di tempat-tempat umum, tidak di tempat eksklusif," tambah dia.

Mantan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng, periode 2012-2017 itu menuturkan, untuk membuat bom high explosive dibutuhkan bahan khusus dalam jumlah banyak. Termasuk ketika melakukan aksi teror pengeboman dengan daya ledak tinggi, maka akan menggunakan tempat yang besar misalnya mobil.

"Untuk membuat bom yang berdaya ledak tinggi itu juga butuh materi yang cukup banyak. Kemudian materi itu dibeli siapa yang menjadi supplier, uang untuk membeli material bom juga cukup banyak, ini juga tidak gampang untuk bisa dilakukan," terang dia.

BOM

Baca Juga: Pemimpin ISIS Perintahkan Langsung Pengeboman di Pospam Kartosuro

"Selanjutnya, untuk bom daya ledak tinggi juga membutuhkan tempat yang besar tidak bisa hanya sebesar ransel. Kalau ransel itu bisa dideteksi daya ledaknya rendah," lugasnya lagi.

Menurutnya, aksi nekat pelaku bukan sekadar menebar teror tetapi juga untuk mengirim pesan akan keberadaan kelompok tertentu. Aksi yang terbilang gagal itu juga dinilai sebagai aktualisasi pelaku terhadap pemimpinnya, bahwa telah berani melakukan amaliyah atau bom bunuh diri.

"Sebenarnya dia ingin menunjukkan terhadap apakah guru atau mentornya, bahwa ini saya sudah melakukan aktualisasi terhadap apa yang diajarkan, apa yang didoktrinkan, sudah melakukan, sudah membuat bom, saya sudah bunuh diri, meskipun ini tidak berhasil. Gagal, tidak mati, bom meledak tidak sempurna, kemudian malah dan tidak ada target (polisi) yang dilukai," tandasnya.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini