nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kantor Polisi Masih Jadi Lini Terdepan Serangan Teror

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Rabu 05 Juni 2019 06:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 04 337 2063769 kantor-polisi-masih-jadi-lini-terdepan-serangan-teror-7SjJjjOIfh.jpg Foto Ilustrasi shutterstock

JAKARTA - Pengamat militer dari Institute For Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi mengungkapkan bahwa, kantor polisi sampai saat ini masih menjadi tempat sasaran potensial bagi kelompok atau perorangan melakukan serangan teror.

Hal ini berkaitan dengan peristiwa aksi bom bunuh diri Pos pemantauan mudik Lebaran Tugu Kartasura, Solo, Jawa Tengah, kemarin malam.

"Instalasi kepolisian di lini terdepan masih menjadi sasaran paling potensial. Serangan tidak harus besar tapi jelas sulit diprediksi," kata Khairul kepada Okezone, Jakarta, Rabu(5/6/2019).

Bom Bunuh Diri di Pospam Kartasuro

 (Baca juga: Rekaman CCTV Detik-Detik Ledakan Bom di Pospam Tugu Kartosuro)

(Baca juga: Polres Purworejo Perketat Pengamanan Lebaran Pasca-Bom Kartosuro)

Menurut Khairul, penggemar kekerasan ekstrim masih mengikuti pola yang sudah dijalankan setidaknya empat tahun terakhir, yaitu serangan simultan, acak, dan itu tak selalu berarti ledakan.

"Di sisi lain, pemerintah tak kunjung membenahi kualitas mitigasinya. Sukoharjo yang menjadi sasaran serangan tadi malam misalnya, saya kira kondisinya masih relatif sama dengan ketika daerah ini mulai dikenal sebagai basis jaringan kekerasan ekstrim," papar dia.

Disisi lain, apabila hal tersebut tidak segera dicegah, Khairul khawatir akan diikuti kejadian lainnya didaerah lainnya. Oleh sebab itu, Pemerintah dan Polisi harus mampu mendeteksi segera untuk menghindari ancaman tersebut.

"Cuma soal waktu dan kesempatan saja menjadikan ancaman itu nyata. Untuk mencegahnya, tentu kita yang harus berbenah," ucap dia.

 

Menurutnya, radikal bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan sesuatu yang mestinya disebut sebagai ekstrim. Dan karenanya, deradikalisasi maupun kontra-radikalisasi, bukanlah obat mujarab untuk meredakan kekerasan ekstrim kambuhan itu.

"Ketika cara-cara lama terbukti tak mumpuni melampaui ancaman, lantas apa yang menjadi penyulit upaya kita meluruskan pemahaman tentang apa yang sesungguhnya menjadi persoalan?," tutup dia.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini