nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polisi Tangkap Penyebar Hoaks Penyerangan Masjid di Petamburan

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Senin 03 Juni 2019 12:53 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 03 337 2063340 polisi-tangkap-penyebar-hoaks-penyerangan-masjid-di-petamburan-AWM4aM6dXf.jpg Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo. (Foto : Heru Haryono/Okezone)

JAKARTA – Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap seseorang bernama Fitriadin yang diduga telah menyebarkan informasi palsu atau hoaks melalui akun Facebook-nya bernama Adi Bima terkait penyerangan di Masjid Petamburan, Jakarta Barat.

"Diduga menyebarkan berita hoaks penyerangan masjid di daerah Petamburan, Jakarta Barat melalui Fecebook," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi Okezone, Jakarta, Senin (3/6/2019).

Dari hasil interogasi, perbuatan tersebut dilakukan tersangka atas inisiatif sendiri dikarenakan yang bersangkutan terbakar emosi akibat kejadian kerusuhan yang terjadi di beberapa titik di Jakarta pada tanggal 21-22 Mei 2019.

Tersangka juga ditengarai pendukung salah satu calon presiden (capres) dan wakil presiden. Namun, polisi tak merilis identitas capres yang didukung oleh pelaku tersebut.

Aksi 22 Mei: Bentrok Massa Aksi dengan Polisi di Depan Gedung Bawaslu

"Pelaku mem-posting foto masjid tersebut bukanlah foto masjid yang ada di Indonesia, melainkan foto masjid yang ada di Sri Langka," ujar Dedi.

Dalam penangkapan itu, penyidik melakukan penyitaan sejumlah barang bukti. Barang bukti itu antara lain satu handphone Xiaomi Redmi 5A model MCG3B warna hitam abu-abu dan dua sim card.


Baca Juga : Polisi Tangkap Penyebar Hoaks Rumah Ibadah di Sorong Dibakar Massa

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 45A Ayat (2) Jo 28 Ayat (2) Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau Pasal 14 dan/atau Pasal 15 Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 207 KUHP.

"Dengan ancaman hukuman penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar dan/atau penjara paling lama 10 tahun penjara," tutur Dedi.


Baca Juga : Penyebar Hoaks 'Pemerintah Disusupi Komunis' Ternyata Sudah Jadi WNI

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini