AJI Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Kekerasan ke Wartawan saat Aksi 22 Mei

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 23 Mei 2019 08:19 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 23 337 2059326 aji-desak-polisi-usut-tuntas-kasus-kekerasan-ke-wartawan-saat-aksi-22-mei-TiDbi46QQ0.jpg Ilustrasi.

JAKARTA - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dan LBH Pers mengecam tindakan, baik aparat maupun massa Aksi 22 Mei yang melakukan intimidasi dan kekerasan kepada jurnalis yang bertugas. Beberapa tuntutan yang dikeluarkan sebagai berikut:

Pertama, mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis, baik oleh polisi maupun kelompok warga.

Kedua, mengimbau kepada para pemimpin media untuk bertanggung jawab atas keselamatan jurnalis saat bertugas di lapangan. Memberikan pembekalan pengetahuan safety journalist dan memberikan penanganan trauma yang terjadi selama peliputan.

Ketiga, mengimbau para jurnalis yang meliput aksi massa untuk mengutamakan keselamatan dengan menjaga jarak saat terjadi kerusuhan.

(Baca juga: Sejumlah Wartawan Alami Kekerasan saat Meliput Aksi 22 Mei di Jakarta)

Berdasarkan verifikasi tim Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, sebagaimana keterangan tertulis yang diterima Okezone, Kamis (23/5/2019), setidaknya hingga saat ini terdapat tujuh jurnalis yang mengalami kekerasan, intimidasi dan persekusi sejak dini hari hingga pagi tadi.

Aksi 22 Mei: Bentrok Massa Aksi dengan Polisi di Depan Gedung Bawaslu

Mereka di antaranya, Budi Tanjung (Jurnalis CNNIndonesia TV), Ryan (CNNIndonesia.com), Ryan (Jurnalis MNC Media), Fajar (Jurnalis Radio Sindo Trijaya), Fadli Mubarok (Jurnalis Alinea.id), dan dua jurnalis RTV yaitu Intan Bedisa dan Rahajeng Mutiara.

Selain itu, dua sepeda motor wartawan Okezone.com, Fahreza Rizky dan Puteranegara Batubara yang diparkirkan di Sarinah dirusak oleh oknum yang mereka sebut ‘berbaju preman’.

Tak menutup kemungkinan, masih banyak jurnalis lainnya yang menjadi korban. Sampai saat ini AJI Jakarta masih mengumpulkan data dan verifikasi para jurnalis yang menjadi korban.

Peristiwa itu terjadi saat sejumlah jurnalis meliput di sekitar Gedung Bawaslu. Mereka dilarang aparat kepolisian saat merekam aksi penangkapan orang-orang yang diduga sebagai provokator massa.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini