nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

2.500 Bencana Diprediksi Landa Indonesia di 2019, Ini Strategi Pemerintah

Fadel Prayoga, Jurnalis · Selasa 21 Mei 2019 18:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 21 337 2058518 2-500-bencana-diprediksi-landa-indonesia-di-2019-ini-strategi-pemerintah-xmWv3lB6FM.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Peningkatan kapasitas anggota Kampung Siaga Bencana (KSB) menjadi prioritas dalam penanggulangan bencana. Hal tersebut menyusul prediksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyebutkan sebanyak 2.500 bencana alam bakal melanda Indonesia pada 2019 mendatang.

Prediksi itu didasari oleh perhitungan menurut pengalaman tahun ini yang mencapai yang mencapai 2.426 peristiwa bencana. Selama 2019 atau sejak 1 Januari hingga 30 April 2019 di Indonesia sendiri terjadi sebanyak 1.586 kejadian bencana.

Dampak bencana yang ditimbulkan 325 orang meninggal dunia, 113 orang hilang, 1.439 orang luka-luka dan 996.143 orang mengungsi dan menderita. Kerusakan fisik meliputi 3.588 rumah rusak berat, 3.289 rumah rusak sedang, 15.376 rumah rusak ringan, 325 bangunan pendidikan rusak, 235 fasilitas peribadatan rusak dan 78 fasilitas kesehatan rusak.

Tsunami di Banten (Susi Air)

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial, Kementerian Sosial (Kemensos) Harry Hikmat menjelaskan, latihan rutin dan terstruktur KSB menjadi urutan prioritas kebijakan yang harus segera ditindaklanjuti untuk mempersiapkan masyarakat yang siap menghadapi bencana.

“KSB merupakan salah satu prioritas yang sifatnya pencegahan. Seperti diketahui setelah terjadi bencana di Selat Sunda perlu ada penyesuaian dalam penyiapan KSB“, kata Harry saat menerima delegasi World Food Program (WFP) di Jakarta, Selasa (21/5/2019).

(Baca Juga: BNPB: 2.500 Bencana Alam Landa Indonesia pada 2019)

Pembentukan KSB, lanjut Harry mengarah kepada pendekatan kawasan. Sehingga pemikiran kampung sebagai kawasan, bersifat lokal sifatnya. Mungkin saja terjadi, banjir melintasi beberapa desa, sehingga kita bisa fasilitasi terbentuknya KSB.

“KSB tidak identik dengan kampung tetapi lebih kepada memfasilitasi masyarakat untuk lebih bisa memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana”, tandasnya.

Tsunami di Banten (Susi Air)

WFP sendiri telah melakukan studi tentang KSB dengan melibatkan 34 KSB dan 14 mitra kerja di tujuh propinsi. Dari hasil penelitian tersebut, WFP merekomendasikan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat dalam pengelolaan KSB menjadi prioritas yang utama untuk segera dilakukan.

“Prioritas kebijakan yang pertama adalah capacities (kapasitas), yang kedua permanence (keabadian) dan urutan yang ketiga adalah funding (pendanaan)”, ujar Leason Officier EPR WFP Wipsar Dina Triandini.

(Baca Juga: Sepanjang 2019, BNPB Catat 1.586 Bencana Sebabkan 438 Jiwa Tewas dan Hilang)

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengumpulkan praktek baik dan pembelajaran dari KSB-KSB yang telah terbentuk untuk meningkatkan kualitas program KSB di masa mendatang. Dari penelitian itu, WFP menemukan setidaknya ada 12 masalah yang terjadi dilapangan yang harus segera ditindaklanjuti.

“Setidaknya terdapat 12 hal yang ditemukan dilapangan, yaitu Sustainability, Permanence, Effectiveness, Ownership, Adaptiveness, Inclusion, Institutionalism, Policy Environment, Capacities, Culture, Funding, dan Accountability”, ucap Dina.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini