nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KP Hiu 05 Hentikan dan Periksa Kapal Ikan Jepang di ZEEI Laut Sulawesi

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 20 Mei 2019 07:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 20 337 2057765 kp-hiu-05-periksa-kapal-ikan-jepang-di-zeei-laut-sulawesi-fhpYqhMELh.jpg Petugas KKP memeriksa awak kapal Jepang di ZEE Indonesia karena diduga melakukan illegal fishing. (Foto: KKP)

JAKARTA – Kapal Pengawas Perikanan (KP) Hiu 05 milik Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Jumat 17 Mei 2019 melakukan penghentian serta pemeriksaan terhadap kapal perikanan asing (KIA) yang berasal dari Jepang yakni FV Shofuku Maru Nomor 8 (619 GT) di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).

"Proses penghentian dan pemeriksaan awal dilakukan oleh Kapal Pengawas Perikanan (KP) Hiu 05 yang dinakhodai oleh Kapten Hasrun atas kecurigaan aktivitas penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing)," ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Agus Suherman.

(Foto: KKP)

Agus melanjutkan, ketika dilakukan pemeriksaan awal di laut, kapal ditemukan tidak mengibarkan bendera mana pun, baik bendera Jepang maupun bendera Indonesia, sebagaimana ketentuan pelayaran internasional. Selain itu, di bagian depan kapal ditemukan bagian-bagian alat tangkap pancing longline yang tidak disimpan di palka.

"Atas dasar temuan awal tersebut, maka FV Shofuku Maru Nomor 8 dikawal menuju Pangkalan PSDKP Bitung Sulawesi Utara untuk pemeriksaan lebih lanjut," tambah Agus Suherman.

Saat berada di Pangkalan PSDKP Bitung dilakukan pemeriksaan secara mendalam oleh Tim KKP dan Satgas 115 yang antara lain terdiri dari Koordinator Staf Khusus Satgas 115 Dr Mas Achmad Santosa, anggota Staf Khusus Satgas 115 Dr Yunus Husein, Plt Direktur Jenderal PSDKP Agus Suherman, serta Kepala Pangkalan PSDKP Bitung Sumono Darwinto.

Pemeriksaan mendalam dilakukan terhadap Nakhoda FV Shofuku Maru Nomor 8, kru kapal, serta perwakilan agen kapal di Indonesia. Selain itu, pemeriksaan fisik kapal juga dilakukan baik alat tangkap, muatan kapal, serta ruang-ruang kapal lainnya.

"Setelah dilakukan pemeriksaan maraton selama dua hari, Tim KKP dan Satgas 115 menyimpulkan bahwa tidak terdapat bukti awal yang cukup untuk menduga kapal tersebut melakukan illegal fishing di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia," jelas Agus Suherman.

(Foto: KKP)

Sementara Staf Khusus Satgas 115 Yunus Husein menambahkan bahwa untuk kegiatan penangkapan ikan menggunakan kapal pancing longline diperlukan setidaknya 20 anak buah kapal (ABK). FV Shofuku Maru Nomor 8 sendiri diawaki delapan orang.

Selain itu, untuk alat tangkap longline juga dioperasikan di bagian belakang kapal. Lalu saat pemeriksaan di laut, bagian-bagian alat tangkap ditemukan di bagian geladak depan kapal, sehingga tidak terdapat bukti yang cukup adanya peristiwa penangkapan ikan di perairan Indonesia.

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut, Nakhoda KP Hiu 05 menyampaikan kepada Nakhoda FV Shofuku Maru Nomor 8 untuk melanjukan perjalanan dengan dua catatan penting dalam bentuk peringatan tertulis, yaitu (1) harus mengibarkan bendera kapal serta bendera negara yang dilintasi sebagaimana ketentuan pelayaran internasional, serta (2) menyimpan alat tangkap di dalam palka selama melakukan pelayaran di perairan Indonesia.

(Foto: KKP)

Ketentuan mengenai penyimpanan alat tangkap bagi kapal perikanan asing yang melintas di perairan Indonesia terncantum dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

"UU Perikanan mengatakan setiap kapal penangkap ikan berbendera asing yang tidak memiliki izin penangkapan ikan selama berada di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib menyimpan alat penangkapan ikan di dalam palka," ungkap Agus Suherman.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini