nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Suap 'Serangan Fajar' Bowo Sidik

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Kamis 16 Mei 2019 09:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 16 337 2056318 kpk-buka-peluang-periksa-nusron-wahid-terkait-suap-serangan-fajar-bowo-sidik-ijVqiPJ9aH.jpg Nusron Wahid.

JAKARTA - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang untuk memeriksa Politikus Golkar, Nusron Wahid. ‎Nusron sedianya akan dipanggil terkait kasus dugaan suap jasa angkut distribusi pupuk yang menyeret Anggota Komisi VI DPR, Bowo Sidik Pangarso.

‎Salah satu yang akan dikonfirmasi KPK dari pemeriksaan Nusron yakni soal uang ‘serangan fajar’ untuk Pemilu 2019. ‎Bowo Sidik pernah mengaku diperintah oleh Nusron untuk menyiapkan 400 ribu amplop berisi uang untuk serangan fajar.

"Kebutuhan-kebutuhan pemeriksaan terhadap pihak-pihak (seperti Nusron) yang informasinya muncul di tahap penyidikan baik dari tersangka ataupun dari saksi terbuka kemungkinan dilakukan (pemanggilan)," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (16/5/2019).

Namun demikian, Febri mengaku belum mengetahui kapan Nusron akan dipanggil untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasus Bowo Sidik. Pemanggilan terhadap saksi-saksi termasuk Nusron masuk ke dalam ranah tim penyidik.

(Baca juga: Nusron Wahid Buka Suara soal "Nyanyian" Bowo Sidik di KPK)

"Apakah akan dilakukan (pemanggilan) dalam waktu dekat atau apakah akan dilakukan pemanggilan untuk nama-nama tertentu itu nanti penyidik yang tahu," ujarnya.

Febri memastikan saat ini proses penyidikan terhadap Bowo Sidik masih terus berjalan. Terlebih, Bowo telah menuangkan keterlibatan pihak lain ke dalam berkas perkara penyidikan.

Nusron Wahid

"Jadi kalau sudah ada informasinya kami sampaikan yang pasti penyidikannya masih terus berjalan untuk dua kasus, pertama kasus dugaan suap, kedua dugaan penerimaan gratifikasi," ujarnya.

Sebelumnya, Bowo Sidik mengaku diperintah oleh Nusron untuk mengumpulkan 400 ribu amplop guna keperluan 'serangan fajar' di Pemilu 2019. Namun, tudingan tersebut dibantah Nusron.

Nusron dan Bowo merupakan calon anggota DPR dari dapil Jawa Tengah II dari Fraksi Golkar pada kontestasi Pemilu 2019. Keduanya saat itu sama-sama sedang berjuang merebut suara di Jawa Tengah untuk kembali jadi anggota DPR.

Namun, Bowo tersandung kasus di KPK sebelum Pemilu digelar. Bowo ditetapkan sebagai tersangka penerima suap terkait kerjasama pengangkutan bidang pelayaran untuk kebutuhan distribusi pupuk menggunakan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

Selain Bowo Sidik, KPK juga menetapkan dua tersangka lainnya yakni, anak buah Bowo dari PT Inersia, Indung yang diduga juga sebagai pihak penerima suap. Sedangkan satu tersangka lainnya adalah Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti, yang diduga sebagai pihak pemberi suap.

Dalam perkara ini, Bowo Sidik diduga meminta fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah USD2 per metric ton. Diduga, Bowo Sidik telah menerima tujuh kali hadiah atau suap dari PT Humpuss.

Bowo disinyalir menerima suap karena telah membantu PT Humpuss agar kapal-kapal milik PT Humpuss digunakan kembali oleh PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) untuk m‎engangkut pendistribusian pupuk. Sebab, kerjasama antara PT HTK dan PT PILOG telah berhenti.

Bowo Sidik diduga‎ bukan hanya menerima suap dari PT Humpuss, tapi juga dari pengusaha lainnya. Total, uang suap dan gratifikasi yang diterima Bowo Sidik dari PT Humpuss maupun pihak lainnya yakni sekira Rp8 miliar. Uang tersebut dikumpulkan Bowo untuk melakukan serangan fajar di Pemilu 2019.

KPK sendiri telah menyita uang sebesar Rp8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks. 82 kardus serta dua boks tersebut berisi uang pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu dengan total Rp8 miliar yang sudah dimasukkan kedalam amplop berwarna putih.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini