nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Viral Video Napi Lapas Nusakambangan Diseret, DPR: Sanksi Hukum Bisa Dikenakan

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 06 Mei 2019 17:55 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 06 337 2052237 viral-video-napi-lapas-nusakambangan-diseret-dpr-sanksi-hukum-bisa-dikenakan-qIISlSvHTa.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Anggota Komisi III Bidang Hukum DPR RI Ahmad Sahroni menegaskan bahwa peristiwa kekerasan yang terjadi di Lapas Narkotika Nusakambangan adalah hal yang miris.

Hal tersebut didasarkan pada filosofi lembaga pemasyarakatan yang bertujuan membina para narapidana agar siap kembali ke masyarakat. Bukan sebaliknya, menjadi target penyalahgunaan wewenang atau jabatan oknum-oknum sipir di dalam lapas/rutan.

Karenanya Sahroni meminta kepolisian melakukan penyelidikan yang utuh guna mengungkap dugaan pidana yang dilakukan oknum sipir Lapas terhadap puluham narapidana narkotika yang baru dipindahkan dari Bali.

“Sanksi administrasi tidak cukup bagi mereka yang tidak manusiawi memperlakukan sesamanya seperti hewan,” tandas Sahroni, Sabtu (4/5/2019).

“Polisi wajib mengungkap keterlibatan setiap pihak yang melakukan kekerasan, memerintah, atau bahkan membiarkan peristiwa tak manusiawi itu terjadi,” imbuhnya.

Sahroni mengimbau kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) untuk bekerja secara profesional dan proporsional dalam menyikapi dinamika di lingkungan kerja. ASN kata Sahroni dididik sebagai pelayan masyarakat yang mengedepankan pendekatan sosial dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya.

(Baca Juga: Viral Video Napi Diseret, Ditjen PAS Nonaktifkan Kalapas Narkotika Nusakambangan)

Lebih jauh politisi NasDem ini menuturkan bahwa meski seorang narapidana kehilangan kemerdekaannya namun hak-haknya sebagai seorang terpidana tetap dilindungi dalam sistem pemasyarakatan Indonesia sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat (1) UU Pemasyarakatan, di mana salah satu satu hak yang dilindungi adalah diperlakukan dengan baik selama menjalani masa hukuman.

“Sipir seharusnya menunjukkan sikap sebagai pembina, bukan penguasa arogan yang bisa semena-mena terhadap napi. UU melindungi mereka dari sikap arogan seperti itu,” tandasnya.

Dalam kasus ini Kementerian Hukum dan HAM telah memutuskan menonaktifkan Kalapas Narkotika Nusakambangan berinisial HM karena kekerasan terhadap narapidana. HM dianggap terbukti melanggar Standar Operasional Prosedur karena gagal mengendalikan 13 anggotanya melakukan kekerasan kepada 26 narapidana yang akan dipindahkan dari Bali ke Lapasnusakambangan.

Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Produksi Kemenkum HAM, Junaedi mengatakan HM dimutasi ke kantor Kemenkum HAM wilayah Jawa Tengah. Pihaknya telah menunjuk Kabid Pembinaan Lapas Batu Irman Wijaya sebagai pengganti HM.

(Baca Juga: Beredar Video Kehidupan Bebas Narapidana di Lapas Nusakambangan)

"Kalapas Narkotika telah dinonaktifkan, ditarik ke kantor wilayah. Dan kemudian Kepala Kantor Wilayah menunjuk pelaksana harian yaitu pejabat Kabid Pembinaan Lapas Batu saudara Irman Wijaya untuk melaksanakan tugas sebagai Kepala di Lapas Narkotika Nusakambangan," kata Junaedi.

Selain itu, kata Junaedi, ke-13 petugas yang diduga terlibat melakukan kekerasan telah diperiksa. Menurutnya, jika para petugas ini terbukti melakukan pelanggaran maka akan dijatuhi hukuman secara administrasi.

"Dan sampai dengan saat ini ke-13 petugas ini terus didalami oleh tim. Dan apabila pelanggaran ini kategori berat, ringan, sedang sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan maka akan dijatuhi hukuman secara administrasi kepegawaian didasarkan pada PP 53 dan untuk kemudian juga pertanggungjawaban secara hukum mereka harus dimintakan dan mereka harus lakukan," tuturnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini