nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peneliti Jepang Sebut Mentawai Diintai Tsunami dan Gempa, Ini Kata BMKG

Fadel Prayoga, Jurnalis · Minggu 05 Mei 2019 07:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 05 337 2051672 peneliti-jepang-sebut-mentawai-diintai-tsunami-dan-gempa-ini-kata-bmkg-deLX2rEdcq.jpg Ilustrasi Pihak BMKG (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono meminta kepada masyarakat di sekitaran Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat untuk tidak terlalu cemas setelah peneliti dari Jepang menyebut wilayah itu sedang diintai gempa dengan magnitudo 8,9 yang bisa berakibat tsunami.

Rahmat menuturkan, hasil dari penelitian itu sebaiknya disikapi secara bijak agar selalu siap menghadapi bencana tersebut. Sebab, meski tak ada seorang pun yang melakukan riset gempa bumi hampir bisa dipastikan akan terjadi, tapi waktu dan besaran magnitudonya tidak ada yang bisa memprediksi.

"Jadi enggak perlu dibikin polemik, tapi untuk kesiagsiagaan dan kesadaran bahwa ancaman bencana itu nyata," kata Rahmat kepada Okezone, Minggu (5/5/2019).

Ia menjelaskan, alasan gempa bumi di sana hampir bisa dipastikan bakal terjadi karena kawasan itu merupakan tempat pertemuan lempeng tektonik, yaitu Indo-australia dan Eurasia.

"Kalau ada yang mengingatkan bahwa di sini nanti ada gempa karena ada pertemuan lempeng tektonik sehingga masyarakat waspada," ujarnya.

MBKG

Baca Juga: Wagub Sumbar: Ahli Jepang Sebut Gempa dan Tsunami Dahsyat Intai Mentawai

BMKG, lanjut dia, sudah memiliki sensor pendeteksi dini tsunami di sekitar perairan Sumatera Barat. Sehingga, bila terjadi gempa yang berpotensi tsunami pihaknya sudah bisa mengabarkan dalam waktu sekira 4 menit pasca gempa.

"Ya, kita sudah punya di Kepulauan Mentawai ada sensor kita juga. Jadi kalaupun ada gempa di Sumatera Barat kita sudah mampu dalam 3-4 menit sudah keluar warning tsunami," katanya.

Saat ini, kata dia, belum ada satu negara pun di dunia yang bisa memprediksi datangnya gempa di suatu daerah. Seluruh peneliti gempa hanya bisa membaca bahwa suatu wilayah rawan gempa karena memang, tapi tak mampu menentukan datangnya waktu fenomena alam tersebut.

"Namanya juga penelitian kan ketidakpastiannya juga tinggi. Siapa yang harus menjamin akan terjadi? Terlepas terjadi atau tidak kan lebih baik kita siap," kata Rahmat.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit mengatakan, Kabupaten Kepulauan Mentawai Sumatera Barat, diintai gempa dahsyat berkekuatan 8,9 skala richter (SR). Hal tersebut berdasarkan keterangan dari 5 profesor ahli gempa dari Jepang. Di mana ahli gempa tersebut telah meneliti di daerah Mentawai.

Saat ini, terang Nasrul, gempa maha dahyat tersebut masih mengendap di 20 mil Kepulauan Mentawai. Tepatnya, di Samudera Hindia di wilayah tersebut. Jika gempa maha dahsyat itu terjadi, prediksi Nasrul, akan menyebabkan gelombang tsunami setinggi 12 meter.

Gelombang tsunami itu, sampai Nasrul, akan menyapu kawasan yang ada di pesisir barat Sumatera. Termasuk, Kabupaten Mukomuko dan Kabupaten Bengkulu Utara provinsi Bengkulu. Di mana jika gelombang tsunami terjadi kecepatannya diperkirakan mencapai 827 kilometer (km).

"Lima ahli gempa dari Jepang ke Mentawai. Mereka memprediksi ada gempa yang masih mengendap. Kekuatannya 8,9 SR. Tapi, kalau gempa sering terjadi gempa besar itu tidak akan terjadi. Kita harus mempersiapkan diri," kata Nasrul, saat di posko bantuan dan penanganan bencana banjir dan longsor, badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) provinsi Bengkulu, kemarin.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini