nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peringati May Day, Buruh di Tangsel Curhat Bekerja 44 Tahun namun di PHK Tanpa Pesangon

Hambali, Jurnalis · Rabu 01 Mei 2019 14:45 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 01 337 2050234 peringati-may-day-buruh-di-tangsel-curhat-bekerja-44-tahun-namun-di-phk-tanpa-pesangon-Gk59fw3Pkn.jpg Duka Buruh Terkena PKH Tanpa Pesangon saat Peringatan May Day di Tangerang Selatan (foto: Hambali/Okezone)

TANGERANG SELATAN - May Day atau Hari Buruh Internasional diperingati setiap 1 Mei di berbagai wilayah Indonesia. Sebagian mereka ada yang bergabung ke Jakarta untuk berunjuk rasa, namun banyak pula yang memilih menggelar acara tersendiri di wilayahnya masing-masing.

Seperti yang terlihat oleh serikat buruh di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Para buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) ini menggelar panggung besar di seberang Ocean Park BSD, Lengkong Gudang, Serpong. Mereka antusias mengikuti beragam hiburan dan perlombaan yang telah disiapkan.

Peringatan May Day di Tangsel (foto: Hambali/Okezone)

Baca Juga: Dijaga Ketat Polisi, Buruh Tak Bisa Lakukan Aksi Demo di Depan Istana 

Namun, di balik keceriaan dalam perayaan May Day oleh sebagian buruh itu, rupanya masih banyak keprihatinan yang dialami sebagian buruh lainnya. Yakni sekira 530 buruh PT Sandratex yang hingga kini tak jelas nasibnya setelah terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal pada 2018 lalu.

Salah satu buruh bernama Maswiyah (63), mengaku telah bekerja selama 44 tahun di PT Sandratex. Janda lanjut usia itu merupakan salah satu buruh yang ikut terkena PHK massal. Kini Maswiyah tak bisa berbuat banyak, lantaran perusahaan terkesan acuh atas tuntutan para buruh yang meminta pesangon.

"Saya bekerja sejak tahun 1974, tapi kemarin tanggal 1 Desember 2018 di PHK semua, katanya perusahaan tutup. Masalahnya enggak ada kejelasan uang pesangon," cerita Maswiyah kepada Okezone, Rabu (1/5/2019).

Maswiyah menuturkan, saat menjadi pekerja PT Sandratex dirinya bertugas di bagian Inspecting, yaitu bagian yang memastikan hasil produksi tak terdapat cacat. Meski telah memasuki usia renta, tiada kata lelah bagi ibu beranak 1 itu melakoni pekerjaannya setiap hati.

"Saya tugasnya di bagian Inspecting, melipat bahan juga, itu setiap hari. Biar usia sudah tua, tapi saya tetap bertahan kerja di sana walaupun gajinya pas-pasan, enggak menyangka bakal kena PHK. Saya berharap perusahaan mempertimbangkan juga pengabdian kita puluhan tahun bekerja," kenangnya.

Duka Buruh Terkena PHK Tanpa Pesangon saat Peringatan May Day di Tangsel (foto: Hambali/Okezone)	 

Penelusuran kepada buruh PT Sandratex yang terkena PHK lainnya diketahui, bahwa kenyataan pahit turut dirasakan oleh Eyang Uti (62). Pengabdiannya bekerja selama sekira 38 tahun, harus berakhir tragis. Dia terkena PHK dengan uang pesangon seadanya tanpa mengikuti regulasi yang ada.

"Saya di bagian gudang, sudah kerja 38 tahun di sana. Gajinya enggak seberapa, tapi yang penting bisa buat makan sehari-hari, bayar kontrakan, sama buat kebutuhan lain. Makanya kalau sampai di PHK begini, saya berharap perusahaan memperhatikan juga kondisi kita ke depannya, paling enggak hak pesangon kita dibayarkan sesuai aturan," ujar Eyang Uti.

Para buruh menuntut, manajemen PT Sandratex membayarkan pesangon sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 tahun 1981, Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 2015, Permen Nomor 04/MEN/1994, dan Permen Nomor 6 tahun 2016.

Sementara, pesangon yang ditawarkan manajemen hanya pada kisaran angka Rp35 juta. Padahal menurut UU, jika produksi perusahaan ditutup semua, maka buruh mendapat 2 kali PMTK (Peraturan Menteri Tenaga Kerja), atau nilainya sekira Rp114 juta per orang.

Jika dipahami lebih lanjut, istilah 1 PMTK dan 2 PMTK mengacu pada besaran pembayaran hak-hak yang harus diterima oleh buruh dalam proses PHK. Istilah 1 PMTK, diartikan sebagai uang pesangon 1 kali sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (2), lalu uang penghargaan masa kerja 1 kali sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (3), dan pemberian uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4).

Sedangkan 2 PMTK pengertiannya adalah, uang pesangon 2 kali sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (2), lalu uang penghargaan masa kerja 1 kali ketentuan Pasal 156 ayat (3), dan terakhir uang penggantian hak sesuai Pasal 156 ayat (4). Berdasarkan acuan itulah, buruh PT Sandratex yang terkena PHK mendesak agar manajemen dan pemilik perusahaan membayar pesangon berdasarkan ketentuan tersebut.

Baca Juga: Hadiri May Day KSPI, Prabowo Sebut Buruh Tulang Punggung Ekonomi Nasional 

Ketua SPSI Kota Tangsel, Vanny O Sompie, mengatakan, pihaknya terus melakukan pendampingan kepada mantan buruh PT Sandratex yang menuntut haknya kepada manajemen perusahaan. Namun menurut dia, dari total 530 buruh yang terkena PHK, sebagiannya telah bersepakat atas hasil negosiasi dengan perusahaan.

"Di mana Sandratex karyawannya itu adalah bagian dari anggota SPSI. Sekarang ini lagi berproses terus, saya dapat informasi sudah ada sebagian bersepakat dengan perusahaan dan sudah merealisasikan kompensasi yang diberikan perusahaan. Walaupun masih ada sebagian yang masih berproses," ucap Sompie.

Menurut Sompie, status perusahaan PT Sandratex memang sangat tak memungkinkan untuk terus operasional. Mengingat produksi yang terus merosot, sedangkan beban pengeluaran perusahaan tetap sama. Sehingga untuk menentukan status itu, tengah dilakukan audit secara profesional dan transparan.

"Dari perusahaan, kondisi perusahaannya katanya menurun sejak lama, ada ketidakmampuan, sampai terakhir dia drop out. Perusahaan tidak mempunyai kemampuan maksimal untuk membayar sebagaimana yang diminta para pekerja. Saat ini ada proses audit, saya dapat infonya seperti itu," tutur dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini