nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penjelasan Mahfud MD soal Orang Aceh, Sumbar, Sulsel dan Jabar Garis Keras

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Rabu 01 Mei 2019 12:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 01 337 2050185 penjelasan-mahfud-md-soal-orang-aceh-sumbar-sulsel-dan-jabar-garis-keras-O1eEFQljlq.jpg Mahfud MD (Okezone)

JAKARTA – Mahfud MD mengklarifikasi sebutan garis keras terhadap masyarakat di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan Jawa Barat. Mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini menegaskan garis keras dimaksudnya itu bukan dalam konteks radikal atau ekstrem.

Mahfud MD mengklarifikasikan langsung ucapannya saat ditemui oleh mahasiswa-mahasiswa asal Aceh di Yogyakarta. Para mahasiswa menemui Mahfud untuk bertabayun atau konfirmasi mengecek kebenaran tentang pernyataan guru besar ilmu hukum itu.

“Kita pengen dengar langsung dari Prof Mahfud, apa sebenarnya makna garis keras yang beliau sebutkan itu, karena kita sebagai Muslim harus bertabayun langsung ke orangnya, jangan sampai kita jadi korban hoaks,” kata Muhajir, mahasiswa Aceh di Yogyakarta dalam video yang beredar luas di media sosial dan dipantau Okezone, Rabu (1/5/2019).

Selain memberi klarifikasi, Mahfud MD juga menceritakan kedekatannya dengan orang-orang Aceh, termasuk dengan mahasiswa-mahasiswa asal bumi Serambi Makkah yang kuliah di Yogyakarta yang sudah menganggapnya sebagai orangtua sekaligus guru sekaligus.

“Terima kasih saudara Muhajir dan adik-adik mahasiswa dari Aceh yang di Yogya yang selama ini selalu berkomunikasi dengan baik dengan saya. Saya sudah mengklarifikasi sebenarnya, tapi langsung melalui adik-adik yang di Yogya ini,” kata Mahfud.

Mahfud yang kini menjadi anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) lalu menjelaskan maksud ucapannya soal garis keras.

“Ketika saya mengatakan orang Aceh, orang Sumatera Barat, orang Sulawesi Selatan, orang Jawa Barat, itu penganut garis keras, artinya garis keras itu dalam arti bahwa mereka tidak bisa didikte, bukan radikal, bukan ekstrem,” kata Mahfud.

“Mereka punya pendirian yang tidak bisa dibayar dengan apapun, sehingga saya katakan orang Aceh dan yang lain-lain saya sebut itu adalah orang garis keras, seperti saya orang Madura juga garis keras,” sambunya.

Mahfud menuturkan pengalamannya saat hendak berkampanye di kampung halamanya di Madura, Jawa Timur.

“Saya pernah mau kampanye ke Madura, mereka enggak mau. Saya pokoknya tetap mau pilih Prabowo karena saya tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun, itulah garis keras,” ujarnya.

Mahfud menegaskan soal frasa garis keras yang disebutkannya sebenarnya tidak ada masalah. Dia mengatakan selama ini sama sekali tidak bermasalah dengan orang Aceh, bahkan beberapa tokoh Aceh jadi sahabatnya.

Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh (Salman Mardira/Okezone)

Mahfud menyebut nama Muzakir Manaf, mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pernah menjadi wakil gubernur Aceh.

“Saya sering ke Aceh, saya juga sering ketemu beberapa kali satu mobil dengan Muzakir Manaf, itu semua teman-teman saya yang baik, dan saya tidak pernah mengatakan mereka itu sebagai orang radikal.”

Mahfud mengatakan dirinya juga orang penganut garis keras.

“Garis keras seperti saya, saya ini garis keras di bidang membela KPK dalam memberantas korupsi, ndak ada kompromi dengan saya. Sama orang Aceh punya prinsip Anda kampanye pun apa, kalau saya punya pendirian ini ndak bisa,” ujarnya.

“Nah itulah sebabnya kemudian saya usul ke pak Jokowi yang berdasarkan quick count menang dan mungkin terus menang, tolong ini dirangkul orang-orang garis keras ini diberi pelayanan bagaimana Islam itu dikembangkan di Aceh dengan pandangan masyarakat Aceh, di Sumatera Barat, di Jawa Barat dan sebagainya, agar pak Jokowi tidak dituduh anti-Islam,” tutur Mahfud.

Islam, menurutnya, selalu menyediakan bahan-bahan dan materi untuk perkembangan masyarakat.

“Salam untuk saudara-sudara di Aceh, kita saudara se-Muslim, saudara se-Indonesia. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” pungkas Mahfud.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini